Seperti Inilah Rasanya Membesarkan Anak Dengan Gender Netral

"Setiap kali orang tahu kita hamil, pasti mereka langsung tanya anaknya laki-laki atau perempuan. Kenapa sih terobsesi banget pengin tahu jenis kelamin anak kita?"

|
04 September 2018, 12:00pm

Dani dan Mathilda.  Foto milik Dani

Saya sempat bertemu dengan Miranda, aktivis LGBT dan ibu satu anak, ketika sedang di Stockholm. Saya sengaja pakai kata "anak" di artikel ini, karena Miranda memilih untuk membesarkan anaknya tanpa memedulikan jenis kelamin mereka. Dia ingin anaknya hidup bebas dari kungkungan stereotip gender yang berlaku di masyarakat selama ini.

Netral gender bukan hal aneh di Swedia. Orang-orang di sana sudah terbiasa dengan ini, mengingat pemerintah Swedia membagikan buku We Should All Be Feminists ciptaan Chimamanda Ngozi Adichie kepada setiap anak yang sudah 16 tahun. Belum lagi, para ayah di Swedia dikasih jatah cuti 90 hari setiap kali anaknya lahir. Jadi tidak heran kalau Swedia kemudian mendirikan Egalia, playgroup pertama dengan konsep gender-neutral, di Stockholm pada 2010. Sekolah ini bahkan diberi suntikan dana oleh pemerintahan kota.

Akan tetapi, membesarkan anak dengan cara netral gender tidak hanya terjadi di Swedia saja. Beck Laxton dan Keiran Cooper, misalnya. Sepasang orang tua asal Inggris ini terkenal karena menerapkan pendekatan gender netral kepada anak mereka. Gaya mengasuhnya sering diliput media. Mereka juga pernah menulis blog tentang anaknya. Saat saya menghubunginya, pasangan ini menunjukkan kalau mereka tidak mau menjadi perhatian media. Dalam blognya, Beck Laxton menulis kalau mereka “menjadi bahan pemberitaan setelah diwawancarai oleh temannya teman yang bekerja di Cambridge News” pada Januari 2012.

Saya menemukan grup Facebook bagi orang tua yang ingin membesarkan anaknya tanpa stereotip gender. Di sana, saya berkenalan dengan Dani. Dia bersedia untuk menceritakan pengalamannya. Dani tinggal di Dartford, Kent, dan mengasuh anaknya di rumah. Jenis kelamin anaknya diidentifikasi sebagai agender. Saya berbincang dengan Dani dan Miranda, serta Lotta Rajalin yang mendirikan playgroup Egalia, untuk mengetahui bagaimana mereka mengasuh anak tanpa mementingkan jenis kelamin.

Miranda dan bayinya. Foto milik Miranda

Alasan Miranda dan Dani membesarkan anaknya tanpa batasan gender terdengar sangat wajar. “Pandangan saya terhadap gender sudah terbentuk sejak lahir, jadi saya hanya meneruskan apa yang sudah saya lakukan dan yakini selama ini,” terang Dani. Miranda sendiri melakukannya karena dia yakin kalau hidup kita selama ini terbatas oleh ekspektasi dan peran gender.

Menurut Dani, konsep gender netral berarti membebaskan anak untuk memilih dan menjadi apa saja yang mereka mau. Mereka bebas memilih warna favorit, tanpa peduli itu ‘warna perempuan atau laki-laki.’ “Kami suka semua warna,” kata Dani. “Dunia kita sangat penuh warna.” Mereka berusaha menggabungkan pakaian dan mainan yang cocok untuk kedua jenis kelamin. “Saya tidak masalah kalau anak ingin pakai baju pink atau kaus berlogo Superman,” tutur Miranda.

Dani menceritakan kalau orang-orang mulai menganggap Mathilda sebagai anak laki-laki karena pakai kaus biru. Dani dan Mathilda sama sekali tidak mempermasalahkan ini.

Miranda dan Dani mengatakan kalau mereka membesarkan anak layaknya masa kecil mereka dulu. Ibu Miranda agak tomboi. "Ibuku khawatir dia tidak bisa melakukan hal-hal ‘cewek’ bersamaku, jadi ibu sering mengajakku les balet dan berkuda. Saya tidak suka melakukannya."

Ibu Dani berbeda dari Miranda. “Ibu suka warna merah, jadi dia sering memakaikanku baju merah. Ibu enggak setuju waktu saya potong rambut pendek, tapi hal ini tidak menjadi masalah karena saya besar di Jerman Timur pada 1980-an. Dulu orang tidak terlalu mempermasalahkannya. Sangat beda dengan orang Inggris akhir-akhir ini,” jelasnya.

