The Borders Issue 2019

Kumpulan Foto dari Komplek Pengungsi Terbesar di Dunia

Seri foto Sara Hylton mendokumentasikan anak-anak pelarian Afghanistan yang tinggal di pemukiman khusus pinggiran ibu kota Pakistan.

oleh Sara Hylton; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
21 Agustus 2019, 11:31am

Sekumpulan anak lelaki Afghanistan berpose untuk difoto di pinggiran Islamabad. 60 persen anak Afghanistan di Pakistan usianya lebih muda dari 24 tahun. Semua foto milik penulis

Artikelnya juga bisa dibaca di VICE Magazine edisi Borders . Edisi kali ini menelusuri berbagai jenis perbatasan di dunia, baik yang berwujud maupun tidak. VICE juga mengamati bagaimana jalur ini memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar. Jangan ragu berlangganan majalah kami .


Dana hibah Pulitzer Center mendukung pembuatan seri foto ini.

Suatu pagi, pertengahan Juli 2018, matahari terbit menyinari permukiman I-12 di pinggiran Ibu kota Islamabad, Pakistan. Kawsaan itu dihuni pengungsi asal Afghanistan. Tak jauh dari situ, belasan anak sedang asyik memainkan ban bekas di lapangan berdebu. Suara kokok ayam disusul azan yang berkumandang, penanda sudah masuk waktu salat. Bagi anak-anak ini, permukiman I-12 adalah satu-satunya rumah yang mereka tahu.

Pakistan adalah tuan rumah bagi salah satu pengungsi terbesar di dunia, yang mayoritas berasal dari Afghanistan. Laporan resmi menyebutkan pengungsi Afghanistan terdaftar jumlahnya sebanyak 1,4 juta orang, tetapi sebagian besar memperkirakan ada hingga 1 juta pengungsi dan migran tak terdaftar.

Banyak dari pengungsi lansia sudah tinggal di permukiman I-12 sejak Soviet mulai menduduki Afghanistan pada 1979, melahirkan dan membesarkan generasi baru Afghanistan yang terjebak di Pakistan. Para pengungsi yang terdaftar resmi menerima status hukum sementara, tetapi mereka tidak diberikan hak atas kepemilikan properti, kendaraan pribadi dan kartu SIM. Pengungsi muda bahkan tidak diizinkan bersekolah di lembaga pendidikan negeri.

Seumur hidup mereka dihantui perasaan takut diusir dari Pakistan, seperti yang dialami lebih dari 600.000 orang di paruh kedua 2016. Imran Khan sebenarnya sudah berjanji memberikan kewarganegaraan kepada para pengungsi jika dia terpilih sebagai Presiden Pakistan pada Juli 2018. Sayangnya, proposal Khan menghadapi rintangan birokrasi dan diskriminasi etnis. Setahun kemudian, pemberian kewarganegaraan dianggap angin lalu. Para pengungsi hanya diberikan hak membuka rekening bank.

Meskipun pembicaraan damai sedang berlangsung di Afghanistan—yang tentu merupakan kabar baik bagi para pengungsi—masa depan anak-anak I-12 tidak begitu cerah, terutama bagi mereka yang beranjak dewasa. Mereka terpaksa menjalani hidup di pinggiran. Bahkan jika mereka berhasil melewati perbatasan dari Pakistan ke Afghanistan, konsep “rumah” tetap jauh dari jangkauan mereka karena hanya bisa dimiliki segelintir orang saja.

1564845043001-Hylton11_300
Anak-anak sedang bermain di dekat kubangan besar.
1564845058941-Hylton10_300
Penampakan permukiman pengungsi; Menurut UNHCR, tempat ini ditinggali sekitar 505 keluarga yang terdaftar.
1564845074793-Hytlon3_300
Segerombolan anak perempuan sedang belajar membaca Alquran di sebuah madrasah yang ada di permukiman Afghanistan.
1564845113080-Hylton1_300
Penampakan permukiman I-12 yang terpencil dari kejauhan, terletak di pinggiran Islamabad, Pakistan
1564845131151-Hylton14_300
Bapak tua sedang berpose dengan putranya.
1564845144484-Hylton15_300
Seorang perempuan bermain di depan permukiman Afghanistan I-12 di pagi hari.
1564845164235-Hylton16_300
Seorang anak kecil sedang tidur di koloni bagi warga Pakistan yang tidak memiliki tanah di Islamabad. Sama seperti pengungsi Afghanistan, banyak orang Pakistan yang menetap di permukiman informal. Mereka rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan, dan dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah permukiman orang Pakistan dan Afghanistan sudah digusur supaya bisa dijadikan kompleks apartemen.
1564845176876-Hylton4_300
Sepasang ibu dan anak di permukiman I-12 sedang berpose untuk difoto. Menurut laporan terbaru dari UNICEF, Pakistan memiliki salah satu angka kematian bayi baru lahir terburuk di dunia, dengan hampir 1 dari 20 anak meninggal sebelum mereka berusia satu bulan. Apabila perempuan itu adalah pengungsi yang tidak mendapat akses pelayanan kesehatan, hidup mereka akan semakin berbahaya.
1564845201726-Hylton13_300
Rumah-rumah gubuk dihuni ribuan pengungsi Afghanistan yang tinggal di I-12.
1564845240854-Hylton9_300
Dua anak laki-laki dari permukiman I-12 sedang menunggang kereta keledai tradisional yang digunakan untuk mengangkut barang.
1564845259021-Hylton5_300
Anak perempuan di permukiman I-12 diajarkan membaca Alquran sejak kecil . Menurut UNHCR, hanya ada satu sekolah pemerintah di I-12. 71 anak Afghanistan dan 79 anak Pakistan bersekolah di sana.
1564845281012-Hylton7_300
Menjelang pemilihan umum, spanduk partai politik bisa ditemukan di setiap penjuru jalanan. Di foto ini, kamu melihat spanduk Partai Pakistan Tehreek- E-insaf (PTI) dan Muttahida Majlis-e- Amal (MMA) di depan Masjid Wasir Khan yang ada di kota Lahore. Jawara kriket Pakistan Imran Khan terpilih menjadi Perdana Menteri Pakistan, dan memimpin PTI sebagai partai tunggal terbesar di parlemen tahun lalu.

Silakan baca artikel lain dari VICE yang menyelami betapa konsep perbatasan yang memisahkan dan mengepung, memengaruhi kehidupan penduduk yang hidup melintasinya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Magazine