Iklan
Dunia Kerja

Hal-Hal Ini Perlu Kamu Ketahui Sebelum Melakoni Magang

Ikuti saran-saran berikut supaya tenagamu enggak dikuras habis dan waktumu tak terbuang sia-sia selama magang.

oleh Leila Ettachfini
04 Februari 2019, 10:00am

Ilustrasi magang oleh tim Broadly

Aku pertama kali magang di perusahaan butik PR di Upper East Side Manhattan dekat Central Park. Ya, kedengarannya ‘wow’ banget kalau aku masukin pengalamannya ke CV. Padahal kerjaannya enggak sekeren itu. Malah lebih mirip kayak mimpi buruk. Sebagai mahasiswi baru yang pengalamannya sebatas kerja di restoran orang tua, kedai smoothie, dan toko sepatu ALDO, aku mengira kekejian atasanku, disuruh mengerjakan tugas pribadinya tanpa dibayar, dan menahan lapar sebelum kerja adalah hal normal dan semua orang mengalami itu. Ternyata aku salah.

Akhirnya, aku belajar mengenali tanda-tanda aneh semacam ini di tempat magang. Aku enggak mau orang lain bernasib sama denganku. Berhubung aku pernah mengalami gimana rasanya jadi Andy Sachs di The Devil Wears Prada, aku mau kasih beberapa tips yang bisa kalian pertimbangkan sebelum magang. Di artikel ini, beberapa mantan anak magang dari berbagai bidang turut memberi saran yang perlu diperhatikan semuanya.

Jangan pernah mau menerima tawaran magang tanpa upah

Mencari pekerjaan magang yang digaji memang susah-susah gampang, tapi perusahaan yang baik masih ada kok. Kalau kalian sudah menemukannya, jangan buang-buang waktu untuk melamar di sana. Jika saat ini kalian sedang magang tanpa digaji, coba tanya ke HRD apakah mereka mau membayar tenagamu. Kalau mereka masih mempekerjakanmu, itu artinya mereka sangat butuh kalian!

Upahnya enggak mesti dalam bentuk uang. Perusahaan yang bersedia menggaji anak magang menandakan bahwa mereka menghargai tenaga kalian. Itu berarti perusahaan menganggapmu serius, tak seperti tawaran magang yang cuma menjanjikan pengalaman. (Tapi, kalau kalian orang kaya dan memang hanya butuh pengalaman, ya silakan magang tanpa digaji. Beri ruang bagi mahasiswa yang hidup pakai uang sendiri.)

Di Indonesia sendiri, PerMenNaKerTrans Nomor PER/22/MEN/IX/2009 telah mewajibkan perusahaan untuk memberi uang saku kepada karyawan magang. Jadi, kalau perusahaan tempat kalian PKL enggak kasih upah, kalian bisa menyinggung fakta ini ke HRD. Membela hak-hak kalian mungkin enggak selamanya diterima dengan baik, tapi menyuarakan ketidakpuasan sebagai pekerja bisa menjadi awal penegakan hukum yang berpihak pada hak-hak karyawan.

Yang terakhir, apabila perusahaan enggak mungkin kasih gaji, kalian bisa tanya ke atasan apakah mereka bersedia kasih uang saku dan makan siang. Seenggaknya itulah yang bisa mereka lakukan.

Pahami Apa Hak dan Kewajibanmu Sebelum Mulai Magang

Enggak jarang anak PKL cuma disuruh jadi tukang fotokopi atau bikin kopi. Itulah sebabnya kalian harus cermat dalam memilih tempat magang. Cari perusahaan yang benar-benar memberikan pengalaman kerja supaya kalian bisa menilai sendiri cocok atau enggaknya bekerja di bidang itu setelah lulus. Aku yakin banyak dari kalian yang magang karena butuh pengalaman. Tapi, kalau kalian kepingin pansos (panjat sosial) doang… nikmati saja jadi tukang fotokopi.

Ada beberapa cara untuk mengetahui apa yang akan dihadapi saat magang nanti. Apabila mau PKL di perusahaan besar, kalian bisa cek ulasan karyawannya di situs web seperti Qerja atau JobStreet. Kalau perusahaannya kecil, coba tanya ke teman atau saudara yang mungkin pernah kerja di sana. Saat wawancara, kalian dapat mengajukan pertanyaan seperti: “Apa saja tugas karyawan magang setiap harinya?” atau “Apa tanggung jawab saya jika diterima magang di sini?”

Jangan Takut Suarakan Keluhan atau Pertanyaanmu Saat Magang

Waktu mulai magang dulu, aku takut nanya-nanya ke rekan kerja karena enggak mau mengganggu waktu mereka. Ujung-ujungnya aku jadi pendiam dan menurut disuruh apa saja. Kalian mungkin mengira itu perilaku sopan, tapi sebenarnya orang lain malah menganggapmu enggak punya ide atau enggak semangat kerja. Berani untuk bertanya! Lebih baik tanya di awal, daripada mengulangi pekerjaan nantinya.

“Bersikap tegas itu penting!” kata Brooke Kessler, 21, yang magang di sebuah agensi kreatif di pusat kota New York. “Kasih pendapat saat sedang meeting atau feedback untuk menunjukkan kamu berkomitmen dan layak menjadi bagian dari tim.”

