Iklan
Dokumenter VICE

Kisah Pelarian Berani Dua Perempuan dari Arab Saudi Menolak Kultur Patriarkis

Dua kakak beradik Saudi kabur dari keluarga karena dijodohkan dan ditekan sepanjang hidupnya. Mereka kini diburu aparat dalam persembunyian. Dokumenter VICE merekam pelarian mereka.

oleh Gianna Toboni, Dan Ana Sebescen ; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza, Dan Jade Poa
05 September 2019, 1:00am

Semua foto oleh VICE News

Dua dan Dalal AlShowaiki menghabiskan lima tahun merancang pelarian mereka dari Kerajaan Arab Saudi. Awal Juni 2019, kakak-adik mendapatkan kesempatan melarikan diri ketika berlibur bersma keluarga ke Istambul, Turki.

Saat sang ayah memasuki kamar mandi hotel, meminta istri keduanya menjaga putri-putri mereka, Dua menyuruh adiknya memakai sepatu. Mereka mengambil ponsel, menanggalkan hijab, dan bergegas kabur dari hotel.

"Kami kabur tanpa bawa apa-apa. Sepeser uang pun tidak ada. Tapi kami membatin saking takjubnya, ‘Lihat apa yang telah kami lakukan,’" ujar Dua, kini 22 tahun. "Kami baru menyadari seberapa parah situasi kami setelah kabur."

Keduanya melarikan diri dari hidup yang cukup brutal. Kakak-beradik ini mengaku sering dipukuli, dan dilarang keluar rumah tanpa wali laki-laki dan mengenakan hijab. Mereka sudah dijodohkan dengan laki-laki yang belum pernah mereka temui; usia salah seorang calon suaminya dua kali lebih tua dari usia mereka.

Usai melarikan diri, keduanya menghadapi krisis lain: bertahan hidup di jalan tanpa paspor dan uang sembari meminta tolong melalui media sosial.

"Kami baru menyadari seberapa parah situasi kami setelah kabur."

Apabila mereka gagal menemukan negara yang bersedia memberikan suaka, sang ayah bisa saja menemukan mereka dan memaksa mereka pulang ke Arab Saudi. Di situ, keduanya berpotensi dihukum mati karena kabur.

"Aku takut sekaligus cemas. Aku hanya bisa memikirkan apa yang akan terjadi kalau ayahku tiba-tiba muncul," kata Dalal, kini menginjak 20 tahun.

Dua and Dalal AlShowaiki
Perempuan kakak-beradik asal Arab Saudi, Dua dan Dalal, sedang menelepon Organisasi Hak Asasi Manusia untuk meminta perlindungan setelah kabur dari keluarganya. (Daniel Vergara/VICE News)

Ayah mereka menyangkal pernah memukuli kedua putrinya atau memaksa mereka menikah.Dia mengaku tidak tahu mengapa mereka sampai berani kabur. Namun, putri-putrinya mengklaim sudah rutin dilarang menonton TV, bermain di luar, atau tidak mengenakan hijab dengan cadar. Keduanya tidak antusias mengingat masa kecil mereka.

"Saat itu usiaku masih 9 atau 11 tahun. Orang tua memaksaku memakai hijab, niqab, dan abaya. Abaya itu penutup tubuh dari atas sampai bawah,” kata Dalal. “Masa kecilku tidak normal, aku tidak boleh main."

"Aku terjaga setiap beberapa jam sekali buat memeriksa jendela dan ponsel."

Dua bulan setelah mereka kabur, kakak-beradik itu masih berlindung di Istambul, di lokasi rahasia. Kisah pelarian mereka telah menarik perhatian dunia dan menyoroti kehidupan penuh penindasan yang dialami perempuan Arab Saudi. Hukum Wali Arab Saudi mengharuskan perempuan meminta izin dari wali laki-laki buat bepergian, menikah, bekerja, dan bahkan meninggalkan rumah.

Menurut Dua dan Dalal, aparat Turki mengatakan sang ayah, beserta pejabat pemerintah Arab Saudi sedang memburu persembunyian mereka. Kedutaan Saudi di Istambul tidak membalas permintaan VICE News untuk mengomentari cerita ini. Ayah mereka terus menyangkal tuduhan Dua dan Dalal. Sepanjang malam, Dua menatap ke luar jendela, memastikan tidak ada mobil mencurigakan.

"Aku terjaga setiap beberapa jam sekali untuk memeriksa jendela dan ponsel," ujar Dua. "Hidupku penuh ketakutan. Aku sering bilang ke Dalal, ‘Lihat mobil yang barusan lewat. Pasti ayah kita di dalam. Ada mobil hitam, tuh. Pasti seseorang dari Kedutaan [Saudi],’" katanya, mengacu pada kedutaan tempat dibunuhnya jurnalis Jamal Khashoggi tahun lalu.

"Dalam tidurku, aku selalu bermimpi ayah datang dan menemukan kami," kata Dua.

