Membeli iPhone XS Tidak Sepenuhnya Baik Bagi Lingkungan

Bukan cuma kami lho yang mikir begitu, pakar juga sepakat. Bahkan Apple mengakui bisa terjadi masalah lingkungan serius kalau orang keseringan gonta-ganti hape.

|
Sep 14 2018, 8:35pagi

Sumber foto iPhone XS: Apple

Pada saat pengumuman versi terbaru iPhone, juru bicara Apple mengatakan, "Kami memastikan kalau ponsel baru ini dirancang tahan lama," kata Lisa Jackson, wakil presiden Divisi Lingkungan Apple. "Kami memakai hardware yang tidak mudah rusak, dan perangkat lunaknya juga tidak kalah canggih. Kamu tidak perlu gonta-ganti ponsel lagi. Pakai satu ponsel sangat baik untuk lingkungan."

Memang ironis kalau bilang pakai ponsel yang sudah ada itu 'baik untuk lingkungan' saat perusahaanmu memperkenalkan tiga versi terbarunya (iPhone XR, iPhone XS, dan iPhones XS Max). Minimal, kalau kita meminggirkan sikap nyinyir, ucapan Jackson ada benarnya.

Terlepas dari pemasaran Apple yang mengedepankan konsep ramah lingkungan, terus-menerus menciptakan iPhone versi terbaru bisa merusak planet. Ahli metalurgi Brian Merchant pernah menjelaskan kepada Motherboard bahwa ada sekitar 34 kg bahan baku yang harus ditambang untuk membuat iPhone. Perkiraan itu belum termasuk produk sampingan dari rantai pasokan global Apple, yang mencakup pengiriman bahan baku serta barang jadi ke seluruh dunia.

Apple berharap mereka bisa berhenti menggunakan bahan baku tambang untuk menciptakan iPhone baru (mereka ingin mendaur ulang bahan bakunya), tetapi satu setengah tahun setelah pengumuman mereka belum juga membeberkan rencananya. Jackson malah mengatakan kalau mereka hanya menggunakan sedikit bahan daur ulang untuk membuat iPhone baru.

Ambil contoh cangkang speakernya, "terbuat dari 35 persen plastik daur ulang setelah penggunaan." Apple juga sudah mulai memakai timah daur ulang. Ini harus diakui langkah yang bagus, meskipun ada sedikit perubahan desain iPhone. "Timah daur ulang itu bagus, tapi sangat mudah," kata Kyle Wiens, CEO iFixit yang berusaha mendorong hak konsumen memperbaiki iPhone secara swadaya, saat dihubungi Motherboard via chat online.


Tonton dokumenter VICE mengenai meledaknya bisnis livestreaming dengan sosok perempuan cantik di Tiongkok:



Tantangan terberat adalah mendaur ulang logam tanah jarang dalam iPhone. Tak peduli apa yang dijanjikan Apple, mereka tidak mungkin membuat iPhone dengan bahan yang sepenuhnya daur ulang apabila tidak punya rantai pasok bahan yang memadai dan—dalam beberapa kasus—cara daur ulang yang sudah dibuktikan secara ilmiah.

Akibat keterbatasan ini, sebagian besar ahli lingkungan beranggapan kalau kita sebaiknya tidak sering gonta-ganti ponsel (seperti yang dibilang Jackson). Akan tetapi, produk Apple mudah rusak dan sulit diperbaiki. Mending beli baru, daripada punya barang yang pemakaiannya sudah tidak optimal.

Pada acara-acara besar Apple yang ditonton jutaan orang, mereka membesar-besarkan komitmennya terhadap lingkungan. "Kami tidak henti-hentinya memikirkan cara merancang produk yang ramah lingkungan," kata Jackson. Apple mengumumkan program daur ulang iPhone dan memperkenalkan robot pembongkar Liam dan Daisy. Sayangnya, kedua robot ini tidak mampu menangani jumlah daur ulang yang membludak karena ratusan juta iPhone laku terjual setiap tahunnya.

Sementara itu, Apple menyuruh pendaur ulang barang elektronik yang bekerja sendiri untuk menandatangani kesepakatan "pembongkaran" ponsel. Itu artinya, semua produk Apple yang masuk ke pabrik akan dihancurkan dan didaur ulang, meskipun kondisinya masih bagus dan bisa diperbarui serta dijual kembali. Apple mengklaim kalau ponselnya mudah didaur ulang, tetapi pendaur ulang barang elektronik di sana mengungkapkan kalau produk Apple sering terbakar selama proses daur ulang. Hal ini terjadi karena baterai lithium ion Apple dilem dan sangat sulit dicopot. Pendaur ulang harus menusuk baterainya sampai lepas.

Daya tahan baterai iPhone lebih pendek dari ponselnya, sehingga baterai cepat habis dan mudah rusak. Banyak pengguna memilih beli ponsel baru ketika baterai sudah mulai bocor. Alasannya karena mereka tidak tahu atau malas mengganti baterai ponsel.

Apple tidak pernah menyetujui undang-undang yang mengatur hak untuk memperbaiki perangkat. Apabila mereka menyetujuinya, kita hanya perlu mereparasi atau mengganti bagian yang rusak. Pengguna tidak perlu mengganti ponselnya, yang nantinya akan berakhir di tempat pembuangan sampah (atau mesin daur ulang).

Apple sadar kalau mereka harus meningkatkan umur baterai untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, tapi mereka tidak melakukannya sama sekali. Jadi, saran terbaik adalah kamu sebaiknya tetap pakai ponsel yang sudah ada.

"Masalahnya bukan seberapa ramah lingkungan produknya," kata Nathan Proctor, ketua ;embaga nirlaba US PIRG yang memperjuangkan hak konsumen untuk mereparasi perangkat. "Tapi, bagaimana mereka memperlakukan perangkat lamanya. Mereka seharusnya memberikan alat-alat yang bisa membuat ponsel pengguna tahan lama."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

More VICE
VICE Channels