The VICE Guide to Right Now

Udahlah Jangan Kemakan Hype Tempat Wisata Keren di Indonesia, Ujungnya Kepaksa Tutup

Usai Ranu Manduro viral di Twitter pekan lalu, orang berbondong-bondong ke sana sampai macet. Ternyata ini lahan privat bekas lokasi tambang pasir dan batu. Kasusnya mirip Citorek negeri di atas awan.
02 Maret 2020, 7:54am
Tempat Wisata Ranu Manduro Mojokerto Bekas Tambang Tutup Terlalu Ramai Habis Viral
Kolase oleh VICE. Foto Ranu Manduro Mojokerto sebelum viral [kiri] dari akun Twitter @yudistiraargada; screenshot video motor pengunjung Ranu Manduro membludak dari akun @WachidYuliantoA

Kita nampaknya sepakat sama anak Twitter deh, enggak semua video jalan-jalan cocok dikasih soundtrack “Sunday Best”-nya Surface. Apalagi, setelah ada kabar kurang enak dari Ranu Manduro di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, aturannya tambah satu lagi: enggak semua lokasi wisata yang cakep harus diviralin.

Semua bermula dari video pengendara motor jalan-jalan di Ranu Manduro yang viral di medsos karena konon suasananya mirip Selandia Baru. Hamparan padang hijau di Dusun Manduro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur itu ditutup untuk umum sejak Jumat (28/2) lalu. PT Wira Bumi sebagai pemilik lokasi yang bekas lahan tambang pasir dan batu memasang papan pengumuman melarang sembarang orang masuk.

Kepala Desa Manduro Eka Dwi Firmansyah membenarkan kabar penutupan ini. "Iya ditutup p[leh PT Wira Bumi]. Saya masih bantu warga minta izin perusahaan di Surabaya [agar mau membuka kembali]," ujar Eka. Rupanya, meski beredar video membludaknya pengunjung yang mengancam ekosistem Ranu Manduro, Eka dan warga desa berkukuh momentum viralnya lokasi tersebut harus dipertahankan karena membantu warga menuai penghasilan tambahan.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Mojokerto Amat Susilo menyerahkan sepenuhnya aspirasi warga ini kepada sang pemilik lahan. "Itu ternyata lahan milik swasta. Kalau dijadikan tempat wisata ya terserah saja, namun agar segera diurus perizinannya. Untuk pengunjung juga harus hati-hati karena bekas galian dikhawatirkan tanahnya masih labil apalagi sekarang cuaca hujan masih ekstrem," kata Amat kepada Kompas.

Sebelumnya, Ranu Manduro jadi perbincangan khalayak internet karena pemandangannya yang emang gokil banget sih. Padang sabana yang terbentang hijau dengan batu-batuan estetik membuat kita tergugah untuk melakukan syuting video klip Sigur Ros saat melihatnya. Kekuatan media sosial lantas menunjukkan kekuatannya. Siapa sih yang enggak tertarik pamer pemandangan ala Selandia Baru (atau pertanyaan yang lebih tepat, kenapa kita terobsesi banget ya pengin disamain kayak Selandia Baru)?

Rasa penasaran membuat wisatawan lokal, terutama anak-anak muda, berbondong-bondong datang ke lokasi. Hasilnya, beredar video antrean kendaraan yang begitu dahsyat menuju Ranu Manduro. Feeling good kok dampaknya bad sih :(

Ribuan sepeda motor yang bahkan enggak bisa bergerak ini menimbulkan rasa prihatin dari netizen. Berbagai pertanyaan bernada pesimis segera datang: Apakah masyarakat Indonesia udah siap mentalnya saat mengunjungi wisata baru ini? Apakah mereka siap membawa pulang sampah dan puntung rokoknya sendiri? Apa nasibnya kawasan hijau ini kalau kedatangan pengendara kendaraan bermotor berjumlah gila-gilaan?

Keputusan pemilik lahan menutup kawasan Ranu Manduro sebenarnya masuk akal. Sebelumnya, udah banyak tempat wisata yang mengalami kerusakan gara-gara kebanyakan turis yang datang untuk berfoto. Salah satunya adalah Taman Bunga Amarilis di Gunungkidul, Yogyakarta.

Pada 2015 lalu taman bunga mengalami kerusakan karena jumlah wisatawan membludak gara-gara hasrat berfoto selfie dengan latar belakang hamparan bunga amarilis. Beberapa bahkan disebut menginjak-injak bunga karena memaksa masuk ke bagian tengah perkebunan. Jangan lupa, hype Gua Pindul di Yogya juga menghasilkan foto yang seram banget, karena ribuan manusia udah ngumpul di mulut gua kayak cendol.

Contoh lain terjadi di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok. Melonjaknya para pendaki gunung ditambah ketidakpedulian pendaki tersebut membuat pada musim pendakian, Pos TNGR Sembalun mencatat ada 12 kilogram sampah plastik dan 20 kilogram sampah lainnya yang ditinggalkan pengunjung setiap harinya.

Kasus tempat wisata viral di medsos jadi kebanjiran pengunjung juga dialami Desa Citorek Kidul, Lebak, Banten yang kerap dijuluki 'Negeri di atas Awan'. Pemkab Lebak pada September 2019 sampai menutup sementara desa tersebut, demi menghindari kunjungan masyarakat yang membludak dan bisa merusak infrastruktur menuju desa. Kehadiran ribuan turis itu, yang rekaman kemacetan motornya juga viral, tidak sehat bagi semua pihak.

"Kita coba tutup sementara dulu demi perbaikan. Nanti Pemda dan Kepolisian akan memberi tahu kapan dibuka lagi, tentunya setelah selesai semua pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas penunjang," kata Kasatlantas Polres Lebak, AKP Fikry Ardiansyah.

Untuk mengakali ini, pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan kepada setiap pendaki untuk memberikan uang jaminan sampah sebesar Rp500 ribu yang bisa diambil lagi saat turun, dengan syarat harus menunjukkan sampah-sampah yang sebelumnya sudah dibawa naik.

Enggak cuma itu, kasus di Kota Novosibirks, Siberia, Rusia ini mesti jadi pelajaran buat pemburu foto instagramable. Sebuah danau dengan air hijau (atau biru, kita bisa berdebat) jadi buruan pengunjung wisata karena cantik banget sampai-sampai dijuluki "Maladewanya Novosibirsk".

Kedatangan para wisatawan ke spot ini malah bikin pembangkit listrik setempat kesal. Soalnya air danau itu hijau atau biru atau apalah itu, gara-gara oksidasi logam berat buangan pembangkit listrik yang berbahaya banget buat manusia.