Iklan
Sejarah Punk

Kisah Anak Punk di Kuba Memilih Terjangkit HIV Saat Rezim Fidel Castro

Anggota Los Frikis di Kuba sengaja menularkan virus HIV ke dirinya sendiri supaya bisa masuk fasilitas perawatan AIDS dan bebas dari penganiayaan.

oleh Abdullah Saeed
23 September 2018, 6:45am

Selama ini, komunitas punk selalu diasosiasikan dengan orang-orang dari kelas rendah yang suka menyuarakan perbedaan. Dan tampaknya tidak ada anak punk lain yang aktif memberontak selain komunitas punk di Kuba pada masa pemerintahan Fidel Castro.

Berkat sosialisme, segala hal serba sama rata. Di negara sosialis, anak punk akan sangat mencolok. Contohnya seperti di Kuba. Los Frikis—komunitas punk di Kuba yang mulai muncul sejak akhir 1980-an dan 90-an, dan bergaya lebih bebas—tidak dianggap sembarangan di tanah airnya.

Saat itu, pemerintah Fidel Castro mencoba mewujudkan keteraturan lewat jalan kekerasan. Polisi tak bosan-bosannya merazia gelandangan dan orang-orang yang dianggap menyimpang. Los Frikis pernah menjadi target razia polisi lantaran anggotanya punya penampilan berbeda dan berani membangkang terhadap norma sosialisme ala Castro serta senang menghabiskan waktu mereka di kawasan-kawasan kumuh.

Tak ayal, anggota Los Frikis kerap jadi korban kekerasan, dicokok polisi dan dijebloskan ke penjara atau bahkan dijatuhi hukuman kerja paksa. Imbasnya, sejumlah anggota Los Frikis melawan dengan tindakan yang luar biasa mengejutkan: mereka sengaja menginfeksi diri mereka dengan HIV dengan menyuntikan darah teman mereka yang sudah positif HIV langsung ke dalam pembuluh darah mereka.

Sampai saat ini pun, perlawanan Los Frikis ini tetap susah dipercaya. Namun, terdapat sejumlah faktor yang menciptakan kondisi sosial yang pada gilirannya memaksa anggota Los Frikis menjangkiti diri mereka sendiri dengan penyakit HIV.

Alih-alih terus hidup menggelandang di jalanan dan jadi sasaran persekusi polisi, anggota Los Frikis yang nekat ini menemukan tempat yang ideal. Di sanatorium, mereka disediakan makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Dan begitu jumlah anggota Los Frikis yang masuk sanatorium sudah lumayan banyak, mereka tahu bahwa mereka telah mengubah sanatorium menjadi surga punk di bumi.

“Sabab hari, kamu bisa mendengar musik rock 'n' roll dan heavy metal yang keluar dari tiap bangunan sanotarium," kata Yoandra Cardoso, anggota veteran Los Friki yang tinggal di lahan bekas sanatorium. "Saat sanatorium pertama dibuka, isinya 100 persen anggota Los Frikis..kami hidup bersama-sama di dalamnya.”

Pada 1989, militer Kuba menyerahkan pengelolaan sanatorium pada Kementerian Kesehatan Masyarakat. Dan, di bawah metode progresif yang diterapkan oleh mereka, pasien diperkenankan mendengarkan musik, berpakaian sesuka hati dan bergaul dengan orang lain di luar atau di dalam sanatorium. Akomodasi dalam sanitorium juga relatif lebih baik dari apa yang sanggup diperoleh warga Kuba biasa, apalagi anggota Los Frikis. “Kami menciptakan dunia kami sendiri di sanatorium,’ ujar Fuentes,

Sebuah sanatorium di Pinar del Rio, yang pernah menjadi rumah bagi Fuentes dan Cardoso selama menjadi pasien di awal dekade ‘90an, berhenti beroperasi pada 2006 silam. Saat ini, hanya satu sanatorium yang masih tersisa di Kuba. Itupun sudah dialihfungsikan sebagai sebuah fasilitas rawat jalan. Mayoritas anggota Los Frikis yang pernah dirawat di sanatorium sudah meninggal—Cardoso mengaku cuma tiga rekan satu sanatariumnya yang masih hidup, para penyintas masih berumur panjang berkat obat antiretroviral yang didistribusikan lewat program layanan kesehatan di Kuba.

Sampai saat ini, Kuba masih tercatat sebagai negara dengan tingkat penyebaran HIV terendah di dunia. Bahkan, negeri cerutu ini memperoleh pujian dunia setelah berhasil mengeliminasi penularan HIV dari ibu ke anak tahun lalu. (Meski tak menutup kemungkinan, angka kasus infeksi HIV di Kuba mengalami kenaikan selama satu dekade terakhir).

Los Frikis bisa dibilang berakhir pada posisi yang kompromistis di dalam komunitas Punk, tapi tetap saja aksi mereka adalah sebuah bentuk keberanian. Pasalnya, kendati hidup yang kepalang keras tetap tak bisa menjustifikasi tindakan mereka, di tempat di mana ideologi punk jadi dalih persekusi, Los Frikis toh masih tetap memilih melawan dengan cara yang butuh modal nyali besar dan mungkin tak terpikirkan oleh anak punk manapun.

Uni Soviet pada masanya pernah jadi pendukung utama ekonomi Kuba. akan tetapi menjelang akhir dekade ‘80an, dukungan tersebut menghilang lantaran Uni Soviet sudah nyaris bubar. Kuba pun dibiarkan mengurusi ekonominya sendiri. Castro menyebut masa itu sebagai “periode spesial,” sebuah eufemisme ironik untuk kelangkaan pangan dan bahan bakar hebat. Selama masa-masa berat itu, bahan pangan bagi penduduk Kuba dijatah ketat hingga penduduk Kuba secara fisik mengalami perubahan.

Di saat yang sama, krisis AIDS dunia kian memburuk, dan negara-negara di dunia tengah kelabakan meredam persebaran virus HIV. Kuba sebaliknya mengambil langkah yang kontroversial dalam memerangi AIDS yang mencakup penggalakan test terhadap penduduk dewasa yang sudah aktif secara seksual dan mengirim mereka yang positif terinfeksi HIV ke sanatorium. Dalam kebijakan inilah, beberapa anggota Los Frikis menemukan jalan keluar dari masyarakat yang terus memusuhi pembangkang seperti mereka.

“Dia paham betul setelah menginfeksi dirinya dengan HIV, dia akan dikirim sanatorium,” kata Niurka Fuentes mengenang mendiang suaminya, anggota Los Frikis yang kondang dengan nama Papo La Bala (Papo si Peluru ). "Suami saya tahu dia akan berkumpul dengan kawanannya dan polisi akan berhenti mengincarnya. Jadi, dia bisa menghabishkan hidupnya dengan lebih tenang."

Follow Abdullah Saeed di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US. Liputan dokumenter VICE mengenai Frikis di Kuba dapat disaksikan di tautan awal artikel ini

Tagged:
HIV
cuba
kuba
Fidel Castro
Los Frikis
Vice Blog
dokumenter
Cuban HIV sanitariums
Video VICE
Sosialisme