Iklan
Pendidikan Tinggi

Sorotan Crowdfunding Lanjut S2 Sejatinya Debat Soal Ketimpangan Pendidikan di Indonesia

Kenapa ada yang merasa platform patungan dana tak layak dipakai buat ongkos lanjut kuliah, seperti permintaan seorang mahasiswa Indonesia di Oxford? Berikut respons sebagian anak muda yang kami hubungi.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja Dan Adi Renaldi
11 Mei 2019, 7:05am

Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng.

Debat penting ini berawal dari upaya penggalangan dana di platform crowdfunding KitaBisa.com, yang dilakukan seorang mahasiswi Indonesia di Universitas Oxford bernama Kay Jessica. Penggalangan dana tersebut dia lakukan buat memenuhi kebutuhan meneruskan S2 bidang hukum di Oxford University, yang terancam tidak selesai akibat kesulitan biaya.

Dalam keterangan Kay di laman penggalangan dana itu, crowdfunding merupakan “pilihan terakhir” yang terpaksa dia lakukan, karena ibunya sudah hampir menjual seluruh aset keluarga. Sementara sang ayah sedang berjuang melawan kanker stadium empat.

Petisi online ini mulai ramai setelah disuarakan influencer Gustika Jusuf-Hatta (postingan awal yang memicu belasan ribu retweet dan diskusi itu telah dihapus, mengingat target bantuan dana sebesar Rp 178 juta untuk Kay telah tercapai, bahkan melebihi target). Dalam penjelasannya di situs KitaBisa.com, Kay mengaku sudah mencoba bekerja di Inggris sambil mencari pinjaman. Tapi upaya itu belum cukup melunasi biaya tesis dan semester akhir. Karena bermacam cara mentok, dia memberanikan diri meminta patungan dana.

Donasi yang dibuka Kay lantas memicu pro dan kontra. Tak sedikit pengguna Twitter yang menggali informasi pribadi soal Kay lewat instagram, lalu mendapati beberapa barang mewah pernah digunakan Kay dalam foto-fotonya di medsos. Debat pun jadi melebar ke mana-mana. Sebagian warganet merasa alasan crowdfunding yang diminta Kay "tidak esensial", atau bahkan terkesan "egois".

Sebagian pihak yang pro menyayangkan, kenapa ada saja warganet yang julid dan mempermasalahkan permintaan Kay, padahal niatnya tidak merugikan siapapun. Apalagi respons terhadap permintaan ini sederhana saja, tinggal mau membantu atau tidak.

Sebaliknya, bagi pihak yang kontra, poinnya bukan semata mereka iri atau tidak bersimpati pada persoalan Kay. Melainkan semangat patungan ini dari awal terkesan abai pada realitas timpangnya akses pendidikan di Tanah Air, serta privilese sebagai kelas menengah atas yang sebenarnya dimiliki si penggalang dana.

Sebagian juga melontarkan argumen berbasis moral, untuk menolak patungan dana sebagai cara membantu tercapai cita-cita pribadi seseorang.

Mengingat ada dua posisi ekstrem menyikapi konsep patungan untuk studi lanjut di luar negeri ini, VICE merasa perlu memperluas horizon diskusi. Kami meminta beberapa anak muda berbagi pendapat seputar perlu tidaknya crowdfunding dipakai memenuhi motivasi personal, khususnya meraih mimpi kuliah di kampus idaman. Kami juga minta pandangan mereka, apakah perdebatan tempo hari punya sisi lain yang bisa kita renungkan bersama.

Sekilas, keempat narasumber yang kami hubungi sepakat: debat di medsos soal permintaan Kay bukan sebatas suka atau tidak suka pada sosok si penggalang dana. Permintaan patungan ini jadi amat ramai, karena warganet sedang memperdebatkan gagasan masing-masing seputar cara kita memaknai privilese, termasuk soal pentingnya cita-cita memperoleh pendidikan terbaik (dan jalan mengongkosi cita-cita tersebut).

Barangkali beberapa informasi penting perlu dijabarkan di sini. Menurut data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dari seluruh demografi pelajar di Tanah Air, baru 30 persen yang bisa melanjutkan studi ke jenjang strata satu. Pemicu utamanya karena ketiadaan dana. Berbagai skema beasiswa yang dikucurkan pemerintah menjangkau tak sampai 10 persen total mahasiswa dalam satu angkatan, yang rata-rata mencapai 4 juta orang saban tahun.

Anggaran beasiswa ideal, menurut Menristekdikti Muhammad Nasir, seharusnya Rp10 triliun. Saat ini pemerintah sanggup menyediakan Rp3,5 triliun, itupun dibagi untuk beasiswa kuliah dalam negeri maupun mancanegara, di berbagai tingkatan strata. "Dibutuhkan peran dan partisipasi lembaga-lembaga swasta untuk memajukan pendidikan di Indonesia," kata Nasir saat dihubungi media beberapa waktu lalu.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang terhitung paling agresif memberikan bantuan biaya lanjut anak muda Indonesia kuliah ke luar negeri sejak enam tahun terakhir, baru bisa mengongkosi 20.225 orang, merujuk data terbaru per Februari 2019. Artinya, pendidikan tinggi masih menjadi kemewahan tersendiri bagi banyak anak muda Indonesia, yang tak bisa diraih semata mengandalkan kemampuan akademis.

