Lion Air Jatuh di Karawang

Melihat Dari Dekat Kerja Regu Penyelamat Mengevakuasi Serpihan dan Korban Lion Air di Perairan Karawang

Di balik kesigapan para personel regu penyelamat di lapangan, mereka juga orang biasa yang masih gemetar melihat korban musibah yang kehilangan nyawa.

oleh Yvette Tanamal
01 November 2018, 9:49am

Personel Basarnas memantau pemindahan puing yang telah dievakuasi. Foto oleh Arzia Tivany Wargadiredja

Baru lewat dua minggu semenjak William Bram Wenno pulang dari Palu untuk mengevakuasi korban bencana alam dari puing-puing reruntuhan gedung. Misi yang menguras tenaganya berminggu-minggu tersebut ternyata bukan misi terakhirnya tahun ini. Di pagi Senin bertanggal 29 Oktober, tiba tiba ia mendapat panggilan ke Tanjung Priok. Ada pesawat jatuh, kabarnya. Ia harus bertugas lagi. Tanpa banyak tanya, William segera melaporkan diri ke base Badan Search and Rescue Nasional (BASARNAS). Dengan kerabat kerjanya dulu di Palu, Titus Charles Ibe, William diberi tanggung jawab untuk mengurusi logistik.

Ia kemudian tahu, maskapai yang jatuh adalah pesawat penumpang Lion Air penerbangan JT610. Pesawat itu membawa 189 penumpang, pada hari di mana musibah terjadi, harapan masih menyala, semoga saja penumpang banyak yang selamat.

Delapan tahun yang lalu, William masuk menjadi bagian dari Tim SAR. Hanya tiga tahun kemudian, dirinya diangkat menjadi personel Basarnas Special Group (BSG). BSG merupakan tim elit yang biasa hanya diturunkan ketika terjadi musibah yang tak dapat ditangani sendiri oleh kantor SAR. Untuk William, pekerjaan ini jauh dari kata mudah. “Kadang, kesulitan itu datangnya dari cuaca yang tak menentu, atau arus laut yang kencang,” Ucapnya. Tetapi, terlebih dari cuaca buruk atau arus yang tak bersahabat, William mengaku bahwa ujian mental yang harus dihadapinya lebih rumit dari apapun. “Namanya manusia. Pasti ada saja waktunya ketika kita menghadapi sesuatu yang sulit untuk kita sendiri terima. Jalan keluarnya hanya satu. Jangan panik.”

Sejak jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Karawang, William serta tim-nya bekerja tanpa mengenal lelah untuk memastikan semua tim penyelam lengkap tanpa kekurangan peralatan apapun. Ini berarti bahwa mereka harus bolak-balik berlayar dari posko Tanjung Priok ke rescue zone, kapal yang diapungkan di satu titik di perairan Karawang. Menggunakan kapal kecil berkapasitas lima belas orang, William melepas sauh dari Tanjung Priok. Hari masih pagi walau sengat matahari mulai pelan-pelan membakar kulit. Sepuluh menit setelah kapal melaju, William meraih sekotak rokok dan duduk bersama Titus Charles Ibe di belakang kapal. Inilah waktu-waktu luang yang langka bagi mereka.

“Untuk misi ini, kami bekerja di logistik, menyiapkan barang-barang untuk tim yang ada di

rescue zone. Kami yang menyiapkan kantong jenazah, peralatan menyelam, dan lain lain. Stress juga, pekerjaan kita melihat mayat terus,” Ujar Titus, lalu tertawa sekenanya, “Obatnya ya rokok aja.” William turut menambahkan. “Kami juga tetap sudah lulus latihan untuk menyelam dan lain lain. Tidak semua misi menjadi petugas logistik. Kami terlatih juga untuk menyelam dan rescue,” jelasnya. Belum ada sepuluh menit mereka duduk untuk mengobrol, arus laut tiba tiba menjadi garang. Air garam dengan deras mengalir di bagian belakang kapal. William cepat cepat berdiri dan menghadap komando nya di depan, Jenderal Bambang Suryo Aji. Mereka sudah hampir sampai di rescue zone.