Mereka memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin anaknya ketika sedang hamil. “Kalau saya perhatikan, setiap kali orang tahu kita hamil, pasti mereka langsung tanya anaknya laki-laki atau perempuan. Kenapa sih orang pengin banget tahu jenis kelamin anak kita?” kata Miranda.

Miranda tidak menggunakan kata ganti han [untuk anak laki-laki] atau hon [untuk anak perempuan]. Dia lebih memilih hen yang mulai diresmikan di Swedia sejak tahun lalu. Dia juga tidak menggunakan pronomina tradisional saat berdongeng untuk anaknya. “Kebanyakan cerita anak memasukkan stereotip gender, dan saya ingin anak mengingat tokoh dan sifatnya tanpa mengaitkannya dengan jenis kelamin.” Miranda sendiri memilih nama yang uniseks untuk anaknya, agar dia tidak mendasarkan perilakunya sesuai jenis kelamin. “Saya hanya ingin terus terang terhadap apa yang saya ketahui dan tidak ketahui. Anakku masih sangat kecil, jadi bagaimana kami tahu apa gendernya?” serunya.

Banyak orang yang mengkritik gaya mengasuh ini. Mereka beranggapan bahwa orang tua yang menerapkan netral gender telah mendoktrin anaknya, karena selama ini kita bisa membedakan laki-laki dengan perempuan. Perbedaannya bahkan sudah terlihat sebelum lahir. Namun, bagi Miranda, dia melakukannya untuk membebaskan anak dari doktrin peran gender yang ada selama ini. “Menganggap peran gender terbentuk secara alami sangatlah konyol. Semua terbentuk karena budaya. Laki-laki dan perempuan selalu direpresentasikan berbeda, dan saya cuma ingin anak bebas dari stereotip tersebut. Orang-orang bilang saya telah mendoktrin anak, padahal selama ini mereka sendiri yang melakukan itu.”

Lotta Rajalin. Foto milik Gustav Mårtensson

Lotta Rajalin, direktur dan penggagas Egalia, menyampaikan bahwa dia menerima banyak ujaran kebencian dan ancaman saat playgroup ini dibuka. Saking banyaknya, dia berkata: “Ada daftar antrian panjang.”

Saya bertanya apakah dia pikir Egalia mempersiapkan anak-anak untuk dunia yang sebenarnya, dan dia bilang ya. “Dunia ini berubah begitu cepat: Ada banyak keluarga non-tradisional, dan peran-peran gender berubah. Kami mempersiapkan mereka untuk itu.” Dia menambahkan bahwa banyak orang berpikir tidak ada mainan mobil-mobilan di playgroup ini. “Lho, kenapa disangka tidak ada mobil-mobilan di sini? Kita tidak akan membatasi siapapun. Kami akan menemukan cara bermain dengan mobil-mobilan yang bisa dinikmati semua orang.”

Meski tinggal di Stockholm, anak Miranda tidak bersekolah di Egalia. “Saya rasa orang-orang yang menyekolahkan anak-anaknya di Egalia perlu bantuan membesarkan anak mereka tanpa batasan-batasan gender. Saya tidak butuh. Saya dan anak hidup di sekitar orang-orang yang menganggap diri mereka queer. Selain itu, playgroup ini berlokasi di Södermalm—sebuah kawasan orang kulit putih kaya. Saya tidak mau anak saya tumbuh di lingkungan yang mayoritasnya orang kulit putih.” Dia juga tidak meminta sekolah anaknya untuk memperlakukan anaknya tanpa batasan gender: “Saya tidak utopis, saya hanya mau menawarkan satu lingkungan di mana anak saya bisa terbebas dari ekspektasi dan peran gender.”

Reaksi terhadap filosofi pengasuhan ini beragam—terbelah 50:50, menurut Dani: “Ada orang yang setuju dengan saya, tapi ada juga orang yang mengabaikan saya dan tetap membelikan Mathilda barang-barang 'cewek.'"

Di sisi lain, Miranda, merasa dia telah menginspirasi sebagian orang tua: “Mereka mulai mempertanyakan mengapa mereka perlu tahu jenis kelamin bayi mereka.” Menurutnya, generasi tua lah yang kesulitan menerima gaya hidupnya. "Saat orang tua ingin memuji seorang anak, biasanya pujian itu berkaitan dengan stereotip gender. Mereka biasanya bilang, ‘Wah anak ayah kuat ya,’ atau 'Putri ibu cantik kayak princess.'"

Keluarganya menghormati keputusannya dan mencoba menghindari berbicara demikian kepada anaknya. "Dunia ini sedang berubah dan beradaptasi pada konsep-konsep gender baru," ujarnya. "Tunggu waktunya saja sampai orang akan menganggap anak dengan gender netral sebagai hal yang lazim."