Iklan
Pelanggaran HAM

Nasib Tragis Perempuan Korban Perburuan Dukun Hitam di India

Perburuan sosok diduga memiliki ilmu hitam masih lazim dilakukan di pedesaan, walau dilarang hukum. Kami ngobrol dengan beberapa korban persekusi yang nasibnya merana.

oleh Masuma Ahuja
14 Februari 2018, 9:02am

Noji Regar dicap sebagai dukun hitam oleh warga. Dia sekarang dikucilkan oleh tetangga dan keluarga. Foto: Masuma Ajuha

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly

Serangan terhadap beberapa perempuan India yang dicap sebagai dukun ilmu hitam seringkali terjadi tiba-tiba. Alasan yang dikemukan penyerang umumnya kurang bisa diterima akal sehat. Seorang perempuan mengaku diseret dari rumahnya dan disiksa secara brutal cuma lantaran seekor kerbau di kampungnya tak lagi mengeluarkan susu. Perempuan lain jadi sasaran persekusi, hanya karena seorang gadis di tempatnya tinggal mengaku melihatnya membuat simbol setan di tangan. Perempuan malang ketiga mengaku dirinya disekap oleh keluarga suami. Si perempuan yang disangka dukun itu diberi makanan tak layak serta dihalang-halangi untuk dapat menghubungi sanak keluarganya.

Cerita sedih macam ini banyak ditemui di wilayah pedesaan India, tempat ribuan perempuan menghadapi persekusi, atau malah dibunuh, karena dicap sebagai “dukun ilmu hitam.” Menurut data dilansir Pemerintah India, angka persekusi masih tinggi. Undang-Undang yang melarang perburuan dukun ilmu hitam memang relatif baru, karenanya para pakar mewanti-wanti pasti masih banyak kasus perburuan dukun hitam yang tak tercatat kepolisian India. Ironisnya, ketika data mengenai persekusi bengis ini tak kunjung lengkap dan ditangani layak oleh aparat, Biro Pencatat Kasus Kriminal India melaporkan lebih dari 2.000 perempuan meregang nyawa lantaran tuduhan praktek ilmu hitam dalam kurun waktu antara 2005 dan 2015.

Kesi Chandana,perempuan pendiam berusia 40 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di Provinsi Rajasthan, dituduh mempraktikan ilmu hitam oleh warga desanya pada 2014. Dia selamat dari keroyokan massa. Hidupnya berubah drastis setelah itu. “Mereka memang tidak membunuh saya, tapi mereka pula tak mengizinkan saya hidup,” ujarnya sambil menyeka air mata di wajahnya.

Pada suatu sore November tahun lalu, Chandana pulang ke rumahnya setelah menunggui putrinya bersalin di sebuah rumah sakit di luar kota. Sesampai di rumah, Chandana kaget bukan kepalang. Puluhan penduduk kampung sudah menunggu. Kabar buruk pun sampai ke kupingnya: Chandana sudah dicap sebagai seorang dukun ilmu hitam.

Chandana masih ingat secara mendetail proses persekusi yang dia alami. Awalnya penduduk desa mengurung keluarganya dan merampas ponsel mereka. Lalu, mereka mulai menyiksanya. Tetangga dan kerabat Chondana memukuli dan menelanjanginya, katanya. Chandana juga dipaksa memakai untaian sepatu serta menyunggi batu berat. Dia lantas dinaikkan ke atas seekor keledai lalu diarak keliling kampung. Malam itu, sedianya Chandana bakal dibakar hidup-hidup, andai polisi tak datang menghentikan persekusi yang dia alami. Berdasarkan laporan pekerja sosial dan berita yang diturunkan surat kabar setempat, lebih dari 30 orang ditahan, kemudian dijebloskan ke penjara lantaran ikut serta dalam penyerangan itu.

Provinsi Rajasthan meloloskan beleid melarang perburuan dukun ilmu hitam pada 2015. Kendati peraturan serupa berlaku di beberapa provinsi lainnya, praktek persekusi pada perempuan yang dituduh sebagai dukun ilmu hitam—umumnya dilancarkan berdasarkan takhayul—masih santer terjadi di seantero India. Dalam dua tahun belakangan saja, lebih dari 100 perempuan di Rajasthan telah dicap sebagai dukun ilmu hitam.

Saya berkesempatan ngobrol dengan tujuh perempuan di antaranya. Mereka semua mengaku hidupnya seakan dijungkirbalikkan setelah dituduh sebagai dukun ilmu hitam. Sesudah cobaan memilukan menimpa, umumnya perempuan-perempuan ini diasingkan penduduk dan tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengampunan. Bahkan dalam kasus yang sudah ditangani polisi dan para pelakunya diseret ke meja hijau, korban-korban persekusi ini bakal menjalani sisa hidupnya penuh kenestapaan.