Dua and Dalal AlShowaiki
Dua AlShowaiki, yang melarikan diri dari Arab Saudi bersama adiknya, menatap ke luar jendela untuk mencari mobil mencurigakan.(Daniel Vergara/VICE News)

Pada 2 Agustus, Kerajaan Saudi mengumumkan akan mengubah sistem wali yang akan mengizinkan penduduk di atas usia 21, baik laki-laki maupun perempuan, membuat paspor dan meninggalkan Arab Saudi tanpa izin. Perempuan juga akan diizinkan mendaftarkan kelahiran, kematian, dan perceraian. Hanya waktu yang bisa menjawab bagaimana peraturan ini akan ditafsir setelah disahkan. Namun, larangan signifikan terus bertahan – yakni, perempuan masih perlu meminta izin dari wali untuk menikah, satu alasan yang membuat banyak perempuan ingin kabur.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dikabarkan telah memodernisasi Arab Saudi setelah mengizinkan perempuan mengendarai mobil dan menghapus larangan perempuan pergi tanpa wali, serta merevisi sistem wali secara keseluruhan. Masalahnya, dia juga mulai bertindak keras melawan pembangkang yang kabur ke luar negeri, yang membuat Dua dan Dalal resah.

“Dari apa yang kami lihat selama 12 sampai 18 bulan terakhir adalah tindakan keras melawan pembangkang,” kata Toby Cadman selaku pengacara Dua dan Dalal kepada VICE News. “Mereka bertindak keras melawan aktivis perempuan. Ada sejumlah aktivis perempuan kalangan atas yang telah dijebloskan ke penjara. Sebagian besar darinya telah dipukuli dan disiksa. Gagasan bahwa Arab Saudi sedang memasuki era baru itu keliru dan layak ditertawakan.”

"Kedua perempuan muda ini sangat berisiko dibunuh."

Menurut lembaga Human Rights Watch, alasan perempuan Saudi kabur dari negaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan paksa, serta represi politik. Nyaris 800 mantan penduduk Saudi mengajukan permintaan suaka politik pada 2018. Jika dibandingkan, pada 2012 jumlahnya hanya ada 195 orang. UNHCR tidak mengidentifikasi jumlah pencari suaka perempuan asal Negeri Petro Dollar itu.

Dua dan Dalal mengatakan teman-temannya tidak pernah kabur. Tetapi banyak perempuan Saudi mengidamkan kebebasan.

"Tak ada satupun perempuan Saudi yang suka hidupnya diatur laki-laki. Perempuan tidak boleh membuat keputusan hidupnya sendiri. Hal sepele sekalipun dikendalikan laki-laki,” kata Dalal. “Aku tidak mau hidup seperti itu. Aku sadar aku punya hak. Bagiku, hidup serba terbatas seperti itu rasanya seperti di neraka."

Berbagai anggota keluarga dan teman telah mengirim pesan WhatsApp, Snapchat, dan Twitter kepada Dua dan Dalal. Intinya, mereka diminta segera pulang. Saat istri kedua sang ayah mengirim pesan, meminta bertemu dengannya di Mesir, Dua dan Dalal tidak termakan janji manis tersebut.

"Itu cuma alasan [untuk menjebak]," kata Dalal. "Kami tidak setolol itu," timpal saudara perempuannya.

Dua and Dalal AlShowaiki
Kakak beradik Dua dan Dalal AlShowaiki akan berlindung di Istanbul sampai mereka menerima kabar untuk pindah ke negara lain. (Daniel Vergara/VICE News)

Kedua perempuan Saudi ini berharap bisa mendapat suaka sebelum sang ayah memaksa mereka pulang. Mereka yakin ayahnya telah bersekongkol dengan pemerintah Arab.

"Aku yakin Arab Saudi akan melakukan apapun untuk memulangkan kami. Aku yakin banget," ujar Dalal.

Dua dan Dalal memang sudah resmi terdaftar di UNHCR dan dilindungi Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi untuk keselamatan pribadi atau tempat tinggal aman masih menjadi tanggung jawab mereka masing-masing. Kementerian Dalam Negeri Turki juga telah memberikan mereka ID Pemohon Perlindungan Internasional, sehingga kemungkinan dideportasi sangat kecil. Cadman sedang mengusahakan agar mereka bisa mendapatkan suaka di negara ketiga, tetapi mereka belum juga dipindahkan.

“Kedua perempuan muda ini sangat berisiko dibunuh,” ujar Cadman. “Kalau sampai mereka terbunuh… PBB, otoritas Turki, dan negara-negara lain akan merasa sangat malu karena gagal menyelamatkan mereka.”

"Aku sudah capek dengan semua ini. Aku cuma ingin hidup aman dan tenteram."

Hidup mereka di Turki penuh dengan bahaya. Mereka ngotot takkan mau balik ke kampung halaman jika seandainya Kedubes Arab atau keluarga menemukan mereka.

“Aku lebih baik bunuh diri daripada membiarkan mereka membunuhku,” ungkap Dua. Mereka bahkan telah berencana mengakhiri hidup, karena yakin dibunuh keluarga akan jauh lebih buruk.

Meskipun demikian, mereka masih punya mimpi dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Mereka membayangkan main skateboard di depan kamar, main alat musik tanpa takut dihukum, melanjutkan pendidikan, dan menonton konser Eminem. Mereka suka gonta-ganti gaya rambut, dan ngisengin satu sama lain. Ketika membicarakan masa depan, mereka hanya menginginkan kehidupan yang tenang.

“Aku sudah capek dengan semua ini. Aku cuma ingin hidup aman dan tentram,” Dalal berkata lirih.

Risiko yang menghadang bahkan tidak mengendurkan semangat mereka menyuarakan hak-haknya.

"Kalau sampai aku mati atau terjadi sesuatu padaku nanti, aku ingin meninggalkan sesuatu," ungkap Dalal. "Setidaknya, kenekatanku kabur ini menunjukkan aku pernah ada di dunia."


Simak dokumenter VICE tentang upaya kabur dua perempuan ini lewat tautan video di awal artikel

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News