Soundcheck

Dipha Barus, Tashoora, SIR: Musik Terbaik Sebulan Terakhir Buat Menemani Masa Karantina

Kolom VICE 'Soundcheck' hadir kembali merangkum deretan musik Indonesia terbaik sepanjang Maret 2020. Tak ada alasan berhenti menikmati musik keren sekalipun kita di rumah saja.
07 April 2020, 9:34am
Dipha Barus, Tashoora, Syarikat Idola Remaja Musik Indonesia Terbaik Maret 2020
Kolase oleh VICE. Screenshot dari YouTube Tashoora, Dipha Barus, dan Syarikat Idola Remaja.

Maret kemarin adalah bulan yang sangat berat. Seumur-umur hidup, kayaknya enggak pernah ada satu bulan yang terasa sangat melelahkan dan panjang. Dampak dari penyebaran virus corona sangat terasa hampir di semua sektor industri, termasuk musik. Masih berapa lama lagi mimpi buruk ini akan berlangsung, masih sulit ditebak. Semoga teman-teman di luar sana baik-baik saja, terutama yang rezekinya secara langsung terpengaruh.

Untungnya, selama bulan Maret produktivitas teman-teman musisi tidak terganggu. Justru, bulan Maret mencatat rekor jumlah single baru yang masuk ke inbox redaksi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Alhasil, kami semakin kesulitan memilih karena banyak sekali yang bagus lebih dari 30 hari ke belakang (simak saja single baru Diskoria atau Rollfast yang mantap sebagai buktinya).

Semoga ini terus menjadi tren ke depannya, terutama di masa-masa sulit seperti ini di mana musik bisa menawarkan sedikit hiburan bagi kita semua. Sebab, tak ada alasan berhenti menikmati musik keren sekalipun kita di rumah saja.

"Soundcheck" adalah rubrik bulanan yang menghadirkan rekomendasi pilihan musik baru tanah air dari yang dirilis sebulan sebelumnya. Kami berharap rubrik ini bisa membantumu menemukan musisi lokal favorit baru.

Oh iya, sekadar pengingat: VICE menyusun rekomendasi ini, dengan bias selera personal awak redaksi kami, karena satu keyakinan bahwa manusia lebih tulus dibanding algoritma. Benar, media tidak mungkin mempengaruhi "selera" pendengar musik, mengingat kecerdasan buatan layanan streaming lebih efektif memetakan seleramu.

Kami justru berangkat dari semangat untuk menantang zona nyaman semua orang, termasuk diri kami sendiri. Zona yang mungkin sekilas bukan selera alamiah kalian. Awak redaksi menyelami puluhan single baru tiap bulan, menemukan teritori asing yang semoga penuh semangat artistik mengasyikkan di sana.

Sebab kami tetap meyakini upaya berbagi musik secara organik lebih menyenangkan dan proses kurasi manusia tetap memiliki elemen yang tidak (atau belum?) bisa direplika oleh kecerdasan buatan. Toh di akhir tahun membaca daftar pilihan album terbaik sebuah publikasi atau individu tetap lebih punya bobot dibanding sekadar melihat daftar single terpopuler aplikasi musik manapun.

Tentu pilihan yang masuk ke daftar ini subyektif. Tapi justru itu poinnya. Kami bukan robot, begitu pula kalian, para pecinta musik di luar sana. Jaga kesehatan dan untuk sementara, jangan keluar kalau tak ada keperluan penting ya. Semoga rekomendasi kami dapat menemani kalian bertahan di rumah saja.

SUNTIKAN DOPAMIN

Goodnight Electric - Dopamin

Anggota Rahasia The Jadugar

Masih menampilkan karakter sound synth-pop 80an, band kawakan Goodnight Electric menunjukkan sisi yang lebih moody dan sendu di single terbaru mereka, "Dopamin". Memamerkan line-up baru—di antaranya Vincent Rompies pada bass—Henry Foundation dkk bernyanyi tentang rasa sakit yang ditimbulkan dari kerinduan yang mendalam. Bagi kamu yang kangen dengan The Cure dan ingin joget-joget galau di kamar selama pandemi, "Dopamin" bisa menjadi soundtrack yang amat pas.

