The VICE Guide to Right Now

Berikut 48 Alasan Absurd Aparat Cina Memenjarakan Muslim Uighur, Salah Satunya Berjenggot

Memiliki tenda, serta tidak mengonsumsi alkohol dan rokok dianggap tindakan "mencurigakan". Gara-gara hal sepele, minoritas muslim bisa ditahan di provinsi paling diksriminatif Tiongkok.

oleh Gavin Butler
03 Mei 2019, 9:57am

Foto ilustrasi via pxhere

Di Tiongkok, kamu bisa dijebloskan dalam kamp konsentrasi hanya karena tidak minum alkohol serta bersantap sahur sebelum subuh. Kebijakan diskriminatif itu akan kalian temukan di Provinsi Xinjiang, kawasan dihuni 12 juta warga etnis Uighur dan Kazakh yang beragama Islam. Aturan diskriminatif menjurus absurd itu dibuat pemerintah demi mengatur minoritas muslim yang dinilai berpotensi radikal.

Pejabat dan aparat keamanan Tiongkok rutin memantau perilaku “mencurigakan” untuk mengidentifikasi muslim Uighur yang dianggap punya kecenderungan menjadi ekstremis. Tanda-tanda tersebut di antaranya, memiliki tenda, menyuruh orang tidak menggunakan kata-kata kasar, dan bersedih ketika orang tuanya meninggal. Jika kamu kepergok melakukan tindakan macam itu, kamu bisa ditahan dan dipenjarakan di kamp pendidikan tanpa sidang sama sekali, menurut laporan Foreign Policy.

Berbagai perilaku dalam daftar “Empat Puluh Delapan Tanda Mencurigakan Kecenderungan Ekstremis"—disusun pengamat politik Tanner Greer dan terbit dalam bunga rampai China Story Yearbook 2018 oleh Australian National University— didasarkan pada wawancara mendalam tim Human Rights Watch bersama 58 orang dari etnis Uighur dan Kazakh.

Ke-58 narasumber itu berhasil lolos dari Xinjiang selama tiga tahun terakhir. Pada 2014, Partai Komunis Tiongkok meluncurkan “Kampanye Tindakan Keras Melawan Terorisme”. Ini upaya untuk melawan ekstremisme agama, tapi dengan cara menghukum dan mengendalikan ketat penduduk muslim Uighur hanya karena kepercayaan yang mereka anut. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan antara satu hingga dua juta anggota minoritas etnis Uighur di Tiongkok sempat ditahan selama periode itu. Mereka dipenjarakan di kamp konsentrasi untuk “dididik kembali” dan diindoktrinasi agar lebih cinta Tiongkok.

Gerry Groot, Guru Besar Kajian Tiongkok di University of Adelaide, sekaligus salah satu kontributor China Story Yearbook 2018, menyatakan "empat puluh delapan tanda tendensi ekstremis digunakan sebagai panduan untuk mengidentifikasi dan menyaring ekstremis keagamaan."

"'Tanda-tanda' ini adalah indikasi sosok itu sangat alim, yang ditafsirkan aparat Tiongkok sebagai kerentanan terpengaruhi ideologi ekstremisme," ujarnya saat dihubungi VICE melalui email. Padahal, tindakan yang dianggap mencurigakan ini sangat lazim ditemui pada muslim dari negara lain, atau bahkan tidak membahayakan. Gerry menyatakan pejabat-pejabat Tiongkok memilih bertindak keras pada semua orang muslim Uighur, daripada membiarkan calon pelaku teror lolos.

"Tiongkok berusaha keras melakukan prinsip pencegahan," katanya, "karena polisi dan pejabat setempat berisiko menghadapi sanksi dari pusat ketika ada minoritas muslim di Xinjiang yang terbukti menjadi ekstremis."

Muslim ada puluhan juta jiwa di Tiongkok. Tapi hanya minoritas muslim Uighur dan Kazakh yang mendapat perlakuan diskriminatif macam ini. Etnis Hui, yang juga mayoritas beragama Islam, relatif tidak diganggu aparat. Beijing berdalih etnis Uighur yang secara fisik lebih mirip orang Turki, dibanding etnis Han yang menguasai Tiongkok, selalu merawat keinginan memerdekakan Xinjiang. Makanya, orang Uighur sering menjadi sasaran kebijakan represif pemerintah pusat. Jaringan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), juga cenderung berhasil meradikalisasi orang Uighur dibanding muslim lain di Tiongkok.

