Iklan
Standar Kecantikan

Di Masa Lalu, Punya Selulit Tidak Dianggap Aib Lho

Kenapa sekarang garis tubuh akibat kenaikan berat badan itu dipermasalahkan dan dianggap memalukan pemiliknya ya? Padahal rata-rata manusia punya selulit.

oleh Laurène Daycard
12 Maret 2018, 5:37am

Ilustrasi dari Youtube.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Ketakutan berlebihan dari orang yang memiliki selulit biasanya meningkat menjelang musim liburan pertengahan tahun. Berbagai majalah dan tabloid online berlomba-lomba membahas selulit. Ada banyak tabloig gosip mencemooh selebriti yang tertangkap kamera memiliki selulit karena diangggap “gagal” merawat diri (contohnya baca saja artikel “ 15 Celebrities Who Battle Cellulite ” atau “ Imperfections of the Rich and Famous ”). Ada juga media yang berusaha 'baik' memberi tahu pembaca cara-cara menghindari punya garis di tubuh ( seperti di artikel “ How Do I Get Rid of Cellulite? ” dan “ 10 Ways to a Smoother Bottom ”).

Budaya masa modern seakan-akan mengajarkan bahwa garis lemak ini patut diperangi. Padahal secara biologis, selulit sangat mustahil terhindarkan. “Selulit adalah ciri-ciri kelamin sekunder, sama seperti payudara,” ujar Max Lafontan, seorang peneliti senior di Inserm , French Institute of Health and Medical Research, dan pakar jaringan adipose (lemak).

Dia mengatakan setidaknya ada delapan dari 10 perempuan yang memiliki lemak lebih, yang biasanya menumpuk di bagian bokong, paha, dan perut. Ini adalah persediaan energi tubuh yang berguna saat masa kehamilan atau menyusui. “Struktur kulit perempuan berbeda dari laki-laki,” kata Lafontan. “Selulit muncul saat sel-sel lemak membesar dan mengganggu homogenitas jaringan yang bagus.”

“Selulit” sudah ada sejak dulu, tetapi baru di abad ini para perempuan memeranginya. Sejarawan Prancis, Georges Vigarell, menjelaskan di bukunya, A History of Beauty , kalau selulit bahkan sempat dianggap bentuk tubuh menarik. “Selulit berasal dari...budaya memeriksa [tubuh], yang menghadapi kemelaratan dan penuaan lebih dari sebelumnya.” Apabila kamu sedang berkunjung ke galeri seni atau museum, kamu akan menyadari perkembangannya. Misalnya, Prado di Madrid, Peter Paul Rubens menampilkan keindahan “kulit jeruk” (sebutan lain untuk selulit) di lukisannya “The Three Graces.” Pada saat dia melukis ini di abad ke-17, sulilt di ditampilkan sebagai kecantikan ideal pada masa itu.

"Sebelum artikel pertama tentang selulit diterbitkan di Prancis, sebelumnya tidak ada sama sekali pembaca yang mengirim surat untuk bertanya bagaimana menyingkirkan selulit.”

Istilah “selulit” pun baru digunakan dua abad terakhir. Istilah ini ditemukan di Prancis pada akhir abad ke-19. Penampilan pertamanya berasal dari 1873, dalam kamus kedokteran Prancis, Littré & Robin. Selulit digambarkan sebagai “pembesaran jaringan sel atau laminasi.” Namun, para dokter pada masa itu “menggunakan istilah ini untuk menunjukkan arti yang berbeda,” ujar Rossella Ghigi, seorang dosen di University of Bologna. Sekitar 15 tahun yang lalu, saat dia sedang kuliah di Paris, Ghigi membahas sejarah selulit dalam skripsinya —topik ini sangat jarang diangkat dalam penelitian.

Memasuki Abad 20, pembahasan selulit di media massa mengalami peningkatan yang sangat signifikan di Prancis. Pusat kecantikan Paris mulai membayangkan solusi untuk menyingkirkan “momok” ini. Majalah-majalah perempuan mulai membahas penyingkiran selulit dari saran para ahli, dan para pembaca mulai mengirimi surat yang menunjukkan kekhawatirannya. Menurut Ghigi, yang menganalisis beberapa majalah fashion Prancis di periode tersebut, “Ada semacam kegilaan yang dipicu oleh dokter dan lalu pembaca untuk membasmi selulit. Sebelum artikel pertama tentang selulit diterbitkan, tidak ada sama sekali pembaca yang mengirim surat untuk bertanya bagaimana menyingkirkan selulit.”

