urusan percintaan

Inilah Pengalamanku Mengajari Mamaku yang Single Parent Cara Pakai Tinder

Mama segera jadi korban catfishing. Sisi baiknya, dia jadi punya tato baru berkat kenalan Tinder.
15 Agustus 2020, 8:36am
Cara mengajari orang tua pakai Tinder untuk kencan
Ibu penulis yang sedang mainan Tinder. Semua foto oleh penulis

Mamaku liburan tiga bulan di Italia sebelum pandemi corona melanda. Sayangnya, mama menghabiskan sebagian besar masa liburannya menonton film komedi romantis di kamar doang. Entah apa alasannya, tapi ibu jalan-jalan sendirian waktu itu. Mama melajang sejak cerai dengan ayah 15 tahun lalu. D

ia sering bilang kepengin punya suami setia yang siap menemaninya hingga akhir hayat. Dia kadang berharap bisa bertemu lelaki yang mau membuatkannya kopi pagi sekali-sekali. Tapi, sampai sosok ideal itu didapat, dia mengaku lebih nyaman jadi single parent saja.

Aku sedih melihat mamaku selalu sendirian seperti itu; menghibur dirinya dengan nonton film dan main Facebook. Aku akhirnya tergerak menginstal Tinder di ponselnya, dan membuatkan profil Tinder untuknya. Lelaki pertama yang match dengan mama mengaku sudah beristri. Mama langsung meng-unmatch lelaki itu, merasa bingung kenapa ada cowok masih pakai aplikasi kencan padahal sudah menikah.

Setelahnya mama kenalan dengan Dan*, lelaki berusia 40-an yang badannya penuh tato. Dia sudah menikah ternyata, tapi katanya enggak masalah karena masih bisa berteman. Aku senewen ketika mereka memutuskan untuk ketemuan di KFC dekat rumah. Aku minta nomor HP Dan buat jaga-jaga, dan menyuruh mama SMS-an denganku untuk memastikan dia enggak ketemu orang jahat. Aku panik abis saat mama pulang tiga jam kemudian.

Beberapa hari kemudian, mama main ke rumah Dan untuk ditato. Setelah semua yang dilaluinya, mama berjanji tahun ini akan bikin tato yang merefleksikan kemenangannya melewati masa-masa sulit. Aku geli saat mendengar mama pengin punya tato phoenix, tapi yah… seenggaknya mama bahagia.

Tato phoenix di punggung ibu

Tato baru ibu yang dibuatkan oleh kenalan Tinder

Mama tetap temenan sama Dan sementara dia mencari lelaki lain di Tinder. Suatu hari, mama match dengan orang Norwegia bernama Arvid. Lelaki bermata hijau ini mengaku istrinya meninggal lima tahun lalu. Dia tinggal bersama putrinya di London, tapi sedang kerja sebagai teknisi pipa bawah laut di Turki. Dia karyawan kontrak Gazprom, katanya. Duda ini juga mencari belahan jiwanya.

Tak butuh lama buat mereka untuk menyatakan cinta. Mereka janjian untuk bertemu di negara kami, Rumania, begitu tugasnya selesai. Dia bahkan mengirim surat kontrak sebagai bukti.

Aku menyadari kontraknya palsu dan banyak yang salah ketik. Nama Arvid seperti ditempel. Enggak ada tanda tangan di surat itu. Lebih mengkhawatirkannya lagi, nama “Arvid Kare” sama sekali enggak muncul di Google, Facebook dan Twitter.

surat kontrak palsu Arvid

Surat kontrak palsu Arvid

Ketika dia membujuk mama untuk menghapus Tinder, aku mengaku merasa ada yang aneh dengan Arvid. Aku khawatir dia akan menguras uang mamaku, atau malah memaksanya menjadi pekerja seks. “Memangnya masih ada yang mau ngeseks sama ibu-ibu?” tanyanya.

Kekhawatiranku ini ada alasannya. Sebagaimana dilaporkan Komisi Eropa pada 2018, Rumania memiliki kasus perdagangan manusia terburuk di Uni Eropa. Hasil analisis Badan Nasional Anti-Perdagangan Manusia Rumania menunjukkan korban perdagangan manusia di Rumania naik 29 persen menjadi 698 sepanjang 2018-2019. Setidaknya hampir 200 kasus dilakukan oleh orang asing. Sebanyak 74 persen dari kasus perdagangan manusia, korbannya dieksploitasi secara seksual. Korbannya sering kali dibujuk oleh orang yang baru dikenal. Hanya empat persen yang terjadi secara online.