AJAKAN UNTUK BANGKIT

Tashoora - Sintas

"Sintas" adalah gagasan terbaru band pop alternatif Yogyakarta, Tashoora, yang kini menetap di Jakarta. Karakter sound-nya sinematik dan menggugah. Single ini merupakan soundtrack resmi dari The Invisible Heroes, seri dokumenter Narasi TV membahas orang-orang yang termarjinalkan atau penyintas konflik dalam masyarakat. Ketika kita mendengar Tashoora menyanyikan bagian akhir lagu "Nyalakan apinya // gelap ini hanya sementara", rasanya tidak sulit meresapi lirik tersebut dan membawanya masuk ke dalam perjuangan atau pergumulan hidup kita masing-masing. Lagu ini menjaga semangat para pendengarnya untuk berjuang melewati pandemi. Kita masih bisa bangkit!

SEKALI BERARTI SESUDAH ITU ABADI

Bars of Death - Bait Kematian

Lagu ini adalah mantra. Eksperimentasi rima. Sumbangan terhadap dinamika bahasa Indonesia. Dan tentu saja, sebuah komposisi lirik dan beat hip hop yang dapat menjadi soundtrack akhir dunia. Morgue Vanguard dan Sarkasz, duet MC asal Bandung yang amat disegani kancah lokal, sebetulnya cukup menggosok nostalgia masa lalu. Apalagi yang mau dibuktikan dari proyek Bars of Death? Mereka sah-sah saja membuat grup ini sekadar pleidoi untuk reuni tanpa harus memakai bendera Homicide yang kadung almarhum. Tapi tidak. "Bait Kematian" (dan track-track lain dari album Morbid Funk) membuktikan mereka masih bisa menawarkan gagasan baru: akrobat rima ("Wallachia-kan seluruh Jazirah dengan prasasti Hawiyah"), boombab maut yang menggebuk gendang telingamu bagai ayunan pentung polisi saat mengganyang demonstran, ditemani sarkasme, lelucon, serta otokritik saat menganalisis situasi agenda-agenda progresif Tanah Air. Homicide mati. Bars of Death juga siap dikubur. Mentalitas duo MC ini tampaknya memang sekali berarti sesudah itu mati. Tapi, yakinlah, pencapaian artistik mereka akan abadi.

LEBIH DARI CUKUP

Dipha Barus x Hindia - Secukupnya

Sejak awal kemunculannya, sebagai proyek utama yang sempat agak terabaikan akibat popularitas Feast., konsep lirik Hindia sudah kami bayangkan sangat cocok dikemas dalam balutan beat elektronik yang lebih kental dan optimistik. Baskara Putra, dari catatan redaksi VICE sebelumnya, adalah musisi yang "memiliki kejelian otentik, dibanding musisi seangkatannya. Dia mampu menangkap semangat zaman, lantas mengendapkannya menjadi anthem yang bisa dinyanyikan pendengar muda."

Pendengar yang dalam bahasanya "putra-putri sakit hati" akibat tekanan sosial, problem kesehatan mental, dan akhirnya harus menguasai taktik "bersedih secukupnya." Sentuhan Dipha Barus, salah satu produser EDM terbaik saat ini di Indonesia, membuka potensi musikalitas Hindia yang sesungguhnya. Lebih dari cukup bahkan. "Secukupnya" telah populer tanpa harus ada embel-embel keterlibatan Dipha. Namun dengarkan sendiri, betapa memukau drop yang dikomposisi ulang di versi remix ini. Betapa menarik bila kita bisa mendengarkan proyek kolaborasi berikutnya antara Dipha dan Baskara. Berharap secukupnya tentu boleh kan?!