Contohnya, majalah bulanan Votre Beauté, diluncurkan pada tahun 1933 oleh Eugène Schueller, pendiri l'Oréal Group, yang sekarang merupakan perusahaan kosmetik terkemuka di dunia seperti Maybelline, Lancôme, dan Kiehl's. Di awal Februari 1933, majalah ini menayangkan artikel panjang tentang selulit, yang ditandatangani oleh “Dr. Debec.” Di artikel tersebut, selulit digambarkan sebagai campuran “air, residu racun, dan lemak yang membentuk campuran terhadap apa yang kurang lengkap.”

Menurut si dokter, selulit adalah infeksi yang sulit dihilangkan. Artikel yang sebetulnya keliru ini dampaknya membuat pembaca mulai khawatir dan bertubi-tubi mengirim surat ke redaksi majalah perempuan. Contoh lainnya, pada Mei 1935, seseorang menanyakan apa penyebab munculnya “penyakit kulit” bernama selulit. Tanggapannya: “Selulit adalah daging yang mengalami degenerasi. Ini merupakan campuran air, zat yang lebih mirip urin daripada darah atau air... Selulit bisa muncul di bagian atas paha karena terlalu ketat memakai sabuk yang bisa menghambat peredaran darah.”

Setelah menjadi pembahas yang cukup panjang di Prancis, ketakutan akan selulit menjadi masalah dunia, awalnya dimulai dari Amerika Serikat. Di sana, media seakan menjadi saksi masalah tersebut. Pada 15 April 1968, edisi AS Vogue menampilkan judul di halaman depannya: “Cellulite, the new word for fat you couldn't lose before.” (“Selulit, kata baru untuk lemak yang tidak dapat kamu hilangkan.”) Dalam buku best seller-nya The Beauty Myth (1990), seorang jurnalis feminis, Naomi Wolf, berpendapat bahwa ini mengakibatkan kecenderungan untuk memaknai ulang “tubuh orang dewasa” yang sehat sebagai “penyakit.”

Menurut Ghigi, butuh beberapa tahun bagi istilah ini untuk berhasil memasuki kesadaran orang Inggris. Artinya, dulu orang ya enggak terlalu peduli ada garis lemak di tubuh. “Pada 1986, Encyclopedia Britannica hanya menampilkan istilah ‘selulitis,’ yang diartikan sebagai “keadaan peradangan,” tulisnya di penelitian ilmiah tersebut. “Lalu 12 tahun kemudian, akhirnya ensiklopedia itu menulisnya sebagai ‘selulit,’ yang diartikan sebagai simpanan lemak.”

Dulu, kecantikan dibayangkan sebagai hak istimewa orang-orang yang beruntung. Saat ini, kecantikan hampir menjadi konsep yang bisa diperoleh siapapun. Suatu tujuan yang dicapai melalui modifikasi tubuh—yang tentu membutuhkan banyak biaya. Antara Maret 2014 dan Februari 2015, ada sekitar 919.108 krim anti selulit terjual di Prancis, negara pertama yang memerangi selulit. Laba bersih krim semacam itu mencapai 22,8 juta euro (Rp386 miliar), menurut IMS Health Pharmatrend. Di AS, penjualan krim kecantikan secara umum mencapai 18 miliar dolar (Rp247 triliun) di 2015, peningkatan tujuh persen jika dibandingkan dengan 2014.

Selain itu, semakin banyak produk-produk kecantikan diciptakan untuk membantu menghilangkan selulit selamanya. Misalnya menggunakan mangkuk pengisap atau cryolipolysis untuk membekukan lemak. Sejak disetujuinya dekrit oleh French National Authority for Health pada April 2011, Prancis melarang lima cara pembekuan lemak tersebut. Cara alternatif selain pembedahan untuk sedot lemak berisiko menimbulkan infeksi dan ruam pada kulit.

“Yang mengesalkan adalah semua produk dan tips kecantikan pembasmi selulit hanya menguntungkan perusahaan kosmetik saja,” ujar ahli biologi, Max Lafontan. Beberapa tahun lalu, dia bekerja sama dengan perusahaan LPG Systems untuk menguji mesin Cellu M6. Alat ini sangat populer di pusat kecantikan karena dipercaya bisa mengurangi selulit dengan cara memijat. “Saya meneliti pengaruhnya terhadap kapasitas respons lemak selulit, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan setelah menggunakan alat ini. Alasannya karena jaringan lemak akan kembali seperti semula setelah anda berhenti melakukan perawatan,” kata Lafontan.

Apa kesimpulannya? Menghilangkan selulit sebetulnya sia-sia belaka. Sebab, tidak ada manfaat medisnya dan hanya membuang waktu serta tenagamu saja.