Ketika sampai di rescue zone, William tak buang buang waktu. Dengan cekatan, ia langsung mendekat ke tempat dimana puing-puing pesawat dikumpulkan dan memeriksa keperluan tim pemungut serpihan dan tim penyelam. Ia sibuk sendiri— berjalan kesana kemari untuk memastikan bahwa semua kebutuhan terpenuhi. Sesekali ketika sedang istirahat, ia berkumpul dengan teman-teman sesama tim SAR untuk bersenda gurau dan mengobrol, mengusir suasana suram dan tegang yang terpatri jelas pada tumpukan puing-puing pesawat. Ketika waktunya bekerja, William dengan cermat mengerjakan tugasnya— mulai dari menyiapkan tali tali kapal, jerigen air, pelampung keselamatan, dan lain lain.

Ketika William selesai dengan pekerjaannya, matahari sudah menyingsing tinggi di atas langit. Wajahnya tampak cerah, ada kelegaan yang terlukis di wajahnya. Namun, hari masih panjang, dan William masih harus berlayar kembali ke Tanjung Priok untuk mendapatkan instruksi selanjutnya. Setelah berpamitan dengan temannya, William masuk lagi ke kapal kecilnya. Ia mengambil sebatang rokok, tapi lalu menyimpannya lagi. “Masih ada pak bos. Nggak enak, nanti aja deh,” Ujarnya sambil tertawa kecil. Ketika kapal kecil itu berlayar memutari rescue zone, William bersenandung merdu, membawakan lagu dari kampung halamannya di Papua. “Aku kalau ada waktu luang selalu olahraga,” Katanya. “Aku bermain basket. Tapi, badan ya begini begini aja. Nggak turun turun! Aku mau kurus seperti dulu.”

Dengan senyuman yang jenaka dan pundak yang terasa lebih ringan setelah menjalankan kewajiban di rescue zone, William mulai bercerita. “Awal awal pelatihan SAR ini susah sekali, apalagi saya kan di BSG. Kami diajari menyelam, harus tau bagaimana caranya menyelamatkan orang dari medium apapun. Walau di laut, di hutan, di udara, atau di kota,” Ucapnya. Tim Istimewa Basarnas ini memang adalah kelompok yang bertugas untuk menangani bencana dengan kesulitan tinggi, sehingga personel-personelnya juga diwajibkan untuk lulus sederetan ujian dan pelatihan sebelum terjun ke lapangan.

Duduk di sebelah penulis VICE, William mulai bertanya tanya sebelum bercerita lagi tentang hidupnya diluar menjadi anggota tim SAR. “Aku bingung lho, mbak. Cara menulis itu sebenarnya gimana? Aku sebenarnya punya blog dulu, aku pengen menulis,” Ucapnya tersenyum malu malu. “Aku suka foto foto juga. Tapi ya begitu, aku nggak tau.. Gitu, deh..” Lanjutnya sambil tertawa. William mengaku, bahwa dia memiliki keminatan di bidang kesenian seperti bernyanyi, menulis, dan fotografi. Tetapi lantaran tak punya kepercayaan diri untuk memulai, William akhirnya hanya memendam keinginan tersebut.

“Aku tahu, pasti menarik kalau aku menulis. Di sini banyak cerita,” Katanya. “Tapi, aah… begitu lah.” Lanjutnya tertawa sambil lalu berjalan ke belakang kapal untuk menggulung tali kapal. Sesekali, ia bernyanyi pelan sambil memandang laut. Ketika selesai menggulung tali, ia kembali duduk lagi di samping kapal.

“Pertama kali aku melihat mayat saat bertugas, ya, sebagai manusia, pasti ada rasa takut yang luar biasa. Tetapi ya, kuncinya, kita jangan sampai mengenang ngenang itu setelah tugas selesai. Kalau kita terus ingat, maka rasa takut itu tidak akan hilang,” Ceritanya. William hanya tertawa kecil ketika ditanya apakah ia mendapat fasilitas trauma psikis setelah misi yang traumatis. “Tidak ada. Kerja di sini harus ada nyali. Kalau tak ada nyali, jangan kerja menjadi Tim SAR.”