BOGOR MERONGRONG

A Curious Voynich - Liar

Lewat single barunya, A Curious Voynich mencapai titik keseimbangan antara rock alternatif yang mudah dicerna, tanpa melupakan akar post-hardcore mereka yang agresif. Melalui nomor "Liar", band asal kota hujan tersebut mengkritik budaya percakapan kesehatan mental di dunia digital yang kerap tidak memberikan ruang bagi sebagian individu. Penuh melodi tapi tetap berat di distorsi gitar, "Liar" sangat kami rekomendasikan bagi pendengar yang ingin ambil napas dan istirahat sejenak, sebelum lanjut moshing (di kamar, sampai pandemi selesai).

POPTASTIS

Fantastic June - Nothing in This World

Mungkin single ini layak disebut kejutan paling menyenangkan bulan ini. Menilai dari nomor "Nothing in This World", proyek indie-pop kamar berawak satu orang yakni Ridwan Yuniardhika, yang menggunakan moniker Fantastic June, memang fantastis. Simpel, mengayun, dan penuh melodi. "Nothing in This World" merupakan tembang pop yang cerdas, dan pastinya cocok diputar di manapun dan kapanpun. Diambil dari album perdana Dancing With The Flowers, Ridwan mengaku materi albumnya sudah siap sejak 2012, namun sempat terbengkalai. Memang barang bagus enggak bisa diburu-buru ya.

SURABAYA BELUM TAMAT

TamaT - Aggresive Digital IDK

"Aku mohon maaf ya semua...sistem yang ada itu aku tahu...jadi ini bobrok sekali kalo menggunakan…"

Begitu intro dari "Aggresive Digital IDK", single perdana grup elektronik TamaT dari Surabaya sebelum telinga dihajar untaian umpatan “Bobrok! Bobrok!” dari sample kemarahan Wali kota Tri Rismaharini yang dulu viral saat sidak sistem E-KTP, ditimpa beat-beat breakcore rancak ditemani sound digital gitar berdistorsi. Diisi oleh anggota lintas genre band-band Jawa Timur (Hi Mom, Reveur, Koteka is The Reason), proyek rilisan Anti Trust Record ini jelas layak disimak. Barangkali ini anthem untuk para programmer yang kerap diburu-buru klien goblok, atau mereka yang terpaksa masuk kerja karena bosnya tidak percaya keampuhan WFH untuk memperlambat penularan virus corona.

ANTHEM BARU PECINTA AMER

Syarikat Idola Remaja - Musafir Anthem

Syarikat Idola Remaja (SIR) adalah sebuah kolektif super-grup folk dari Bandung yang di antaranya berisikan anggota Nada Fiksi, Mr Sonjaya, dan Tetangga Pak Gesang. Alih-alih bernyanyi tentang minum kopi di kala senja, dalam “Musafir Anthem”, SIR menawarkan balada dengan irama nusantara jadul, diramaikan berbagai instrumen tradisional seperti suling, rebana yang pastinya cocok dibawa joget dan bersenang-senang. Merayakan perbedaan dan persaudaraan sambil mengajak pendengar untuk nongkrong (setelah pandemi corona berakhir) dan berserikat. Syarikat Idola Remaja rasanya memang layak diidolakan.

EDM BAGI INTROVERT

Bagvs - Fazed 124

Musik house identik dengan gemerlap lantai dansa dan (kadang) alkohol yang mempengaruhi kesadaranmu. Tapi, ketika mendengar nomor “Fazed 124” dari produser Bagvs asal Bandung, kami justru ingin mengambil headphone dan menikmati track ini sendirian di malam hari. "Fazed 124" terasa dreamy dan atmosferik, mengalir dengan santai, sebelum akhirnya memberikan kejutan di tengah lagu dan sedikit “belok” tanpa mengubah tempo sedikitpun. Predikat musik house untuk para introvert layak disematkan untuk track ini.