Angka-angka tersebut belum termasuk diskusi soal keterkaitan titel sarjana dengan kemampuan mahasiswa memperoleh pekerjaan selepas lulus. Sebab, dari pengakuan Kemristekdikti, menggenjot jumlah sarjana saja tidak ideal ketika banyak mahasiswa yang terpaksa bekerja di luar bidang studinya. "Sekarang yang terjadi adalah belum terjadi dengan baik antara kurikulum yang dibangun di perguruan tinggi dengan industri," kata Nasir. Berjuang bisa kuliah di kampus idaman hanya satu dari sekian rintangan yang mengintai anak muda Indonesia akibat lemahnya integrasi pendidikan tinggi dengan industri yang menyerap angkatan kerja. Belum lagi penyediaan lapangan kerja yang sesuai bagi mahasiswa Indonesia yang beruntung bisa kuliah di luar negeri.

Pendek kata, debat ini idealnya jangan berhenti sebatas setuju/tidak setuju soal niat patungannya. Semua pihak yang merespons ajakan galang dana Kay tempo hari perlu lanjut membicarakan sekian penting yang sering terlewatkan. Topik debat ini membuka mata kita tentang parahnya ketimpangan akses terhadap pendidikan tinggi di Tanah Air, serta peluang kreatif mengatasi hambatan tersebut.

Berikut jawaban beberapa anak muda yang dihubungi VICE:

Hani Ramadhani, 26, Manajer Komunikasi

VICE: Halo Hani. Kamu mengikuti pro-kontra crowdfunding mahasiswa yang ingin merampungkan kuliah di Oxford? Apa pandanganmu soal pemakaian platform patungan dana buat biaya kuliah pribadi?
Hani Ramadhani: Iya, aku ngikutin karena kemarin lihat seliweran di Twitter. Sebenarnya crowdfunding untuk biaya kuliah lumayan lazim. Di luar negeri banyak orang yang pakai platform itu sebagai alternatif student loan yang bunganya gede.

Kamu sendiri setuju atau tidak sama konsep patungannya?
Aku punya mixed feelings sih soal ini. Enggak ada salahnya sama sekali Kay crowdfunding buat ngelunasin tuition fee dia. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, banyak banget—I can't stress this enough BANYAK BANGET—yang jauh lebih butuh bantuan dari pada Kay. Termasuk mereka yang kebutuhan pokoknya belum terpenuhi, atau yang punya kondisi darurat medis tapi enggak punya dana menanganinya. Apakah itu jadi bikin Kay enggak "boleh" menggalang dana buat biaya kuliahnya? Aku pikir enggak juga.

Jadi, kamu memahami alasan ada orang tidak sepakat dengan permintaan crowdfunding semacam itu?
Aku paham betul logika di balik ketidaksepakatan orang sama pendekatannya Kay. Pertama, karena ini kuliah S2. Iya sih, di dunia yang ideal harusnya akses ke pendidikan lanjutan jadi hak semua orang. Tapi kan sayangnya yang ideal cuma ada di kepala. Kuliah S2 tuh menurutku sebuah kemewahan sih. Enggak bisa dipakai sebagai alasan "agar bisa memperbaiki kualitas hidup" karena dengan punya gelar S1 aja, menurutku mengindikasikan hidupmu sudah jauh lebih beruntung dibanding banyak orang Indonesia lainnya.

Menurutmu apa yang harus kita bahas lebih lanjut selain layak tidaknya crowdfunding semacam itu?
Perdebatan ini sebenarnya penting buat ngebuka dialog bersama soal konsep privilese; soal pengaruh kelas ekonomi-sosial terhadap kemampuan seseorang mencapai hal-hal yang melampaui kebutuhan pokok; serta soal enggak meratanya peluang [mengakses pendidikan tinggi] di negara ini.

Kamu sendiri kan sempat kuliah S2 di luar negeri. Seandainya berada dalam posisi yang sama, apa yang akan kamu lakukan?
Mungkin aku enggak punya persistensi dan daya juang sekuat Kay, ya. Tapi kalau aku ada di posisi dia, dari awal aku enggak bakal ambil kesempatannya dan mempertaruhkan banyak hal. Apalagi kalau ada anggota keluarga yang lagi sakit dan juga butuh dana. Aku akan coba lagi tahun depan dengan mendaftar beasiswa. Tidak masalah kalau harus mengulang prosesnya dari awal. Apa lagi udah punya bahan esai yang kuat kayak, "Saya keterima Oxford dengan partial scholarship tapi enggak mampu jadi saya tolak dan karenanya saya butuh beasiswa ini." Tiap orang memilih sendiri bentuk perjuangannya. Pilihan Kay adalah kerja bagai kuda dan crowdfunding. Sementara pilihanku adalah mengulang proses seleksi kampus idaman dan mendaftar beasiswa lainnya.