Ramkanya Devi disebut-sebut sebagai dukun hitam oleh bocah cilik yang berteman dengan cucunya. Foto: Masuma Ajuha

Noji Regan, seorang janda yang usia masuk kepala enam dan tinggal di tanahnya seluas dua hebat, divonis sebagai seorang dukun ilmu hitam oleh beberapa lelaki di desanya pada Juli 2014. Regan mengaku pria-pria itu datang ke rumahnya sambil menghunus pedang. Mereka lalu menyeretnya ke luar rumah dan menghantam kakinya dengan tongkat. Ironisnya, alasan persekusi Regan kelewat konyol: salah satu kerbau pria yang menyerang emoh mengeluarkan susu. Mereka yakin kalau Regan sudah mengguna-gunaii ternak malang itu. Para penyerang Regan pada akhirnya dijebloskan ke penjara, menurut laporan media setempat dan pekerja sosial yang mengikuti kasusnya. Malang, stigma dukun ilmu hitam tetap melekat dalam diri Regan. Dia kini hidup terisolir dan hanya mengandalkan hasil bumi tanahnya untuk menyambung hidup.

“Mereka memang tidak membunuh saya, tapi mereka pula tak mengizinkan saya hidup."

Ada beberapa alasan yang memicu perburuan dukun ilmu hitam, seperti yang dikatakan oleh aktivis hak perempuan di Negeri Sungai Gangga. Dalam kasus Regan, perempuan lanjut usia itu rentan lantaran umur dan status pernikahannya. “Umumnya yang menjadi target adalah perempuan berkasta rendah,” kata Bhanwar Meghwanshi, seorang aktivis dari Rajasthan yang bekerja membantu perempuan-perempuan yang dicap sebagai dukun ilmu hitam “korban lainnya adalah perempuan yang hidup menyendiri, seperti para janda. Kalau korban memiliki tanah dan rumah, para penyerang umumnya mengincar rumah dan tanah. Tuduhan dukun ilmu hitam biasanya cuma dalih untuk merebut tanah.”

Dalam banyak kasus, Bhopa, semacam orang pintar atau tabib tradisional juga memainkan peran. “Bhopa punya peran penting dalam mencap seorang perempuan sebagai dukun ilmu hitam. Bhopa adalah orang yang dimintai tolong penduduk desa bila kambing mereka sakit, susu sapi mereka menyusut, anak mereka sakit, keluarga punya masalah atau ketika sepasang suami istri bertengkar dan hendak bercerai. Pokoknya apapun masalahnya, mereka mendatangi Bhopa. Penduduk desa ini akan memberi tahu Bhopaapa yang terjadi dan meminta nasihatnya,” kata Tara Ahluwalia, seorang aktivis yang bekerja bersama mantan korban persekusi dukun ilmu hitam.

Kishni Kharwad, seorang perempuan muda pemalu, mengatakan bahwa dia dijadikan target oleh bhopa setempat sekitar dua tahun lalu. Dia sempat sering mengalami demam, dan ketika dia dan suami mengunjungi bhopa setempat, si orang pintar itu mengatakan bahwa itu bukan jenis penyakit yang doktor medis bisa obati. Dia justru menawarkan solusi dengan cara mengorbankan seekor kambing, dan menagih uang sebagai biaya konsultasi. Kharwad mengikuti nasihat sang orang pintar, jelasnya kepada Broadly. Malang penyakit ini terus kembali menyerang, dan akibatnya dia terus menyambangi sang dukun untuk meminta bantuan.

Setelah kunjungan terakhirnya ke sang bhopa, dia ingat, orang pintar itu datang ke rumah, menyebutnya seorang dukun ilmu hitam, dan mulai memukulinya. Kishni akhirnya dibawa ke rumah sakit, dan bhopa yang menyerangnya ditangkap, menurut laporan. Dia dan suami akhirnya pindah ke kota tetangga agar tidak terus dikucilkan oleh warga kampung halamannya.

Kavita, perempuan berumur 22 tahun yang nama keluarganya kami sembunyikan demi melindungi keselatamannya, mengatakan suami dan mertuanya sudah bersiap mempersekusinya sejak dua setengah tahun yang lalu. “Saya menikah dan selama sebulan saya diperlakukan dengan baik. Kemudian tiba-tiba saja, entah kenapa, mereka mulai memukuli saya,” ujarnya.

Dia menduga suami dan mertuanya sendiri yang menyebar isu ke tetangga kalau dia seorang dukun ilmu hitam. Setelah itu, Kavita dirundung pengalaman buruk selama berminggu-minggu. Menurut Kavita, suami dan keluarganya memukulnya dengan sepotong pipa dan tidak memberinya makan, memaksanya memakan batu bara dan meminum air kencing mereka. Kavita dikunci di dalam rumah, ujarnya, dan ibunya dilarang menjenguk. Lambat laun, mertuanya mengusirnya dari rumah.