Mama akhirnya curiga juga. Aku memaksa mama buat minta foto paspor Arvid, yang dikirim keesokan harinya. Firasatku benar. Pola latar belakang paspornya berantakan, dan nomor paspor yang ada di bagian atas berbeda dengan yang di bawah.

Paspor palsu "Arvid"

Aku akhirnya mencari dua foto Arvid dengan bantuan PimEyes, mesin pencari gambar terbalik dan pengenalan wajah. Hasil teratas mengarahkanku ke akun Instagram bernama Paul, lelaki gay yang tinggal di Inggris. Aku menemukan semua foto yang dikirim Arvid di profil Instagram itu. “Putri” Arvid yang sebenarnya adalah anaknya teman Paul. Mama kecewa berat saat aku memberi tahu kebenarannya.

Dua hari kemudian, mama menelepon “Arvid” sambil menangis. Aku minta ikutan, dan lelaki itu mengaku nama aslinya adalah Kelvin. Dia lelaki 28 tahun dari Nigeria. “Aku mau minta maaf sudah pakai identitas palsu. Enggak ada maksud untuk menjahati mamamu sama sekali,” katanya.

Hasil pencarian foto "Arvid" di PimEyes

Hasil pencarian foto "Arvid" di PimEyes

Menurutnya, dia berpura-pura jadi Paul karena takut mama akan menolaknya jika tahu di lelaki kulit hitam. “Aku yakin mamamu enggak akan tertarik kalau pakai foto asli,” lanjutnya, sebelum menyetujui untuk video call lewat Skype. Dia bekerja sebagai sales mobil, dan berencana mengatakan sesungguhnya ketika bertemu mama.

Mama menanggapinya santai. “Aku enggak peduli warna kulitmu apa, tapi bukankah aku lebih cocok jadi ibumu?” dan Kelvin meminta maaf lagi.

Kelvin saat Skype-an

Kelvin saat Skype-an dengan kami.

Curiga, aku menanyakan alasan Kelvin mencari perempuan paruh baya di Rumania. Reputasi Nigeria tercoreng oleh kasus penipuan internet yang lazim terjadi di sana, terutama penipuan bermodus mencari pasangan. Setelah berhasil mencuri hati korban, oknum akan memeras uang mereka.

Organized Crime and Corruption Project melansir pada September 2019, otoritas Nigeria dan AS menangkap hampir 300 orang yang terlibat dalam penipuan berkedok percintaan dan undian. Para pelakunya tersebar di beberapa negara. Totalnya ada 167 orang Nigeria yang ditangkap dalam razia.

“Dengar-dengar Rumania negara yang indah,” tutur Kelvin. Muak dengan alasan basi itu, aku mengakhiri video call-nya. Mama tertawa, dan bilang dia menangis karena terharu mendengar permintaan maaf Kelvin. Aku lega mama enggak jadi korban penculikan.

Psikolog Cezar Laurențiu Cioc pernah menangani korban dan penipu asmara. Dia menjelaskan ada empat teknik yang biasa dilancarkan penipu untuk menguras uang.

Pertama, mereka mengaku sebagai tentara Amerika kaya yang ingin bagi-bagi duit. Mereka butuh beberapa ribu dolar lagi untuk menarik uangnya, dan korban harus mentransfernya. Ada juga yang menggunakan identitas palsu untuk merampas uang dan barang berharga korban. Cara ketiga dikenal sebagai “Loverboy”.

Oknum menghujani “perempuan desa” dengan janji manis kehidupan yang lebih baik di negara Barat. Padahal, mereka berencana menjual korban. Metode terakhir paling sering dilakukan. Penipu memanfaatkan rasa iba korban dengan cerita sedih untuk menguras uangnya. Mereka berpura-pura habis kecelakaan.

Bisa jadi Kelvin berniat menguras uang perempuan kesepian, atau mungkin dia hanya ingin mengerjai mamaku. Apapun alasannya, pengalaman mama bisa menjadi pelajaran bagi kalian semua untuk lebih berhati-hati ketika kenalan sama orang di internet.

Perasaan mama kini sudah membaik. Aplikasi Tinder juga sudah di-uninstall dari HP-nya.

*Nama asli cowok-cowok yang match sama mamaku telah diubah

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Rumania.