Sepakbola

Kembalinya Persitara, Si Anak Tiri Sepakbola Jakarta

Walau klub sempat mati suri, NJ Mania terus mendukung agar Ibu Kota tak didominasi Persija. Dengan manajemen karut marut, 'Laskar Si Pitung' berusaha bertahan di kompetisi Tanah Air.

oleh Renaldo Gabriel
03 Mei 2017, 11:18am

Foto dari akun Facebook NJ Mania.

Jakarta Utara memiliki banyak sebaran kantong-kantong wilayah termiskin di Ibu Kota. Tapi di saat bersamaan, setelah berkendara tak sampai setengah jam, kalian bisa menemukan pemukiman paling elit di daerah yang sama. Jakarta Utara adalah kontras ketimpangan yang vulgar. Wilayah ini dipadati lorong berliku-liku yang tumbuh secara organik di luar pengawasan pemerintah Jakarta. Budaya kawasan itu kental dengan hikayat perlawanan pada kesewenang-wenangan, pertarungan sengit mempertahankan wilayah. Hanya saja artikel ini tidak sedang menyoroti kawasan miskin Jakarta Utara.

Cerita ini tentang upaya warga Jakarta Utara mempertahankan kesebelasan sepakbola kesayangan mereka…. meski wujudnya tinggal kenangan.

Jakarta sebetulnya memiliki lebih dari satu klub. Hingga pergantian Abad 21, ada Persija di daerah Jakarta Pusat, Persijatim di Jakarta Timur, dan Persitara di Jakarta utara. Persitara didirikan 1979, hasil kolaborasi pegiat sepakbola di kawasan Jakarta Utara dan Barat—dua bagian Jakarta yang kala itu tak merasakan kemakmuran layaknya kawasan Jakarta Selatan dan Pusat. Pada 1985, Persitara benar-benar mewujud sebagai klub sepakbola yang sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara.

Persitara paling sering berkutat di kompetisi divisi dua Liga Profesional Indonesia sepanjang era sepakbola didanai uang pajak rakyat. Prestasi klub ini kalah jauh dari Persija. Bagi North Jakarta Mania (NJ Mania)—sebutan fans Persitara—pemprov DKI sejak awal pilih kasih. Sikap pilih kasih itu paling terasa ketika Sutiyoso menjabat Gubernur.

Dalam bayangan Sutiyoso, sebaiknya hanya ada satu klub saja yang mewakili Jakarta. Hasilnya, Persija mendapat dana APBD sekitar Rp22 miliar, sementara Persitara hanya diberi jatah Rp3 miliar. Nyatanya Persitara sempat sukses meraih prestasi terbaik menembus Superliga, berbekal skuad yang mutunya jauh di bawah Persija. Pada 2009, sempat muncul wacana menggabung Persija dan Persitara. NJ Mania bereaksi keras menolak gagasan terebut.

Sayang, kisah Persitara harus berhenti pada 2014. Manajemen terbelit utang setelah tak ada lagi kucuran duit kas negara. Gaji pemain tak dibayarkan, dan akhirnya klub ambruk.

Sekelompok fans loyal Persitara setahun terakhir gigih berusaha menghidupkan kembali klub kesayangan mereka. Kali ini, kemungkinan usaha mereka berbuah manis. NJ Mania diberi waktu selama setahun mengurus Persitara. Hanya saja, Persitara baru ini belum punya dukungan sponsor, belum memperoleh pengakuan dari pemilik resmi, dan tak punya stadion untuk bermain. Semua aral ini tak menghentikan niatan para suporter, menurut keterangan sang ketua NJ Mania.

"Ini rumah kita sendiri, klubnya ada di rumah kita sendiri," ujar pria akrab disapa Bang Farid itu. "Klub ada di rumah kita, masa kita enggak bangunin."

Bang Farid bersama mantan pemain Persitara Dadang Iskandar, Eko Prasetyo, dan Sismadi yang didapuk sebagai pelatih kepala, berusaha membangkitkan Persitara. Mereka mengundang saya mampir ke Stadion Tugu, Jakarta Utara, Markas Persitara yang terletak di pinggiran kawasan Kelapa Gading. Stadion Tugu bersisian dengan gudang pengiriman barang dan gudang logistik kawasan kelas pekerja Jakarta Utara. Pelabuhan Tanjung Priok—pelabuhan tersibuk di Indonesia—berjarak tak jauh dari stasiun Tugu. Truk tronton terlihat lalu lalang di luar Stadion Tugu.

Selagi saya melangkah mendekati lepangan tempat skuad Persitara baru berlatih, saya melihat 25 orang berderet di tengah lapangan, dipanggang terik sinar matahari. Sepintas, pemain Persitara baru ini bagaikan skuad alakadarnya yang didominasi pemain belia, walau ada beberapa lumayan berumur. Semua pemain memakai jersey Persitara. Hari itu, mereka lebih banyak banyak melakukan lakukan fisik. Belum terlihat skill pemain yang mungkin dipertontonkan skuad Persitara dalam pertandingan resmi yang bakal mereka jalani di divisi terbawah liga Indonesia.

NJ Mania berkumpul di markas pusat. Foto oleh penulis.

Sebelum para pemain bisa kembali berkompetisi, Bang Farid dkk harus lebih dulu membereskan dampak salah urus yang menimpa Persitara di masa lalu. Semua itu ada sangkut pautnya pula dengan kekisruhan Perserikatan Sepakbola Seluruh Indonesia.

