Wawancara Musisi

Wawancara Khusus Bareng Frank Ocean: Membahas Perjalanan Waktu dan Insting

Musisi terkenal ini memberikan saran-saran bagus dalam edisi terbaru ‘Gayletter’.

oleh Nicole DeMarco
20 April 2019, 7:30am

Foto via Instagram.

Model sampul langganan Majalah i-D Frank Ocean jarang melayani wawancara. Namun, sejak musisi yang terkenal tertutup itu bergabung di Instagram, dia mulai memenuhi undangan pers. Dia berusaha lebih sering bekerja sama dengan publikasi yang sejalan dengan visinya.

"Saya heran kenapa banyak yang bilang saya tertutup, padahal saya selalu berada di luar sepanjang waktu. Saya berkeliling dunia setiap saat," katanya kepada majalah Gayletter dalam edisi ke-10. "Betapa menggelikan persepsinya, tapi saya memahami maksud mereka dalam paradigma baru ini."

Frank menjalani sesi pemotretan oleh Collier Schorr dan wawancara bersama editor Tom Jackson untuk edisi terbaru majalah budaya queer New York tersebut. Mereka membahas bagaimana budaya queer memengaruhi dirinya. Dia juga menceritakan tentang serial TV favoritnya ( Chef’s Table dan Handmaid’s Tale).

Para pembaca bisa mengikuti refleksi diri Frank karena sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita. Kami mengutip beberapa pernyataan favorit dari wawancaranya. Kalian bisa membaca selengkapnya di Gayletter.

Tentang media sosial:
“Manusia tak pernah berubah sejak jutaan tahun lalu, dan menurutku, media sosial semakin memperkuat ini. Bisa dibilang mereka seringnya enggak benar-benar mendapatkan informasi. Mereka mencari informasi, tapi saya enggak yakin mereka mencernanya.”

Tentang perkembangan seni queer:
“Saya mulai tertarik dengan seni queer sewaktu masih tinggal di New Orleans. Saya sering mendengarkan Katey Red dan Big Freedia saat party pas remaja. Ketertarikanku semakin kuat ketika saya mendalami fotografi, berkat foto-foto yang sering saya lihat di majalah. Baik itu Alasdair [McLellan] dan Collier, sampai Wolfgang [Tillmans], Walter Pfeiffer dan Peter [Hujar].”

Tentang kesuksesan:
“Saat ngobrol tentang berkarier di industri musik, saya tak jarang bertemu dengan orang yang definisi kesuksesannya berkaitan dengan nostalgia. Mereka menilai kesuksesan suatu karier berdasarkan apa yang mereka lihat dan yakini selama ini. Saya rasa mereka bisa menjadi mangsa karenanya. Orang lain bisa saja memanipulasi kamu dengan hal-hal itu. Pada akhirnya, kamu bisa mencapai titik merasa kecewa dengan hal-hal itu.

Tentang pesan yang ingin dia sampaikan ke masa kecilnya:
“Saya enggak akan pernah mau menjelajah waktu dan memberi saran ke masa kecilku, karena saya takut banget sama efek riak. Apalagi momen-momen tersebut adalah waktu yang sulit. Tapi, kalau memang memungkinkan… Saya bakalan bilang sama diri sendiri untuk lebih sering memotret.”

Tentang pentingnya memercayai insting:
“Kita enggak memegang kendali sebesar yang kita kira, kan? Di banyak persimpangan, kamu mungkin bakalan bimbang harus memilih apa. Dalam pengalaman pribadiku, saya sering mengikuti intuisi. Saya memperoleh banyak keuntungan karenanya.”

Tentang memercayai orang lain:
“Saya sadar kalau mereka yang bilang saya gila sebenarnya bermaksud baik. Mereka enggak berusaha menyabotase hidupku. Kita enggak selalu bisa melihat apa yang orang lain lihat. Terkadang visimu menjadi milik pribadi hingga kamu menciptakannya jadi kenyataan. Orang lain akan melihat, merayakan, dan menyetujuinya. Itulah sebabnya kita harus memercayai orang lain. Agar yang lain bisa mempertimbangkannya ketika masih dalam proses. Daripada meremehkan ide orang lain, sebaiknya kita memercayainya dan meminta mereka memberi tahu apa yang kita lewatkan. Karena untuk menciptakan sesuatu, kamu harus melalui prosesnya. Kamu harus memiliki penemuan sendiri.”

Artikel ini pertama kali tayang di i-D