Perusahaan terobsesi dengan anak muda. Kalian memiliki wawasan yang berbeda dari manajer senior. Ini bisa jadi aset besar. Makanya pamerkan saja isi otakmu!

Apabila rekan kerja mengabaikan atau ogah-ogahan menjawab pertanyaanmu, mesti diingat kalau itu mungkin bukan karena kesalahanmu. Bisa jadi mereka sedang stres atau lelah karena keseringan lembur dan digaji sedikit. Mungkin juga mereka lagi ngejar deadline atau belum sempat cek email dan Slack. Atau mereka sedang punya masalah di rumah. Jangan terlalu dimasukkan ke hati. Beri mereka waktu, dan tanya lagi dengan sopan nanti.

Jalin Koneksi Saat Magang

“Saranku kamu sebaiknya ngobrol dengan teman sejawat,” kata Noa Azulai, yang magang di Broadly musim panas lalu. “Slack cuma buat ngebahas pekerjaan. Kamu bisa menambah koneksi dengan ngajak ngobrol orang di sekitarmu sebelum masuk kerja, saat istirahat makan siang, atau pas waktu kosong.”

Teman satu kantor mungkin bisa menebak kepribadianmu saat meeting atau lewat email, tapi menjalin pertemanan dengan mereka punya efek yang lebih awet. Pastikan mereka tahu siapa kalian sebenarnya, dan begitu juga sebaliknya. Siapa tahu saja mereka punya kerjaan buatmu nanti. Oh ya, enggak ada salahnya buat temenan sama orang di divisi lain.

Jangan Malas dan Selalu Kreatif

Bekerja dengan baik bisa membuat manajer dan rekan kerja cepat menghargaimu. Lagi enggak ada kerjaan? Tawarkan bantuan kepada teman yang sedang butuh. Mereka akan menghargai dan mengingat kebaikanmu.

Jadilah pribadi yang kreatif dan unik supaya kalian bisa membantu mereka dengan atau tanpa harus bertanya. Minat pribadi apa yang kira-kira bisa kalian terapkan saat magang? Lakukan sesuatu yang membuatmu lebih menonjol daripada anak PKL lain.

Sadarilah Magang tidak selalu menyenangkan

Kalian mungkin cuma PKL di sana, tapi bukan berarti orang lain bebas merendahkanmu. Jadi, persiapkan diri kalau suatu saat nanti kalian diminta menyelesaikan tugas membosankan karena kalian anak magang. Biasanya mereka bakalan nyuruh kalian mentranskrip, mengarsip dokumen atau memasukkan angka di spreadsheet. Katakan kepada manajer kalau dirasa pekerjaanmu terlalu berlebihan.

Ingat: Kalau kalian enggak digaji, kalian masih bisa minta bayaran buat tugas yang melampaui cakupan magang. Menurut Departemen Tenaga Kerja, pemagangan tanpa gaji hanya dibolehkan apabila “pekerjaan karyawan magang untuk melengkapi, bukan menggantikan karyawan yang digaji seraya memberikan manfaat edukasi signifikan bagi peserta magang.” Dengan kata lain, perusahaan telah melanggar peraturan apabila enggak membayar jasamu setelah meminta kalian mengerjakan sesuatu yang biasanya dibayar. Kalian bisa membicarakannya dengan manajer.

Selain itu, jangan berharap ketinggian. Kalian mungkin magang di Rolling Stone, tapi bukan berarti bisa dapat kesempatan ngobrol bareng musisi favorit. Kerja magang enggak seseru kayak yang ada di TV dan film. Kalian juga jangan terlalu berharap bakal direkrut jadi karyawan tetap. Ada nilai dalam pengalamanmu yang menentukan cocok tidaknya kalian bekerja seperti itu untuk jangka panjang. Fokus pada keterampilan baru yang bisa diasah dan koneksi yang bisa membantumu mendapat pekerjaan tetap suatu saat nanti.

Jangan Ragu Perjuangkan Hakmu

“Meskipun cuma magang, kamu enggak bisa membiarkan karyawan senior yang merendahkan atau menghina dirimu,” kata Sean Glavin, anak magang 22 tahun di industri film/TV. “Atasanmu pasti mau dengar kalau ada karyawannya yang berperilaku buruk.”

Bela diri kalian sendiri ketika menghadapi situasi seperti pelecehan dan penghinaan. Kalian berhak menolak permintaan rekan sekantor kalau kerjaan lagi banyak. Kalian juga boleh minta libur sehari. Jangan sampai kalian seperti aku. Waktu magang dulu, aku enggak ikut UTS karena harus menyelesaikan transkripsi panjang. Aku terima saja disuruh seperti itu, padahal aku sadar banget enggak punya waktu banyak. Apabila segan bilang “enggak”, kalian bisa jelasin kalau banyak yang perlu dikerjakan. Misalnya, “Sebenarnya aku mau bantu, tapi aku harus selesai menyusun riset dan bikin PowerPoint Selasa besok. Gimana kalau aku kerjain hari Rabu saja?”

Jangan sampai kalian merasa terjebak. Kalian bisa dan harus berhenti jika magangnya membuatmu sengsara karena terlalu menuntut. Apalagi kalau kalian kerja secara cuma-cuma.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly