Game

Main Game Memberiku Kehidupan Sosial yang Tak Pernah Kumiliki

Game bisa membuat pemain tetap terhubung di saat mereka tidak bisa bersosialisasi, baik karena lockdown maupun lembur kerja.
26 April 2020, 7:01am
Tangkapan layar 'Horizon Zero Dawn' milik Sony
Tangkapan layar 'Horizon Zero Dawn' milik Sony

Sama seperti anak muda kebanyakan, aku pernah bekerja di posisi yang sangat kubenci dan heran sama diri sendiri bisa bertahan lama. Menjadi customer support untuk perusahaan telekomunikasi adalah pekerjaan terburuk buatku. Pengalamannya sangat menyebalkan sampai-sampai aku masih suka membahasnya beberapa tahun kemudian.

Aku duduk di dalam bilik kecil selama delapan jam sehari untuk membantu orang menyelesaikan masalah-masalah sepele, seperti menyalakan ulang atau menemukan letak modem. Mereka kerap memarahiku, padahal bukan aku yang salah. Akan tetapi, hal paling menyebalkan dari pekerjaan ini yaitu jam kerjanya yang tak tentu.

Aku bekerja mulai pukul 3 sore hingga 11 malam selama 2,5 tahun, dengan dua hari libur acak yang dihitung sebagai akhir pekan. Aku awalnya merasa tidak ada yang salah dari jam kerja ini, apalagi gajinya sangat besar. Namun lama-kelamaan, shift tersebut merugikan kesehatan mentalku.

1586872047726-Skyrim-Castle

Tangkapan layar 'Skyrim' milik Bethesda.

Aku tidak bisa bergaul dengan orang lain karena mereka sibuk sebelum pukul 3 sore dan sudah beristirahat setelah pukul 11 malam. Pada akhirnya, aku terjerumus ke dalam kebiasaan tidak sehat. Aku sampai rumah tengah malam, dan keasyikan berinteraksi dengan siapapun yang bisa sampai sebelum subuh. Aku bangun kesiangan, lalu siap-siap masuk kerja. Begitu seterusnya sampai aku merasa putus asa dan terisolasi.

Ketika Skyrim dirilis pada musim gugur 2011, aku tidak pakai pikir panjang untuk membelinya. Aku tak punya rencana hidup, dan yang ada di pikiran hanyalah jadwal kerja keesokan harinya. Game menjadi pelarianku, dan Skyrim membantuku keluar dari kesepian karena merasa telah menyelesaikan sesuatu.

Di sela-sela waktu kerja, aku iseng menjelajahi forum untuk mempelajari quest dan dunianya. Melakukan ini membuatku merasa lebih enakan. Sepulang dari kantor, aku akan main selama beberapa jam dan tidur pulas setelahnya. Di dalam game, aku bisa menikah, membantu orang banyak dan menghabiskan waktu menyelesaikan semua yang ingin aku lakukan. Aku benar-benar merasa seperti sudah menyelesaikan sesuatu.

Aku familiar dengan video game, tapi tidak pernah menganggapnya sebagai hobi. Aku anak paling muda, sehingga sering menyaksikan kakak dan saudara lebih tua bermain game. Aku tidak berani main bersama mereka karena aku cupu banget. Setiap musim panas, aku mengamati para sepupu yang asyik main Grand Theft Auto. Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan bermain. Aku pasti akan langsung mati, dan akan kehilangan giliran karena frustrasi tidak bisa mengendalikan game dengan benar. Dan karenanya, aku lebih memilih nonton saudara main daripada mencobanya sendiri.

1586872074687-Skyrim-Town

Rasa kesepian dan keterasingan ini berarti aku bisa main game tanpa perlu takut diejek orang lain. Aku tak usah hati-hati karena bermain sendirian. Yang penting aku bisa menyelesaikan misi dan bersenang-senang. Aku main game untuk diri sendiri. Menyaksikan peta dipenuhi populasi memberikan kepuasan yang tak pernah aku dapat sebelumnya. Karakter non-pemain (NPC) adalah temanku.

Kedengarannya mungkin menyedihkan, tapi aku merasa seperti bersosialisasi. Di dalam game, aku akan berinteraksi dengan orang kota yang tahu siapa aku. Mereka menungguku untuk menceritakan masalah mereka. Aku akan membantu mereka, dan mendapat imbalan. Aku tak tertarik dengan permainan multiplayer, tapi dunia dalam game menjadi penawar kesepian yang aku rasakan.

Kesepian adalah bagian dari kehidupan profesionalku, dan pandemi COVID-19 menjadikan keseharianku yang serba sendiri sebagai hal normal untuk orang lain. Aku jadi menyadari betapa berbedanya pekerjaan dan kehidupanku sehari-hari dari teman sebaya, dan betapa pentingnya game dalam membuat aku merasa terhubung.

1586872095727-HZD-2

Beberapa tahun lalu, aku pindah untuk pertama kalinya dan merasakan kesepian itu lagi. Sebagai penulis lepas yang tinggal sendirian, ada hari-hari di mana aku cuma bertemu barista di kedai kopi. Aku berhenti main dan beli game karena harus menghemat pengeluaran. Akan tetapi, teman-temanku menghadiahkanku PlayStation 4 hanya karena aku akan menghabiskan sebagian besar waktu di dalam ruangan.

Meski sekarang aku bisa mengurangi kesepian dengan cara lebih baik, aku senang bisa merasakan kembali ketenangan yang dihadirkan video game. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagia rasanya bisa berinteraksi dengan NPC, walaupun aku hidup sendirian dan jarang ngobrol dengan orang lain.

Bagi orang-orang yang tidak suka main game, mengisi kekosongan dengan cara begini mungkin kedengaran tidak sehat. Padahal aku masih sering keluar rumah dan bersosialisasi, tapi teman-temanku akan tertawa atau menggelengkan kepala kalau aku menceritakan asyik main Horizon: Zero Dawn selama akhir pekan.

Tetapi ketika kita semua dihadapkan pada isolasi sosial akibat pandemik global, aku rasa orang-orang akan lebih mudah memahami kenapa aku menghabiskan sebagian besar waktu dalam dunia game yang orang-orangnya mau berbicara denganku, dan selalu membutuhkan bantuanku.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US