Poliandri

Ibuku Hidup Bersama Dua Suami dan Aku Baik-Baik Saja

Poliandri adalah konsep teramat tabu di Indonesia, lebih disorot negatif dibanding poligini. Perempuan tumbuh besar dalam keluarga tak lazim itu menceritakan pengalamannya pada kami.

oleh Dea Karina
18 Maret 2017, 7:00am

Semua foto dari arsip keluarga Ani.

Ani* sebagaimana lazimnya bocah empat tahun lain, bertandang ke rumah teman sore-sore. Di ruang tamu, dia bingung menyaksikan foto keluarga kawannya itu. "Bapak kamu yang satu lagi di mana rumahnya?" kata Ani.

Akibat pertanyaan tersebut, pembantu kawan TK-nya itu menatap heran pengasuh Ani. "Emang Mbak Ani Bapaknya ada berapa?"

Sejak peristiwa itu, Ani sadar ayah dan ibunya yang tinggal di Tangerang Selatan tidak seperti keluarga-keluarga yang lain. Ani mempunyai Bapak dan Papi. Mereka dua orang berbeda. Secara biologis, Ani terlahir dari hubungan Ibunya dengan Papi. Namun seumur hidup dia selalu menganggap Bapak sebagai ayahnya juga. "Aku besarnya pindah-pindah. Saat di Indonesia aku tinggal sama Bapak, tapi setiap weekend sama Papi".

Ani, pendek kata, tumbuh di tengah keluarga poliandri. Susunan keluarga yang sangat tidak lazim di Indonesia, sebab sang ibu punya dua suami. Berbeda dari poligini (satu lelaki memiliki dua atau lebih istri) yang cenderung ditoleransi—termasuk oleh sebagian pemeluk agama—hukum Indonesia menafsirkan praktik perempuan bersuami lebih dari satu bersamaan sebagai perzinahan yang bisa dijerat pasal pidana.

Sejak peristiwa yang membuat pengasuh Ani kikuk itu, sang ibu segera mengajaknya bicara. "Tidak semua orang keluarganya kaya gini, jadi engga boleh ngomong," kata sang ibu.

Ani diminta tidak mengumbar cerita keluarga begitu saja kepada kawan-kawannya di sekolah, karena khawatir akan memperoleh tanggapan negatif. Bahkan keluarga besar ibunya tak tahu jika Ani punya ayah berbeda. Masing-masing mertua mengira ibu Ani hanya punya satu suami. Ani pun segera berjanji merahasiakan dua sosok ayahnya.

Tentu saja, janji tak selalu bisa ditepati. "Aku keceplosan. Sepupuku kan sahabatku, jadi ya sekali-kali keceplos terus bilang aku punya Papi. Papiku rumahnya di sini". Ternyata sepupu dan tantenya tidak terkejut menerima informasi itu.

Lambat laun Ani terbebani. Sebab dia ingin leluasa bercerita tentang keluarganya yang unik pada teman-teman. "Saat growing up Bapak dan Papi itu orangnya beda banget kan. Jadi kadang-kadang aku pengen cerita tentang Bapak ke temen-temenku tapi engga tau mau bilangnya seperti apa. Kadang-kadang aku bilangnya Uncle atau Om."

Pernikahan poliandri itu tak bertahan sampai sekarang. Bapak dan sang ibu bercerai ketika Ani remaja, tapi tetap berhubungan baik. Sejak itulah Ani lebih leluasa bercerita tentang keunikan keluarganya pada teman-teman. Namun karena bidang pekerjaan Ani dengan Bapaknya masih terpaut, mereka tetap sering berinteraksi dengan lingkaran sosial yang sama. "Dah kalian udah putus jadi aku udah bisa cerita ke yang lain haha, engga peduli", canda Ani kata Bapak dan Ibunya suatu kali

Sebagai anak keluarga poliandri di Indonesia, yang masyarakatnya terobsesi pada hubungan monogami sepanjang hayat, persoalan tinggal serumah yang paling sulit disiasati. "Jadi kan aku besarnya sih pindah-pindah. Saat waktu di Indonesia, tinggalnya sama Bapak. Tapi pada saat kita tinggal sama Bapak, weekend gitu selalu sama Papi."

Masalah mulai muncul ketika Papi memperoleh pekerjaan di sektor migas luar negeri. Kedua ayah ingin bersama anaknya. Maka, istri dan dua suami itu bertemu membahas jadwal kunjung anak perempuan mereka. "Papi itu making a deal sama Bapak. Mereka bertiga itu making a deal, 'ini nih gimana keluarga kita, I want them to live with me too", gitu kan," kata Ani.

