Vice News Tonight

Sengatan Lebah Diyakini Manjur Mengobati Penyakit Kronis

"Saya masih bisa hidup berkat lebah-lebah ini," kata Lauren Rothman, seorang praktisi terapi sengatan lebah.
21 Maret 2020, 7:14am
Laura Rothman disengat lebah agar sembuh dari penyakit kronis
Cuplikan terapi sengat lebah dari arsip dokumenter VICE News Tonight 

Lauren Rothman sudah setahun lebih menjalani terapi sengat lebah. Dia diantup 10 ekor lebah tiga kali dalam seminggu. Lauren bahkan meletakkan lebah di sepanjang tulang punggung selama 20 menit.

Perempuan itu menderita penyakit Lyme kronis, dan racun lebah dikabarkan ampuh menyembuhkannya.

“Saya masih bisa hidup berkat lebah-lebah ini,” kata Lauren, 34 tahun, kepada VICE News. Dengan perlahan dia menempelkan lebah di punggungnya menggunakan pinset. Serangga itu menyengat Lauren sampai racunnya habis dan meninggalkan bilur merah.

“Saya akan terus terapi sampai sembuh,” lanjutnya. “Lagi pula, saya sudah terbiasa menjalani ini. Ibaratnya kayak bikin kopi setiap hari.”

Bukan cuma Lauren yang siap disengat lebah untuk kesembuhannya. Banyak penderita Lyme kronis lain yang rutin menjalani terapi ini. Mereka menjuluki diri sendiri “stinger”.

“Setiap minggu, ada saja orang yang saya temui di internet dan mereka ikut terapi sengat lebah (BVT),” tutur Lauren. “Kebanyakan merasa keadaan mereka membaik.”

Khasiat ini sulit untuk dibuktikan karena Lyme kronis sendiri tidak didasarkan pada fakta ilmiah. Atau sederhananya, seorang takkan mungkin bisa sembuh dari penyakit yang bahkan tidak diakui dokter.

“Label Lyme kronis tampaknya dijadikan alat penghubung terhadap gejala tidak spesifik yang mungkin tak ada hubungannya dengan penyakit Lyme,” terang Dr. Asim Ahmed, pakar penyakit menular di Rumah Sakit Anak Boston. “Diagnosisnya tidak dapat diterima secara medis.”

Para stinger yakin penyakit ini sungguhan ada, dan mereka berusaha membuktikannya dengan diantup lebah setiap minggu.

“Saya terapi tiga kali seminggu, setiap Senin, Rabu dan Jumat,” ujar Lauren. “Harus dikasih jeda dua hari agar tubuh tidak dipenuhi obat-obatan.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.