“Kadang, perempuan yang dicap sebagai dukun ilmu hitam berhenti makan dan minum dan berpikir… Saya tidak mau makan atau minum, lebih baik mati saja,” ungkap Meghwanshi.

Inilah yang terjadi dengan Ramkanya Devi, seorang bidan berumur 70an, yang tinggal di sebuah rumah tidak jauh dari sekolah setempat bersama suami, anak lelakinya, menantu, dan banyak cucu-cucunya. Sekitar lima bulan lalu, dia ingat, seorang remaja perempuan teman cucunya berdiri di luar sekolah meratap bahwa Devi adalah seorang dukun yang telah mengutuknya. “Saya membantunya lahir, sama seperti semua anak di desa ini,” jelasnya. “Anak yang saya bantu lahirkan, yang saya anggap seperti cucu sendiri, malah menuduh saya seorang dukun jahat.”

Keluarga sang remaja perempuan tersebut menyerang suami Devi dan memberikan anak-anaknya sebuah ultimatum: usir atau sekap Devi. Mereka tidak mau melihat wajahnya di desa. Selama tiga minggu, anak-anak lelaki Devi mengurung ibunya sendiri dalam sebuah ruangan kecil tanpa jendela.

“Saya ingin mati saja,” ujarnya. “Menantu saya sering datang mengantarkan teh dan mengajak saya ngobrol, tapi lama-lama saya mulai berhenti makan.”

Ahluwalia, yang telah menangani sekitar 90 kasus perburuan dukun ilmu hitam semenjak 1986, mengatakan menuduh seseorang sebagai dukun ilmu hitam mendatangkan banyak konsekuensi di luar kekerasan fisik dan isolasi sosial. “Begitu seorang perempuan dipanggil dukun ilmu hitam sekali saja...dia langsung diperlakukan seperti mayat hidup, tidak lebih,” ujarnya. “Orang memutus kontak sosial denganmu. Sepanjang hari, orang akan membuatmu merasa tidak seperti bagian dari masyarakat yang dihormati, bahwa kamu adalah seorang dukun. Perempuan akan menyembunyikan anaknya ketika kamu lewat; perempuan hamil akan menutupi perutnya ketika mereka melihatmu.”

Regan, seorang janda yang dituduh mempraktekkan ilmu gaib, mengatakan bahkan anak-anaknya sendiri telah mengucilkannya. Baik anak kandung dan anak angkatnya menolak mengunjunginya, keluhnya—anak perempuannya takut bahwa keturunannya kelak tidak akan bisa menikah apabila terus diasosiasikan dengan sang ibu.

Seringkali, pengucilan sosial ini tidak hanya diterapkan ke si perempuan tapi juga seluruh keluarganya. Chadana benar-benar merasakan dampaknya. Biarpun banyak lelaki di desanya ditangkap dan dipenjarakan akibat berburu dukun ilmu hitam, dia terus merasakan dampak dicap sebagai seorang dukun. Di desanya yang kecil, terdiri dari hanya 50 rumah, tidak seorangpun mau berbicara dengannya atau keluarganya. Dia mengaku bukan hanya dipandang sebagai seorang dukun ilmu hitam, tapi biang keladi semua lelaki dimasukkan ke dalam penjara.

Suami Ramkanya Devi yang dipukuli massa ketika istrinya dijuluki dukun hitam

“Sebelum ini terjadi, semua orang sering mendatangi saya, meminta pertolongan saya dalam perihal penandatanganan dokumen atau penulisan sesuatu. Sekarang, tidak ada yang mau berbicara dengan kami,” kata anak perempuannya Leela, yang duduk di kelas 1 SMA dan satu-satunya gadis di desa yang mengenyam pendidikan SMA. Pertunangan salah seorang anak lelaki Chadana dibatalkan, dan kedua anak perempuannya dikucilkan oleh keluarga suaminya, memaksa mereka membesarkan keturunan seorang diri. Keduanya kini tinggal bersama Chadana. Tidak ada yang mau dikaitkan dengan keluarga dukun ilmu hitam, ujarnya. “Seringkali, orang memilih meninggalkan desa dan pindah ke desa lain. Dalam situasi lain, mereka dipaksa keluar dari desa. Mereka diancam: kalau kamu tidak pergi dari desa, ibu, istri, anak, dan siapapun itu akan dibakar. Kamu akan menghadapi akibatnya,” ujar Meghwanshi.

Namun Chadana menolak meninggalkan kampung halamannya, sumber penghasilan keluarganya. Jadi dia terus tinggal di sebuah desa yang menolak untuk berbicara dengannya, dan semua tetangganya ingin membakarnya hidup-hidup.

Masih takut menunjukkan mukanya di desa, dia menutupi wajahnya dengan cadar. “Saya tidak melakukan apa-apa. Saya tidak bersalah,” ujarnya penuh emosi, suaranya mulai pecah. “Apa kesalahan saya? Kenapa ini terjadi?