Iklan
Poligami

Mengapa Aplikasi Cabul Dikemas Dengan Jargon-Jargon Religi?

Semata-mata urusan jualan? Untung nikahsirri.com dan ayopoligami.com sudah 'tercyduk'.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
25 September 2017, 12:09pm

Sumber foto: Reuters

Islam dan demokrasi di Indonesia memang terdengar "catchy" jika disebut dalam satu kalimat. Aku masih ingat pada 2009, ketika Hillary Clinton yang saat itu masih jadi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat era Barack Obama berkunjung ke Indonesia. Dia bilang, "If you want to know if Islam, democracy, modernity and women's rights can coexist, go to Indonesia."

Ah, andaikan saja kenyataan sesuai dengan pernyataan Hillary itu, mungkin kami, perempuan di Indonesia bisa hidup tenang. Termasuk tak diganggu oleh aplikasi-aplikasi dengan jargon agama, tapi sebetulnya sangat melecehkan perempuan. Contohnya dua yang paling terkenal belakangan yakni situs nikah sirri serta yang sebelumnya populer, ayo poligami.

Tenang, tenang. Sebelum beranjak lebih jauh, mari coba kita telusuri apakah ujaran Hillary pada 2009 itu relevan delapan tahun setelahnya. Misalnya, Demokrasi dan mereka yang mengaku menegakkan nilai-nilai "Islam". Human Rights Watch pada 2016 mengeluarkan laporan menyatakan tindakan intoleransi dan kebebasan beragama di Indonesia makin meningkat. Salah satu tokoh Front Pembela Islam (FPI) jelas-jelas meyakini bahwa Indonesia bukanlah negara demokrasi.

Alhasil, data-data penelitian di SETARA Intitute, organisasi yang memonitor kebebasan beragama, juga menunjukkan kecenderungan senada. SETARA membeberkan naiknya angka intoleransi beragama dari 236 kasus (2015) menjadi 270 kasus tahun lalu. Dalam kurun yang sama, jumlah pelanggaran kebebasan beragama dari 197 kasus (2015) meningkat jadi 208 kasus setahun berikunya. Belum lagi dengan adanya Undang-Undang Penistaan Agama yang makin mempersempit ruang gerak minoritas.

Oke, baik mungkin fakta di atas terdengar menyedihkan, bagaimana kalau "demokrasi" yang katanya mewujudkan kedaulatan rakyat jika dikaitkan dengan hak perempuan? Yang betul saja ah, coba sejak 2009 Hillary berkomentar begitu, ada berapa ide-ide ajaib negara yang cenderung mendiskriminasi perempuan? Kalau yang dikatakan Hillary Clinton betul, mungkin kami di sini enggak perlu pusing-pusing menanggapi mereka yang mempermasalahkan naiknya pemimpin perempuan ke pucuk pemerintahan.

Ada juga yang mengatur pakaian perempuan seperti melarang dan mengharuskan hijab di sekolah-sekolah negeri dan instansi pemerintahan, ide tes keperawanan di sekolah hingga tes keperawanan bagi mereka yang hendak melamar posisi di instansi negara seperti Kepolisian pun kenyataannya menjengkelkan.

Belum lagi, banyak juga pihak yang menggunakan legitimasi agama dan "Islam" sebagai bentuk penindasan terhadap Perempuan. Maaf-maaf nih, kebanyakan bikin geli. Beragam ujaran meresahkan dari pihak yang mengaku ulama soal perempuan, mulai dari pembalut yang menyebabkan kemandulan, operasi sesar karena dipengaruhi jin, dan pesta seks dengan bidadari di surga.

Namun, ternyata akhir-akhir ini ide-ide yang mengaitkan "Islam" dan perempuan makin bikin aku takjub. Bukan cuma sekedar ceramah verbal, banyak gerakan yang terkesan tidak berbahaya diam-diam muncul dengan legitimasi agama untuk melemahkan perempuan. Kalau bisa aku sebut, justru hal-hal semacam inilah bentuk pelecehan terhadap agama, bukan?! Contohnya yang yang tadi aku sebutkan di awal: aplikasi ayopoligami dan situs nikahsirri.com.

Aku menghubungi Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, membahas tren kemunculan aplikasi macam itu. Mariana menilai faktor bisnis dan minat yang tinggi akan hal-hal berbau religi menjadi faktor utama situs ataupun aplikasi semacam ini tumbuh subur.

"Kecenderungan tentu bisa diolah jadi bisnis, karena pasar makin banyak yang berminat pada hal-hal yang religi, tapi cenderung tidak memiliki perspektif keadilan maupun wawasan yang luas soal tema itu sendiri," kata Mariana ketika aku hubungi. "Era digital kan semua orang kreatif cari uang. Karena kalau pasarnya tidak ada, enggak mungkin dibuat yang [jadi berbau religi] seperti itu"

Berikut ini ulasan singkat VICE terhadap kedua situs yang membalut persoalan seks dengan religi untuk kepentingan bisnis.

AYO POLIGAMI

Aplikasi ayopoligami sebetulnya sudah lama di peredaran. Salah seorang awak VICE pernah membuat akun di dalamnya akhir April 2017, untuk mengetahui pergerakan komunitas penggunanya. Tak lama berselang, berkat ulah jahil tapi mulia para pemakai medsos, aktivitas internal grup ini muncul ke publik. Percakapan pemilik akun di-screenshot dan dibocorkan ke media sosial. Magdalene.com menulis sebuah artikel tentang itu ditulis dan jadi viral. Gara-gara itu aplikasi ayopoligami.com ditutup sementara, tanpa memutus sepak terjangnya. Aplikasi ini kembali diluncurkan pada 5 Oktober 2017 dengan memperketat persyaratan anggota.

