Iklan
Erupsi Gunung Agung

Para Penyelamat Anjing di Gunung Agung

Anjing tak bisa dievakuasi dari Gunung Agung karena terhadang Perda pencegahan rabies. Ikuti cerita dua LSM berupaya menyelamatkan anjing-anjing yang tertinggal.

oleh Aria Danaparamita
09 Oktober 2017, 8:42am

Semua foto oleh penulis.

Tim penyelamat anjing di Bali seperti berlomba dengan waktu. Bermodal kerangkeng dan jala yang ditumpuk di mobil bak, mereka berkeliling mengitari zona bahaya di sekeliling Gunung Agung untuk menunaikan sebuah misi: menyelamatkan anjing-anjing dari amuk gunung berapi.

Sepeninggal para pengungsi, kampung-kampung di area darurat kini praktis dihuni para anjing. Warga yang desanya terletak di radius 9-12 kilometer dari zona bahaya telah dievakuasi sejak dua pekan lalu, tepatnya setelah pejabat penanggulangan bencana setempat mengingatkan bahwa Gunung Agung yang telah lama mati suri itu aktif kembali.

Warga tak hanya meninggalkan rumah, tapi juga hewan-hewan peliharaan serta anjing-anjing liar. Bagi yang pernah bertandang ke Bali pasti tahu pulau seribu pura itu adalah rumah yang nyaman bagi anjing, baik yang liar maupun peliharaan. Anjing-anjing bebas berkeliaran di sana, dan itu adalah pemandangan umum yang ditemui hampir di tiap sudut Bali. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan universitas Cambridge dan Udayana, anjing-anjing yang dibebaskan berkeliaran sebetulnya memiliki majikan.

Nasib anjing-anjing di sekitar Gunung Agung kini terkatung-katung sejak status 'awas' diumumkan. Warga bisa dievakuasi, tapi anjing tidak. Upaya menyelamatkan anjing terhadang oleh peraturan daerah pencegah persebaran rabies yang membatasi pemindahan anjing-anjing lintas kabupaten.

"Pemerintah melarang orang-orang untuk membawa anjing mereka ikut mengungsi," kata Linda Buller, penggagas Bali Dog Adoption and Rescue Center (BARC). Lalu ada pula anjing-anjing liar, anjing-anjing tanpa tuan, yang tidak dicari siapa-siapa dan tidak ditolong saat bencana terjadi.

Anjing-anjing itu, baik yang peliharaan maupun liar, jadi sasaran penyelamatan BARC dan BAWA (Balinese Animal Welfare Association). Organisasi yang berbasis di Denpasar itu keluar-masuk zona berbahaya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin anjing. Mereka mengabaikan bahaya yang mengancam.

"Ada banyak anjing di zona merah yang belum diselamatkan," ujar Dwi, operator telepon dan kordinator ambulans BAWA. "Sejauh ini kami baru mengangkut 80 anjing ke penampungan."

Tak ada yang tahu pasti ada berapa anjing di zona bahaya. Terdapat estimasi bahwa populasi anjing kampung di Bali mencapai 48.000 ekor. Berapapun jumlah yang tersisa di dalam zona merah, mereka menghadapi risiko mati diterjang awan panas yang temperaturnya bisa mencapai 800 derajat Celsius.



Itulah mengapa kelompok-kelompok seperti BAWA bergegas mencari dan menyelamatkan sebanyak mungkin anjing yang bisa mereka temui. Organisasi ini mengirim sejumlah relawan dengan motor untuk menemukan dan merekam lokasi hewan-hewan yang membutuhkan pertolongan.

Organisasi ini memiliki jumlah kandang yang terbatas, jadi mereka tidak bisa menyelamatkan setiap anjing yang mereka lihat. Anjing-anjing yang galak, yang menolak diselamatkan dengan tangan, terpaksa ditinggalkan. Tapi sebelumnya para penolong akan memberi makanan terlebih dulu dengan harapan mereka bisa lebih jinak di kemudian hari.

"Kalau masih sulit, kami terpaksa menggunakan jaring atau dart bius. Tapi kami sangat menghindari penggunaan dart karena itu bisa menimbulkan trauma," ujar Dwi.

Sebagian besar anjing-anjing ini membutuhkan perhatian medis, ujar Dwi. Permasalahannya berkisar dari penyakit kulit sederhana hingga luka-luka yang mengancam nyawa.

Warga lokal mengevakuasi rumah mereka secara terburu-buru sehingga banyak anjing kampung yang terluka dalam proses tersebut, ujar Ebony Owens, pengelola operasional di BARC.

"Yang kemarin terjadi itu adalah evakuasi massal. Saat warga mengangkut barang-barang dan bergegas dengan kendaraan, anjing-anjing ikut lari mengejar tuan mereka. Itulah sebabnya mereka terluka," ujar Owens. BARC telah bermitra dengan Sunset Vet untuk menyediakan perawatan medis bagi hewan-hewan yang terluka.

Kedua organisasi ini mengatakan pada VICE bahwa mereka akan meneruskan perawatan untuk anjing hingga potensi bencana berlalu. Mereka bilang pemerintah daerah mencoba membantu hewan-hewan tersebut. "Namun tim penyelamat tentunya lebih fokus pada upaya evakuasi manusia," kata Buller.


Baca juga liputan VICE Indonesia tentang proses evakuasi Gunung Agung yang dapat meletus sewaktu-waktu:

Wejangan Pakar Gunung Berapi Surono Bagi Para Pengungsi Gunung Agung Yang Dilanda Kebosanan

Menyusuri Desa Hantu Yang Ditinggalkan Penduduk Lereng Gunung Agung

Ritual Memanjatkan Doa Agar Gunung Agung Tak Meletus Dari Besakih