Mayoritas narasumber yang diwawancara HRW mengaku pernah menghindari paling sedikit satu perilaku dalam daftar kontroversial tersebut. Mereka takut akan dikirim ke kamp pendidikan, yang lebih mirip kamp penyiksaan. Seperti ditegaskan Tanner Greer dalam laporannya, hanya segelintir aktivitas dalam daftar tersebut bisa dikaitkan dengan kemungkinan terorisme. Sisanya, kata Greer, lebih merupakan pengekangan kebebasan beragama. Misalnya larangan berjenggot atau berpuasa yang ditegakkan aparat Cina terhadap penduduk beragama Islam di Xinjiang. Tindakan-tindakan tersebut sama sekali tidak membahayakan, bahkan wajib dilakoni setiap muslim.

"Tujuan kampanye keamanan Tiongkok di Provinsi Xinjiang bukan untuk menyasar jaringan teroris seperti yang diklaim pemerintah, melainkan lebih mengarah pada pemusnahan identitas agama minoritas Uighur secara keseluruhan," demikian kesimpulan Tanner. "Kebijakan represif ini menciptakan suasana yang menakutkan dan meneror. Warga Uighur jadi takut melanggar batas-batas tak terlihat, yang diterapkan pada segala aspek hidupan mereka."

Berikut adalah seluruh daftar tindakan-tindakan "mencurigakan" yang dipakai pemerintah Cina untuk mengekang kebebasan minoritas muslim di Provinsi Xinjiang:

  • Memiliki tenda
  • Menyuruh orang lain tidak menggunakan kata-kata kasar
  • Berbicara dengan seseorang yang pernah ke luar negeri
  • Memiliki alat las
  • Menyuruh orang lain tidak melakukan dosa
  • Memiliki stok makanan berlebihan
  • Sarapan sebelum subuh (maksudnya sahur sebelum berpuasa)
  • Mengenal seseorang yang pernah ke luar negeri
  • Memiliki kompas
  • Berdebat dengan pejabat lokal
  • Menyatakan Tiongkok kalah dari negara lain
  • Memiliki lebih dari satu pisau
  • Menandatangani petisi yang mengeluhkan perilaku pejabat lokal
  • Mempunyai terlalu banyak anak
  • Pantang mengonsumsi alkohol
  • Tidak mengizinkan pejabat atau aparat hukum tidur di kasurmu, mengkonsumsi makananmu, dan tinggal di rumahmu
  • Mempunyai VPN untuk mengakses Internet
  • Pantang merokok
  • Tidak pernah membawa kartu identitas
  • Mempunyai WhatsApp
  • Menangis, berduka cita, atau bersedih ketika orang tuamu meninggal
  • Tidak mengizinkan aparat pemerintah mengambil sampel DNA-mu
  • Menonton video yang direkam di luar negeri
  • Mengenakan syal di depan bendera Tiongkok
  • Mengenakan hijab (jika usianya di bawah 45 tahun)
  • Rajin mengunjungi masjid
  • Rajin berdoa
  • Rajin berpuasa
  • Rutin mendengarkan ceramah keagamaan
  • Tidak mengizinkan aparat memindai matamu
  • Tidak mengizinkan aparat mengunduh isi ponselmu
  • Tidak membuat rekaman suara untuk diserahkan kepada aparat
  • Berbicara dalam bahasa ibu di sekolah
  • Berbicara dalam bahasa aslimu saat bertemu pegawai pemerintah
  • Berbicara dengan seseorang yang tinggal di luar negeri (via Skype, WeChat, dll.)
  • Mengenakan kaos dengan huruf-huruf Arab
  • Berjenggot
  • Mengenakan pakaian dengan simbol-simbol religius
  • Tidak menghadiri kelas propaganda wajib Partai Komunis Cina
  • Tidak menghadiri upacara bendera wajib
  • Tidak menghadiri sesi mempermalukan musuh politik pemerintah Tiongkok
  • Tidak mau mencela anggota keluarga atau dirimu sendiri di sesi mempermalukan musuh negara
  • Berupaya bunuh diri saat ditahan polisi
  • Berupaya bunuh diri di kamp pendidikan
  • Melaksanakan pemakaman tradisional sesuai syariat Islam
  • Mengundang lebih dari satu anggota keluarga ke rumah tanpa memberitahu polisi terlebih dahulu
  • Bersaudara dengan siapapun yang melakukan hal-hal di atas

Follow Gavin di Twitter atau Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.