Iklan
Konflik Suriah

Pemberontak Suriah Berhasil Rebut Kembali Kota Raqqa Dari ISIS

Jatuhnya Raqqa merupakan peristiwa bersejarah. Militan khilafah makin tak punya ruang gerak digencet pemberontak dan tentara Suriah.

oleh Tim Hume
18 Oktober 2017, 7:18am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Pasukan Demokratis Suriah (SDF), regu pecahan pemberontak yang mendapat pelatihan dan sokongan dana Amerika Serikat, berhasil merebut kembali Kota Raqqa. Kota di utara Suriah itu selama nyaris empat tahun menjadi ibu kota de-facto Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Kekuatan ISIS melemah sejak tahun lalu. Pemberontak, maupun tentara pemerintah Suriah, pelan tapi pasti merangsek ke jantung pertahanan militan.

Tanda-tanda kemenangan sudah terlihat sejak empat bulan lalu. SDF menjadi kelompok militer pertama yang bisa sangat dekat dengan Raqqa. Pada Selasa (17/10) siang waktu setempat, akhirnya SDF sukses merebut stadion dan dua apartemen yang menjadi persembunyian terakhir anggota ISIS. Jatuhnya Raqqa membuat ruang gerak ISIS sangat terbatas, baik di Suriah maupun Irak, sehingga hampir pasti kekhalifahan mereka bakal runtuh dalam waktu dekat.

Brigadir Jenderal Talal Sello, pemimpin SDF, menjadi yang pertama mengumumkan keberhasilan anak buahnya merebut kembali Raqqa. Sebagian militan khilafah Islamiyah yang sempat melawan gigih dari balik stadion. Sebab di stadion kota itulah, ISIS selama ini menimbun amunisi serta memenjarakan warga maupun orang dianggap mata-mata.

"Sekarang, ISIS sudah resmi tumpas dari Raqqa. Pasukan kami menguasai sepenuhnya kota ini," kata Sello seperti dilansir kantor berita AFP.

Pasukan SDF terdiri dari gabungan penduduk etnis Kurdi Suriah, serta milisi sipil Arab. Sejak dua tahun lalu, SDF memperoleh dana, pasokan senjata, hingga pelatihan dari militer Amerika Serikat untuk menjungkalkan ISIS melalui operasi darat.

Pasukan lintas etnis itu bergembira, mengibarkan bendera SDF, serta berpawai di sekitar stadion setelah pertempuran yang melelahkan sekian bulan bekalangan resmi berakhir. Di jalanan, pasukan SDF yang dianggap pemberontak oleh pemerintahan Suriah merayakan kemenangan bersama warga, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Sello menyatakan SDF belum akan berhenti melakukan tugas, walau Raqqa sudah sukses direbut. Masih perlu ada kerja keras selama sekian hari mendatang, mengingat masih banyak ranjau dipasang di Raqqa. Termasuk ancaman adanya anggota ISIS menyamar jadi warga sipil di kota tersebut.

"Kami yakin masih banyak sekali ranjau di sekitar sini. Jadi setiap anggota SDF kami imbau tetap waspada dan menyisir semua area Raqqa," kata Kolonel Ryan Dillon, juru bicara militer AS yang mengawasi perkembangan lapangan di Suriah.


Tonton video VICE News yang merekam proses jatuhnya Raqqa ke tangan pemberontak:

Mustafa Bali, juru bicara SDF, menyatakan dalam pertempuran sejak awal pekan ini sebanyak 22 anggota ISIS tewas. Sejak Juni, sebanyak 3.250 orang tewas dalam perebutan Raqqa, mencakup 1.130 penduduk sipil.

Patut disebutkan juga, jatuhnya Raqqa sempat diwarnai negosiasi. ISIS menempuh diplomasi setelah nyaris binasa. Melalui negosiasi yang difasilitasi tetua suku setempat, sisa jihadis khilafah asli Suriah yang masih hidup diizinkan kabur. Sisa militan yang bertahan adalah warga negara asing. Sebagian tewas, sisanya ditangkap SDF. Belum jelas apakah ada jihadis asal Indonesia dalam tawanan imbas perebutan Raqqa.

Sebelum perang berkecamuk, Raqqa adalah kota di utara Suriah yang berpenduduk 200 ribu jiwa. Akibat perang saudara 2011, wilayah ini jadi tak bertuan. Militan ISIS kemudian memanfaatkan situasi, merebut kota tersebut, lalu mendeklarasikan sepihak Raqqa sebagai ibu kota kekhalifahan baru. Kendati begitu, sang khalifah ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, tidak tinggal di Raqqa. Dia lebih banyak beraktivitas di Kota Mosul, Irak, yang tiga bulan lalu juga sukses direbut tentara pemerintah. Belum jelas di mana keberadaan sang khalifah ini. Rumor berembus dia sebetulnya sudah tewas akibat serangan udara koalisi Barat, namun para militan merahasiakannya.

Selama ISIS bercokol di Raqqa, banyak sekali tindakan kejam dan barbar dialami warga. Kalian masih ingat dua orang homoseksual yang dihukum mati, dilempar dari gedung bertingkat? Kejadiannya di Raqqa. Pemenggalan sandera asing? Juga di Raqqa. Begitu pula video-video warga dipotong tangannya atas tuduhan mencuri. Jangan lupa, setiap aksi teror di luar negeri yang mengatasnamakan ISIS, misalnya yang dialami Nice, London, hingga teror Sarinah di Jakarta, semua dirancang militan dari Raqqa.

Keputusan AS memberi bantuan langsung kepada pemberontak berpengaruh besar mempercepat jatuhnya Raqqa. Sebelum operasi darat digelar sejak Juni, jet tempur AS telah membombardir Raqqa, menghancurkan logistik mereka, serta membuat jalur pelarian militan amat terbatas.

Perebutan kembali Raqqa bisa dibilang sangat melemahkan ISIS, namun tidak ada jaminan kelompok teror ini tumpas sepenuhnya. ISIS sudah sadar bila mereka akan kalah di front Irak maupun Suriah. Karena itu, mereka memindah medan perjuangan ke berbagai wilayah lain. Termasuk konflik di Kota Marawi, Kepulauan Mindanao, Filipina, sejak empat bulan lalu.

Lantas, jika Raqqa jatuh, di mana sisa militan ISIS? Berdasarkan pantauan intelijen mereka terpecah menjadi regu-regu kecil yang bertahan di antara perbatasan Suriah-Irak. Ada juga yang membangun basis kecil-kecilan di beberapa kota Provinsi Andar, sisi barat Irak. Sisa ISIS lain masih bertahan di Suriah dapat ditemukan di Provinsi Deir Ezzor, kawasan kaya minyak. Dari Deir Ezzor lah selama ini ISIS mendapat modal berperang, menjual minyak curian ke Turki.

Kondisi ISIS Deir Ezzor sama-sama babak belur. Di sisi selatan Suriah itu, tekanan datang dari milisi yang didanai Iran dan juga pesawat tempur Rusia, sekutu Presiden Bashar al-Assad. Tak lama lagi, Deir Ezzor bakal ikut terebut. Setelahnya, tinggal bagaimana AS bersama pion-pionnya, juga Rusia, akan menentukan perdamaian di Suriah.

Tagged:
VICE News
ISIS
Raqqa
BASHAR AL-ASSAD
Amerika Serikat
Berita
Timur Tengah
Perang Suriah
Pemberontak Suriah