"Jadi diajak ke luar negeri dibolehin tapi ada deal. Aku pindah umur 6 tahun. Bapak bilang, bilang 'Oke, kamu bisa ajak mereka ke luar negeri, tapi sekitar umur 13 harus balik lagi ke Indonesia tinggal sama Bapak.'"

Sejak muda, ibu Ani adalah sosok yang meyakini hubungan poliamori, konsep berhubungan bersama lebih dari satu pasangan, bisa berjalan baik. Tentu saja ide sang ibu tak lazim pada masa itu, bahkan sampai sekarang. Ketika mulai berpacaran dengan bapak, ibu Ani segera memberitahu keinginannya tak terikat hanya pada satu lelaki saja. "Aku engga pacaran cuma sama kamu, ada yang lain juga. Kalau dekat, ya kenalan aja lebih bagus," kata Ani menirukan ucapan ibunya. Tidak ada drama ketika sang ibu menjalin cinta dengan dua lelaki sekaligus.

"Hubungan Bapak dan Papiku emang baik. Mereka memang temen. Karena sudah ada aturan-aturan main yang disepakati atau apa mereka making kind of a deal antar mereka bertiga," kata Ani menambahkan.

Papinya adalah keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, sedangkan Ibunya Muslim. Lantaran beda agama, rencana pernikahan keduanya tidak disetujui orang tua. Mereka pun tinggal serumah diam-diam. Pada satu titik, Ibu Ani setuju menikah resmi dengan Bapak yang seagama. Hubungan dengan Papi hendak diakhiri. Mendadak bapak dan ibu bertengkar hebat. Lalu Ibu Ani memutuskan kawin lari dengan Papi. Setelah beberapa saat, Ibu Ani dan Bapaknya berdamai kembali, lalu akhirnya mereka menikah juga. Begitulah ceritanya Ani punya dua bapak.

"Aku engga tahu teknisnya gimana tapi mereka bilangnya bikin surat nikah dua-duanya. Kaya ada satu surat nikah mereka berdua declare mereka dua-duanya Katolik. Trus ada satu surat lagi declare mereka dua-duanya Muslim. Jadi ada dua. Mungkin dulu bisa gitu. Diceritainnya sih kaya gitu."

Tumbuh besar di keluarga poliandri, Ani mengaku diskusi selalu dilakukan keluarga ini untuk menyepakati bermacam hal. Harmoni merupakan kata kunci selalu ditekankan sang ibu padanya sejak kecil. Semua keputusan keluarga pasti melibatkan ibu dan dua ayahnya.

Contoh aturan itu misalnya, bila salah satu suami sedang tidak bersama Ibunya Ani dan anak-anak. Kedua suami diizinkan pacaran dengan orang lain. Bapak ataupun papinya wajib berkomunikasi kalau jatuh cinta pada perempuan lain. Sang ibu berpantang sampai mendengar kabar perselingkuhan dari orang. Hal yang paling penting adalah komunikasi dan tidak sembunyi-sembunyi.

"Kalau misalnya mau divorce kan bisa on good terms. Dulu kayanya Bapakku pas kita pindah ke luar negeri dia mulai dating dengan perempuan lain dan itu juga terbuka. Tapi Papiku selama ini kayanya emang cuma sama Ibuku terus," tambah Ani.

Sang Ibu pun mempersilakan Ani menjalani poliamori jika memang tertarik. Ani merasa ibunya adalah perempuan berpikiran paling terbuka pernah dia temui. "Dari kecil selalu bilang, 'Kalau kamu pacaran, silakan pacaran lebih dari satu orang, gapapa. Itu emang bagus karena lebih banyak pilihan. Kamu bisa ngejalanin relationship with other people, biar nanti kamu bisa milih mana yang cocok."

Lucunya, sang ibu punya prinsip yang tegas bahwa urusan menikahi pasangan satu agama—atau setidaknya mengupayakan agar surat nikah satu agama—harus diutamakan.
Pandangan ini menurut Ani mengherankan karena ibunya terhitung liberal. "Ibu sendiri nikah sama orang Kristen, ngapain harus nikah sama orang Islam? Engga mau. Jangan ngelarang kaya gitu, hahaha."

Satu hal yang diyakini Ani, dia tumbuh besar di keluarga poliandri dan tidak ada masalah berarti. Ibu, bapak, dan papinya sama-sama bahagia. Dia merasa keputusan ibunya menikahi dua lelaki dalam satu waktu berperan besar dalam keharmonisan keluarga mereka.

Ani malah kurang yakin keluarganya akan bertahan jika tak pernah ada dua ayah dalam keluarganya. "Jadi aku pikir terus kalau misalnya di pernikahan seperti itu kan selalu ada yang selingkuh, menurutku harusnya sih manusia engga monogamous. It's not part of our nature."

*Nama narasumber telah diubah