Vice News Tonight

Makin Marak Klaim Pengobatan Virus Corona yang Belum Terbukti Ilmiah

Kemunculan “obat herbal” COVID-19 bukanlah hal aneh, mengingat sudah dari dulu pengobatan alternatif dipercaya ampuh menyembuhkan segala penyakit.
16 Juni 2020, 5:08am

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yakin hidroksiklorokuin mampu mencegah penularan virus corona, walau keefektivitasannya belum teruji. Sayang sekali, Trump bukan satu-satunya kepala negara yang mempromosikan pengobatan yang belum terbukti secara medis.

Pada akhir April, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina tampak meminum obat herbal yang digadang-gadang bisa mengobati Covid-19. Diberi nama Covid-Organics, ramuan ini terbuat dari tanaman yang digunakan untuk mengobati malaria. “Obat herbal” tersebut belum diuji klinis, dan menurut pembantu presiden, dikonsumsi tak sampai 20 orang. Meskipun demikian, Rajoelina mengklaim efeknya akan terasa tujuh hari kemudian.

Semenjak pandemi corona melanda, segala jenis pengobatan alami semakin menjamur di seluruh dunia. Uskup Agung di Kamerun mengaku telah menemukan obat herbal mujarab. Semua orang yang meminumnya dikatakan sembuh dari penyakit, mendorong pemerintah Kamerun menginvestigasi kebenarannya. Postingan yang mengklaim obat tradisional Sri Lanka mujarab menyembuhkan Covid-19 sudah berhasil dibantah — satu-satunya khasiat yang dimiliki yaitu bisa menurunkan demam.

“Pengobatan alternatif sudah ada dari dulu,” terang sejarawan medis Caroline Rance. “Tapi semakin sering muncul sekarang karena semua orang menghadapi satu masalah besar ini. Kalian mungkin sering melihat iklan obat herbal bisa menyembuhkan macam-macam, cuma sekarang fokusnya ke Covid.”

Vaksin COVID-19 mungkin baru tersedia beberapa tahun lagi, dan pasti menciptakan segudang berita palsu ketika akhirnya keluar. Sampai saat itu terjadi, pengobatan tradisional corona akan terus bermunculan. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Apakah akan semudah itu memercayai klaimnya?

Tonton dokumenter VICE soal pengobatan corona yang problematis di tautan awal artikel

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News