Sastra

Yusi Avianto Pareanom Berbagi Nukilan 'Muslihat Musang Emas' Buat Pembaca VICE

Penulis panutan bagi kancah sastra Indonesia ini kembali menyuguhkan fiksi segar lewat kumcer terbarunya.

oleh Syarafina Vidyadhana
16 September 2017, 6:00am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Tak perlu sebenarnya berpanjang-lebar memperkenalkan seorang Yusi Avianto Pareanom.

Penulis 48 tahun ini mungkin sudah bosan pencapaiannya digembar-gemborkan media. Tapi, siapa tahu kamu sama sekali belum pernah dengar namanya, atau tidak akrab sama novel atau cerpen garapannya, bolehlah saya ulang kembali bagian yang penting saja.

Yusi memenangkan penghargaan Kusala Satra Khatulistiwa 2016 atas debut novelnya Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi; terpilih sebagai peserta Iowa International Writing Program tahun lalu; lalu diangkat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta untuk mengepalai Komite Sastra.

Jika sedang tak menulis fiksi, lelaki kelahiran Semarang ini mengelola penerbitan, menerjemahkan, serta menyunting bermacam naskah. Setelah menerbitkan sederetan karya yang mendapat sambutan hangat, yaitu Rumah Kopi Singa Tertawa (2011), Grave Sin No. 14 and Other Stories (2015), dan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, Yusi kembali dengan kumpulan cerita pendek yang diberi judul Muslihat Musang Emas—yang nukilannya bersedia dia bagi buat pembaca VICE Indonesia.

Kawan-kawan POST Bookshop beruntung bisa menamatkan kumpulan cerpen terbaru Yusi ini lebih dulu dari kita semua (ya beginilah rezeki jadi pengelola toko buku). Mereka punya kesan awal yang bagus terhadap buku kumcer terbaru Yusi. "Cerita-cerita ini mengajakmu melihat sisi-sisi gelap, atau kerdil, atau (dalam istilah salah satu tokoh) ceketer dalam dirimu dan orang-orang di sekitarmu, lalu menertawainya," kata Teddy W. K. "Yusi masih salah satu pencerita paling asyik yang kami kenal," imbuh Maesy Ang, sesama pengelola POST.

Oke deh. Cukup perkenalannya.

Berikut cuplikan cerpen Yusi Avianto Pareanom yang termuat dalam buku Muslihat Musang Emas. Selamat membaca!


Muslihat Musang Emas dan Elena

"KITA punya peluang mendirikan agama baru, Don," kataku kepada Donny, adik sepupuku, seorang fotografer.
"Kok bisa begitu, Mas?"

Kami berdua sedang ngopi di sebuah kedai di kompleks apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, tempat tinggal Donny. Awalnya, seperti biasa, kami ngrasani kerabat-kerabat kami, sampai akhirnya obrolan berbelok.

AKU bercerita tentang peruntungan kawanku yang seorang pengusaha. Kisah bermula ketika ia jalan-jalan ke sebuah pasar di Beijing, Cina. Di sana ia melihat sepatu yang modelnya menarik. Yakin bahwa sepatu macam itu bakal laku di Indonesia, ia kemudian memesan dalam berbagai ukuran dan membayar di tempat.

Sebulan kemudian pesanannya tiba. Alangkah kagetnya ia ketika yang datang satu kontainer ternyata sepatu sebelah kiri semua. Segera ia menelepon si pedagang di Cina. Jawaban yang ia terima membuatnya melongo. "Lho, yang kamu tunjuk di toko kan memang sepatu kiri," kata si pedagang.

Terpaksa ia memesan lagi, kali ini sepatu kanan dalam jumlah yang sama karena tak mungkin ia menjual sepatu kiri saja. Posisi tawarnya lemah, di Cina banyak industri rumah tangga yang bisa mengerjakan sepatu kiri atau kanan semua berapa pun banyaknya tanpa harus rugi jika si tertipu menolak memesan pasangannya.

"HUBUNGANNYA dengan agama baru?" tanya Donny.
"Begini, kalau uangku tak berseri, aku ingin membuat kekeliruan yang sama berulang-ulang. Aku ingin tahu sampai berapa lama si pedagang sepatu itu tahan mengirimkan sepatu kiri semua. Aku ingin membeli rasa sungkannya. Jika sampai pemesanan yang keseratus tiga belas ia tetap mengirimkan sepatu kiri, aku menyerah. Aku akan mendirikan agama baru dengan menjadikannya sebagai tuhan. Ia yang tak punya takut niscaya tuhan belaka. Dan kau bisa membantuku mendirikan agama baru ini, bisa mendokumentasikannya pula," kataku.

