Ricuh Pemilu 2019

Merekam Momen Bentrok di Jakarta, Usai Massa Oposisi Menolak Hasil Pilpres

Dilaporkan enam demonstran tewas karena ditembak, namun pelakunya simpang siur. Kericuhan paling massif terjadi di Tanah Abang dan Slipi.

oleh Adi Renaldi
22 Mei 2019, 6:37am

Demonstran yang menolak hasil pilpres 2019 memprovokasi aparat di depan Gedung Bawaslu pada aksi 22 Mei. Foto oleh Willy Kurniawan / Reuters.

Pemilihan umum presiden 2019 dimaknai secara harfiah sebagai perjuangan hidup mati bagi sebagian orang.

"Ayo tetap rapatkan barisan, jangan pada takut," teriak salah satu demonstran di depan Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/5) malam, seperti dikutip Tirto.id. Massa mencoba merusak pagar besi di depan kantor Bawaslu pada pukul 22.15 WIB.

Menjelang tengah malam, bentrokan massa dengan aparat pecah, sehingga titik konflik berpindah ke jalanan Tanah Abang, sekira 800 meter dari kawasan Jl Thamrin, Jakarta Pusat.

Kepolisian mulai menembakkan gas air mata agar massa membubarkan diri. Namun, ratusan orang menolak bubar. Sebagian dari mereka balik melempar batu, botol dan petasan ke arah personel Brigade Mobil (Brimob).

Setidaknya tiga lokasi di ibu kota beralih mencekam hingga berselang 12 jam setelah bentrok mulai terjadi di Bawaslu. Rangkaian insiden ini dipicu gerakan massa yang tidak puas pada hasil rekapitulasi suara pemilihan umum 2019, yang memenangkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Massa, didominasi pendukung pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, sempat mengepung Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Sempat mereda sejenak pada Rabu (22/5) dini hari, bentrokan lantas berkobar lagi. Menjelang subuh, tepatnya pada pukul 04.31 WIB, pasukan Brimob memukul mundur massa di sekitar Bawaslu dengan menembakkan gas air mata, tapi sebagian massa tetap menolak mundur, lalu merusak kendaraan serta melemparkan batu ke arah aparat.

Titik konflik kemudian mencapai Petamburan dan Slipi, artinya melebar hingga Jakarta Barat. Akibat bentrokan ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan enam warga sipil meninggal akibat luka tembak. Polisi membantah jika anggotanya dibekali peluru tajam saat mengamankan unjuk rasa, kecuali tameng, pentungan, dan gas air mata.

"Aparat kemanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali peluru tajam dan senjata api. Kami sudah sampaikan jauh-jauh hari bahwa akan ada pihak ketiga yang akan memanfaatkan situasi unjuk rasa tersebut," kata juru bicara Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, saat dikonfirmasi VICE. "Polri sudah mengidentifikasi pelaku provokator dari luar Jakarta. Saat ini Kepolisian sudah mengamankan lebih dari 58 orang diduga provokator dan melakukan tindak pidana lainnya."

Warga Tanah Abang pun menolak dikaitkan dengan bentrokan tersebut. Darmawan, 50 tahun, tidak mengenal sebagian orang yang dilaporkan tewas atau luka-luka akibat bentrok dengan polisi di sekitar kampungnya.

"Mereka berkumpul sejak malam dan membakar apapun termasuk tong-tong sampah. Warga kami enggak ada yang keluar karena takut," ujarnya.

Berikut beberapa foto dari rangkaian insiden selama 12 jam terakhir di Jakarta, imbas dari penolakan hasil pemilu oleh kubu oposisi:

1558504669819-Screen-Shot-2019-05-22-at-125731
Demonstran ricuh di Tanah Abang pada Rabu (22/5) dini hari. Foto oleh Muhammad Adimaja/Antara Foto/ via Reuters
1558504773875-2019-05-22T031310Z_373043968_RC1AF722A5D0_RTRMADP_3_INDONESIA-ELECTION
Massa melemparkan batu ke polisi di kawasan Tanah Abang. Foto oleh Sigid Kurniawan/Reuters
1558504893173-polisi
Personel Brimob menembakkan gas air mata untuk menghalau demonstran dekat Gedung Bawaslu pada Rabu (22/5) dini hari. Foto oleh Willy Kurniawan/Reuters
1558505021919-mobil-polisi
Pemandangan dari dalam mobil yang dirusak massa di jalan utama penghubung Slipi-Petamburan. Foto oleh Aprillio Akbar/Antara Foto/via Reuters
1558506497925-pemilu-curang
Massa aksi damai berpose dengan poster di depan Gedung Bawaslu, dengan latar personel brimob yang sedang istirahat. Foto oleh Willy Kurniawan Reuters