Rosyid Hakim, 34, Peneliti, pernah mendapat beasiswa di UK

VICE: Halo Rosyid. Menurutmu layakkah seseorang meminta bantuan dana kuliah lewat platform patungan dana?
Rosyid Hakim: Biaya S2 mahal dan banyak orang yang utang sana-sini buat kuliah. Kan yang bersangkutan juga awalnya pengin utang, tapi enggak ada yang mau [meminjami]. Jadi opsi crowdfunding menurutku cerdik sih. Enggak salah sama sekali dan malah tidak menimbun utang. Dia udah ngasih alasan kenapa sampai enggak punya duit. Cita-citanya juga besar. Jadi patut dibantu menurutku.

Mungkinkah patungan dana bisa menjadi solusi mengatasi mahalnya biaya kuliah, termasuk jika niatnya lanjut studi ke luar negeri?
Bisa jadi. Sebenernya banyak opsi beasiswa. Tapi sampai sekarang kita tahu sendiri kan gimana ketatnya persaingan. Bisa jadi nanti banyak orang makin terinspirasi buat pendanaan kolektif. Sisi positifnya makin banyak orang bisa kuliah.


Tonton dokumenter VICE mengenai persoalan pelecehan seksual yang jadi bara dalam sekam pendidikan tinggi di Indonesia:


Menurutmu kenapa banyak yang tidak sepakat patungan dana dipakai untuk membiayai studi S2?
Namanya ruang publik, pasti ada banyak pendapat yang berbeda. Enggak masalah. Toh goal dari crowdfunding-nya udah terpenuhi kan? Bukti kalau masih banyak orang yang peduli.

Arshinta Rahma, 21, Mahasiswi

VICE: Halo Arshinta. Apa responsmu melihat perdebatan di medsos seputar upaya crowdfunding buat memenuhi biaya kuliah?
Arshinta Rahma: Jujur banyak temen gue yang mengalami hal sama. Putus kuliah di tengah jalan gara-gara masalah uang. Jadi [Kay] termasuk kreatif dan beruntung sih. Banyak yang terpaksa Drop Out kan. Menurutku wajar dan enggak masalah, selama alasan buat bikin crowdfunding itu jelas.

Kamu sendiri kelak tertarik juga buat mulai crowdfunding kalau mau S2 atau S3?
Mungkin ya, tapi aku mau nyoba nyari beasiswa dulu kalau lulus nanti. Buat ngetes kemampuanku juga. Kalau orang tua sih sebenernya mau ngebiayain, tapi kita enggak pernah tahu gimana ke depannya kan.

Apakah menurutmu perdebatan ini penting?
Daripada utang atau bikin hal yang aneh-aneh, at least ini halal dan ga merugikan siapapun, jadi kenapa pada protes?

Laura Harris, 30, Dokter

VICE: Hi Laura. Apa pendapatmu soal pemakaian crowdfunding buat biaya kuliah? Setuju atau enggak?
Laura Harris: Aku bersimpati sama dia. Aku juga mendoakan yang terbaik untuk upayanya lanjut studi serta keluarganya. Karena itu, aku tidak menyepelekan perjuangan yang harus dia hadapi. Sayang, kisah hidup semacam itu tidak hanya dialami olehnya. Ada banyak orang pandai yang kukenal, yang bercita-cita tinggi, terpaksa gagal lanjut sekolah karena hambatan keuangan. I appreciate her honesty and bravery to put her story out there, but the fact that she made a crowdfunding page in the first place runs on the premise that her case is special, thus people should donate to her cause. So on that basis, I disagree on this whole campaign to fund her academic fee.

Tapi kan patungan ini sukarela. Menurutmu kenapa banyak orang punya justifikasi untuk menyatakan penolakan?
Galang dana ini jadi ramai karena di-share sama influencer media sosial. Karena permintaan galang dananya terasa "anti-mainstream", wajar lah kalau ada komen yang beragam dari netizen. Menurutku, debat ini terlanjur terpolarisasi sih, apapun pandangan kalian soal pemakaian ideal laman crowdfunding. If you wanna donate, it's your choice. But I personally will not.

Mungkinkah galang dana memang bisa dipakai sebagai alternatif mencari dana pendidikan?
Menurutku galang dana bagaimanapun adalah solusi temporer yang lebih cocok dipakai membantu orang yang sangat membutuhkan dan hasilnya terukur. Misalnya membangun infrastruktur, mendukung proyek LSM, atau menyokong engineers yang sedang mengembangkan teknologi tepat guna untuk kepentingan banyak orang. Jadi, buatku, crowdfunding untuk biaya sekolah atau travel is just beyond the line.

Andai menghadapi kondisi serupa, apa yang akan kamu lakukan?
No crowdfunding. Because as much as I need the money, I understand there are still many others who need it more. And I would want people to allocate their donation for other impactful cause. I would probably ask for loans from families or postponed the study for scholarship opportunity or when I have reached dead-end, accept the fact that it is not my time yet to do this study. Life will continue regardless, but I will not be a failure just because I fail to attain a degree from a prestigious school. And I will make sure I get a better chance in the future.