PSSI sebagai induk persepakbolaan Tanah Air, kita tahu, berkalang banyak masalah. Salah satu dosa besar mereka adalah membuat liga terpecah. Nurdin Halid, mantan Ketua Umum PSSI yang dua kali masuk bui karena korupsi, dipaksa lengser pada 2011. Dia juga dilarang turut campur dalam persepakbolaan Indonesia oleh FIFA. Tapi sejak itulah PSSI terbelah oleh dua kubu yang sama-sama sesumbar ingin mereformasi sepakbola Indonesia.

Selama dua tahun, tak ada pertandingan sepakbola resmi digelar di Indonesia. Persitara terkena dampak dari kevakuman itu. Aturan baru PSSI melarang klub menerima dana APBD semakin membuat klub berjuluk 'Laskar Si Pitung' itu limbung. Pada 2014, pemilik Persitara, Rizal Hafid, kelimpungan akibat persoalan finansial, lalu berjuang mati-matian menghindari sanksi PSSI karena dianggap tak profesional menjalankan klub.

Tak lama berselang, eksistensi Persitara sebagai sebuah klub sepakbola resmi berakhir. Nasib yang sama menimpa PSSI. Pemerintah Indonesia membekukan sementara PSSI guna melakukan perombakan dengan target manajemen liga dikelola lebih profesional. Keputusan Pemerintah Indonesia ternyata bikin Badan Sepakbola Dunia (FIFA) geram. Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA karena campur tangan pemerintah dalam sepakbola. Pada 2016, sanksi ini dicabut FIFA setelah pemerintah Indonesia mencabut pembekuan PSSI.

PSSI kembali aktif. Tapi tidak dengan Persitara.

Sejarah Persitara bisa dibilang kental dengan usaha penutupan klub. Dalam kasus Persitara, penyandang dana mereka seharusnya adalah Pemerintah Kota Jakarta Utara, yang setengah hati memberi dukungan. Kebijakan "Satu Klub Satu Jakarta" ala Sutiyoso tambah merugikan Persitara. Ketika pendanaan Persitara dianggap sebagai pemborosan dana pajak rakyat, kepemilikan klub beralih ke tangan-tangan pribadi. Masalah lain muncul. Sejauh ini tak ada swasta yang becus mengurus sepakbola di Jakarta Utara.

Sismadi (kiri) pelatih Persitara. Foto oleh penulis.

Apapun yang terjadi, cinta pendukung Persitara tak pernah luntur. Jakarta Utara bagi NJ Mania pantas punya tim sepakbola sendiri.

"Persitara memang dari awal udah mengakar ke kita, kenapa kita harus bela tim lain," kata Bang Farid. "Persija itu bukan Persija Jakarta. Awal muasal itu Jakarta Pusat, karena di jakarta ini kan ada lima wilayah, dan sesungguhnya lima wilayah ini mempunyai klub masing masing."

Persoalannya tak banyak orang merasa kehilangan Persitara. Itulah beban yang ditanggung NJ Mania saat berusaha membangkitkan lagi klub berbasis di Stadion Tugu ini. Semasa masih bertarung di liga profesional, suporter persitara kurang mendapat simpati penduduk Ibu Kota lantaran kerap membuat onar. Semangat melawan kemapanan ini kemudian tercermin pada julukan klub.

Persitara memiliki sebutan Laskar Si Pitung mengacu pada nama pahlawan lokal asal Marunda, Jakarta Utara. Bagi fans loyal Persitara, mereka harus menjadi Si Pitung saban melawan "penjajah": penggemar Persija. Mereka sering bentrok dengan pendukung The Jak—sebutan suporter Persija. Laga derbi melawan Persija selalu menjadi dalih oleh pendukung Persitara untuk baku pukul melawan The Jak. Reputasi Persitara sebagai klub underdog melanggengkan cap suporter nekat pada para fans loyal Persitara. Bahkan beredar pemeo satu-satunya wilayah di Jakarta yang tak memiliki markas pendukung Persija hanyalah di kawasan utara.

Perlahan, Persitara dengan semangat baru ini coba berbenah. Pesepakbola belia mulai memperkuat Laskar Si Pitung, yang akan berlaga di Divisi 3—divisi terbawah dalam struktur kompetisi sepakbola Indonesia. Tahun ini adalah kesempatan kedua bagi Persitara, yang bagaimanapun terasa sangat ironis. Bayangkan, sebuah klub dari kota paling kaya di Indonesia harus bertarung di liga paling kere di negera ini. Meski begitu, Persitara menargetkan bisa berlaga di divisi dua musim kompetisi mendatang. Sebuah keniscayaan, menurut para pendukung Persitara. Tak soal bila klub kembali ambruk di masa mendatang, mengingat modal yang ada saat ini juga belum cukup kuat.

"Persitara tidak ada, akan masih ada NJ Mania," kata Farid, optimis.

Pemain Persitara berlatih di Stadion Tugu, Jakarta Utara. Foto oleh penulis.

"Kita jujur kalah jumlah," ujar Satria, salah satu suporter loyal yang saya temui di dekat Stadion Tugu. "Tapi kalau untuk militansi, ayo bisa diadu."

Satria, seperti kebanyakan fans Persitara lainnya, sudah mendukung klub ini sejak usia belia. Baku hantam yang dilakoninya melawan Jakmania adalah pengalaman yang mengubah jalan hidupnya. Persitara bagi Satria sama dengan jati dirinya. Persitara menunjukkan dari mana dia berasal. Perkara identitas ini jauh lebih penting dari sekadar melihat Persitara memenangi laga. Tak peduli stadion dan klub berisiko gagal dibangkitkan akibat persoalan fulus.

"Karena Jakarta utara dulu itu paling diminoritaskan," kata Satria. "[Mereka] bilang kalau kita anak nelayan, kita anak pesisir. Walaupun kita minoritas, kita dihina-hina, itulah sumber power kita."