Iklan
Banjir 2020

Tak Lagi Ada Cinta Buat Mal: Dituding Sebabkan Banjir, Warga Serang AEON Mall Cakung

Perumahan Jakarta Garden City (JGC) yang kantor manajemennya ada di mal tersebut dituntut ratusan warga bertanggung jawab atas banjir 25 Februari. Relasi mal dan warga Jakarta tak lagi mesra.

oleh Ikhwan Hastanto
25 Februari 2020, 12:16pm

Kolase oleh VICE. Ilustrasi pusat perbelanjaan [kiri] via Pixabay; Foto penyerangan AEON Mall Cakung via Twitter

Banjir Jakarta hari ini, Selasa (25/2), membuat warga Cakung, Jakarta Timur, jengah dan memutuskan menggeruduk AEON Mall Jakarta Garden City (JGC) Cakung. Tuduhannya tegas: pembangunan mal dianggap menyebabkan banjir ke daerah di sekitarnya. Gagal bertemu pihak pihak manajemen, warga yang kesal melampiaskan amarahnya dengan merusak bangunan mal. Videonya beredar luas di media sosial.

Netizen kemudian punya dugaan lain. Ada satu teori yang bilang warga marah bukan karena pembangunan mal semata, namun juga karena saluran air dari Danau JGC yang sengaja dibuka agar menghindarkan perumahan JGC dari banjir. Dampaknya, perumahan di sekitar sana kena luapan air. Makanya, warga marah kemudian berniat ketemu pihak manajemen perumahan, yang kantor pengelolanya ada di mal, untuk minta pertanggungjawaban.

Satpam mal bernama Ervan Tedy yang menjadi salah seorang penyerangan mengatakan ada sekitar 70 orang warga yang menggeruduk. "Warga luar JGC demo gara-gara banjir dan ada beberapa provokator yang agresif merusak fasilitas dan tenant," kata Ervan kepada CNN Indonesia. Ervan mengaku melihat beberapa warga membawa kayu, batu, dan senjata tajam.

Peristiwa terjadi sekitar jam 11 siang dan berlangsung sekitar satu jam, namun massa tidak sampai masuk mal. "Tadi begitu mereka mau masuk ke dalam mal, pihak kepolisian datang," tambah Ervan.

Kapolsek Cakung Kompol Pandji Santoso mengamini dugaan yang berkembang di internet, ini tuh karena warga menuding bangunan mal menyebabkan banjir di wilayah mereka. "Menurut warga, konturnya (AEON) ada yang tidak beres sehingga menyebabkan terjadinya banjir. Sudah damai. Perwakilan dari warga tadi sudah berdiskusi," kata Pandji kepada CNN Indonesia. Keributan ini membuat polisi menangkap satu orang penyerang.

Plot twist, setelah pihak manajemen setuju menemui perwakilan warga, diketahui bahwa saluran air danau yang diduga jadi penyebab banjir ternyata dikuasai pemerintah. Kenyataan ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus.

Dalam keterangannya, pihak manajemen Perum JGC Arif dilaporkan sudah menemui perwakilan warga. Pihak manajemen kemudian menjelaskan bahwa waduk dan saluran irigasi sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah daerah dan suku dinas tata air. Jeng jeng jeng....

Sembari menunggu konfirmasi pemerintah di kasus AEON Mall, banjir juga menimbulkan kemarahan warga Desa Kadu, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Hari ini (25/2), puluhan warga desa memblokade akses tol Tangerang di Pintu Tol Bitung 2 dengan bebatuan berukuran besar dan balok di sekitar. Alasannya persis: pembangunan jalan tol dianggap warga menyebabkan banjir di desa mereka.

Enggak sampai di situ, warga juga nekat berdiam diri di tengah jalan dan menghalang-halangi truk bermuatan besar yang melintas untuk menunjukkan kekecewaan. "Ikut kesel lah, gara-gara ada jalan tol ini, kita kebanjiran. Sebelum Tol Bitung 2 ini ada, kami enggak pernah kebanjiran," kata Siti, salah seorang warga, dilansir Liputan6.

Dengan preseden kasus ini, barangkali bisa jadi renungan buat pemerintah yang selalu mendorong infrastruktur dan komersialisasi kawasan. Kebijakan itu, terutama pembangunan mal tanpa henti, mulai memantik keributan. Proyek dari era amdal aja berpotensi merugikan masyarakat, apalagi kalau omnibus law UU Cipta Kerja besok beneran hendak menghapus syarat amdal. Asli, bakalan kacau.

Tagged:
Perubahan Iklim
Lingkungan
Banjir
Banjir Jabodetabek
Pusat Perbelanjaan