toto africa
Kostum yang aneh. Semua foto milik penulis.
Budaya

Aku Mendatangi Bar yang Cuma Memainkan Lagu 'Africa'-nya Toto Semalam Suntuk

Pengunjung bar merayakan kebodohan, menguji seberapa kuat mental mereka menyanyikan lagu itu terus-terusan.
03 Februari 2020, 11:20am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Spanyol.

Aku sangat menjunjung tinggi hal-hal bodoh yang enggak biasa saja, contohnya kayak tantangan minum konyol yang hampir membakar kepala sendiri, atau bikin video meme sampai orang gegar otak.

Nah, kebodohan satu ini sudah di atas rata-rata. Suatu Kamis malam di bulan Desember, puluhan orang menghabiskan waktu bersama mendengarkan dan menyanyikan satu lagu berulang kali di Madrid. Lagu yang diputar juga enggak sembarangan, yaitu “Africa”-nya Toto. Sebagian dari kita mungkin sudah enek habis mendengarkan lagu ini, saking seringnya dimainkan di mana-mana. Tapi hal ini enggak berlaku bagi mereka.

Aku harus datang ke sana, dan memahami apa sebenarnya yang menarik dari pesta ini. Apakah satu lagu yang diputar terus-menerus bisa membuatku gila?

Dua pengunjung khusyuk meneriakkan tiap bait liriknya.

Kalau boleh jujur, enggak ada satupun dari kami yang tahu berapa kali lagunya dimainkan malam itu. Pedro selaku panitia mencoba mencatatnya, tapi putus asa setelah hitungan ke-36. Tapi balik lagi, dia melakukan ini bukan karena jumlah putarnya.

“2018 lalu, aku merasa lagunya selalu diputar di mana saja aku berada,” Pedro memberitahuku. “Aku pikir sudah waktunya melakukan hal kayak gini. Sekarang tahun kedua party-nya diadakan.”

Benar saja, “Africa” dimainkan nonstop tanpa selingan lagu lain. Memasuki tengah malam, barnya penuh sesak sampai-sampai kami enggak bisa bergerak dan mengantre untuk gantian nyanyi di panggung. Setiap lagunya habis, pengunjung akan meneriakkan “Lagi! Lagi! Lagi!” seolah-olah lagunya bakalan diganti yang lain. Tapi tetap saja, kami menjerit heboh ketika lagunya dimulai, meskipun kami sudah mendengarnya puluhan atau ratusan kali.

Pengunjung merasakan efek enggak menyenangkan akibat berulang kali mendengarkan lagu yang itu-itu lagi. Kami lupa sudah berapa lama di bar itu. Seorang laki-laki bilang mungkin dia baru 45 menit atau sudah enam jam di sana.

“Tahun lalu, beberapa hari setelah party, banyak yang bilang terus terngiang-ngiang lagunya,” kata Pedro. “Dering telepon orang dikira ‘Africa’. Suara konstruksi juga kedengaran seperti ‘Africa’. Lagu ini jelas memengaruhi kesehatan mental kami — Tapi kami happy kok, jadi bodo amat.”

Penulis bersama dua temannya.

Malam semakin larut, pengunjung juga mulai kelelahan dan merasakan imbasnya.

“Aku sudah enggak kuat,” kata lelaki yang duduk kecapaian di pojokan sendirian. “Kepalaku rasanya mau pecah. Kepingin pulang saja sekarang.” Temanku Celia juga sudah bete. “Di daerahku, kami memecahkan Rekor Guinness dengan gin dan tonik terbesar di dunia — mengalahkan Snoop Dogg,” ujarnya. “Ini mah enggak ada apa-apanya.”

“Africa” terakhir kali dimainkan pukul 2.45 pagi. Sisa pengunjung yang masih bertahan mengerumuni panggung kecil. Baju dan suara kami sudah raib. Udara di luar dingin, dan alarm kami bakal bunyi beberapa jam lagi — tapi kami tetap semangat menyanyikan “Africa” seakan lagunya baru pertama kali diputar.

Follow Patri Di Filippo di Twitter.