Cara masuk ke sistem ayopoligami ini relatif mudah. Pada saat mendaftar. Calon peserta hanya tinggal mengisi persyaratan dan memilih preferensi calon pasangan, seperti ras, usia, dan status pernikahan. Setelah itu, akan langsung muncul pilihan orang-orang yang masuk kategori preferensi kita, dan bisa kita langsung ajak bicara lewat pesan teks saat itu juga.

Dalam menggaet penggunanya, "sunnah Rasul", dan "ibadah" kerap jadi legitimasi utama. Kandidat Doktor Theology di University of Notre Dame, Amerika Serikat, Lailatul Fitriyah, menulis sebuah kolom opini di publikasi independen Magdalene dengan judul De-romantisasi Poligami. Dalam tulisannya, Laily menegaskan bahwa praktik poligami bisa dianalogikan sebagai praktik perbudakan.

"vulgarisasi praktik poligami dalam Islam yang kini sedang menjadi tren di Indonesia merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan karena: Pertama, sakralisasi 'pernikahan poligami' merupakan penyalahgunaan klaim yurisprudensi Islam yang menyucikan sesuatu yang tak memiliki nilai kesucian dan tidak diwajibkan. Kedua, praktik poligami sudah tidak relevan dengan adanya konstelasi pemahaman kita terhadap hak asasi manusia dan hak-hak perempuan telah mengalami perubahan yang signifikan"

NIKAHSIRRI.com

Bagi sebagian bisa jadi kalimat ini terdengar begitu menggiurkan. "Selangkah lagi, Anda akan memasuki dunia yang 'indah lagi penuh ibadah', dunia yang penuh dengan asmara sekaligus penuh ridlo Ilahi". Siapa sih yang enggak mau ena-ena, bahagia, lalu masuk surga? Tapi apa betul nikah siri semanis itu? Bagiku ini terdengar semacam cinderella complex yang lebih terkesan menyeramkan.

Situs nikahsirri.com menyediakan beberapa layanan bagi penggunannya seperti, lelang perawan, mencari istri, mencari suami, mencari penghulu, dan mencari saksi. Bagiku, situs ini menjijikkan. Pembuat situs ini membuka layanan lelang perawan yang disebut dalam situs tersebut sebagai "bentuk pelestarian budaya asli Indonesia yang ketimuran dan adiluhung".

Pendiri nikahsirri.com, Aris Wahyudi mengatakan bahwa idenya muncul karena ia prihatin akan kemiskinan. Menurutnya, melalui media sosial buatannya, keluarga yang tidak mampu dapat menggunakan asetnya yaitu anak perempuan mereka sebagai pemasukan "halal" bagi keluarga mereka.

"Idenya muncul karena kita ingin membuat sebuah program pengentasan kemiskinan dengan konsep kemandirian menggunakan aset yang dimiliki masing-masing keluarga kurang mampu itu," kata Aris sebagaimana dikutip Jawapos.

Syukurnya, Aris sudah 'tercyduque'. Dia dijerata pasal dari UU ITE dan pornografi. Yaiyalah, praktiknya mirip seperti prostitusi karena ia meraup untung dari nilai mahar yang diberikan pengguna. "Klien memberikan koin mahar sebanyak 500 (setara Rp 5 juta) ke mitra, kami hanya ambil 10 sampai 20 persen dari nilai mahar, sedangkan sisanya 80% diserahkan ke pihak mitra. Ini untuk operasional," ujar Aris Wahyudi saat dihubungi Detik.

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin menyoroti fenomena lelang perempuan dan nikah sirri ini memang berawal dari motif ekonomi pembuatnya yang melihat celah tingginya minat religi di tengah-tengah masyarakat. Mariana yang sebelumnya bicara padaku soal obsesi orang-orang tentang keperawanan menyatakan bila lelang keperawanan tak ubahnya menjual ilusi semata. "Zaman Jahiliyah itu. Lelang keperawanan itu kan semacam menjual ilusi seksualitas, bahwa seakan-akan perempuan yang perawan itu lebih 'mahal' atau lebih 'nikmat'. Itu orientasinya lebih seks sebetulnya dan pastinya uang."

Aku meyakini tidak ada yang indah dengan nikah sirri. Tanpa perempuan sadari, dengan niat ibadah anti-zinah, konsep ini justru jadi bumerang. Mariana menegaskan bahwa perempuan manapun yang menjalani nikah siri harus siap menerima kenyataan bahwa status dirinya dalam pernikahan tidaklah dilindungi negara. Apalagi, angka kekerasan perempuan tertinggi dilakukan oleh orang-orang terdekat, dan yang tertinggi adalah dalam ikatan pernikahan.

"Negara kan punya Undang-Undang Perkawinan yang sebetulnya diambil dari kompilasi hukum Islam. Jadi, apabila terjadi kekerasan rumah tangga, UU itulah yang akan melindungi perempuan," kata Mariana. "Jadi rugi perempuan lah, apalagi kalau perempuan sadar bahwa nikah-nikah seperti itu [siri] tidak dilindungi negara."