Donny meringis. Ia tidak tertawa sebagaimana kawan-kawan lain yang mendengar ceritaku.
"Cerita biasa, Mas."
"Biasa apanya? Anjing, itu ajaib."
"Kau belum dengar yang ini," kata Donny.
Donny lantas bercerita selama dua jam, diselingi oleh pertanyaan-pertanyaanku. Berikut kisahnya yang kususun ulang.

BEL apartemen Donny berbunyi tepat pada menit kedua lagu "We All Fall in Love Sometimes" dari Elton John berputar. Lagu itu sudah Donny mainkan tiga kali pagi itu dan mungkin akan ia putar lagi dan lagi. Ia bukan penggemar berat diva Inggris itu—ya, baginya tak ada penyanyi Britania yang lebih layak disebut diva ketimbang Sir Elton—tetapi lagu pop yang satu itu pas betul dengan suasana hatinya.

Yang datang adalah kurir yang mengantar pesanannya, seragam serdadu Jepang Perang Dunia II. Ia membelinya dari butik khusus di Bandung. Tangannya mengelus-elus seragam hijau pupus itu sebelum memasangkan tanda pangkat kapten. Seragam itu modalnya untuk datang ke acara pernikahan dua orang anggota New Jakarta Reenactment Community, kelompok yang gemar berkumpul dan berlakon secara amatiran memerankan adegan bersejarah dari berbagai era.

Pasangan yang akan menikah itu meminta anggota yang lain datang mengenakan kostum masa Perang Dunia II. Yang kostumnya paling heboh bakal diajak ikut bulan madu, begitu bunyi pesan mereka di grup WhatsApp dengan tambahan lima macam emoji. Mereka bercanda, tentu saja. Tapi, Donny tahu belaka bahwa teman-temannya tak mungkin melewatkan kesempatan itu untuk berdandan habis-habisan dan sepasang pengantinnya bisa jadi akan lebih heboh lagi.

"Aku mau pakai seragam perwira Nazi," kata Elena, ketika membaca pesan itu bersama Donny di sebuah rumah kopi, "aku jamin enggak bakal ada yang mengalahkan terangnya lipstik merahku."
"Merah yang bagaimana?" tanya Donny.
"Seperti yang di poster film lama," kata Elena.

Donny memaafkan Elena yang tak mau merumuskan secara spesifik warna merah gincu yang ia ingin pakai. Kepada orang lain ia akan mengejar dengan pertanyaan poster film apa, film negara mana, lama di sini merujuk ke posternya atau filmnya, dan sebangsanya. Ia punya kecenderungan seperti itu. Tapi, hatinya dari dulu lemah terhadap orang yang ia taksir, dan keceketeran ini menjadi-jadi di hadapan Elena.

"Awas, jangan jadi pengecut pas kondangan nanti," kata Elena.
"Maksudmu?"
"Jangan pakai baju yang biasa-biasa saja dengan alasan itu pakaian pegawai negeri tahun segitu. Jangan cari gampangnya juga dengan pakai baju sobek-sobek terus bilang dirimu laskar pejuang. Pokoknya mesti usaha."
"Aduh."
"Kok aduh. Kau juga harus pakai busanamu sejak dari rumah. Jangan pakai di kamar mandi tempat resepsi. Jangan pula bawa mobil sendiri seperti dulu. Enggak seru, tahu. Kau tinggal di Kalibata City, kan? Naik KRL saja kalau angkot terlalu merepotkan. Minimal naik taksilah."
"Bakal dapat hadiah apa kalau aku berani?"
"Buktikan dulu, baru nanti kita bicara soal hadiah," kata Elena.

Donny percaya bahwa Elena akan benar-benar muncul dengan seragam yang ia janjikan. Kalau saja pilihan Elena bukan seragam SS, Donny ingin sekali mengembarinya. Mengenakan seragam prajurit Gestapo terlalu ekstrem baginya. Ia pernah jengah setengah mati ketika ada beberapa orang kulit putih memaki-maki temannya yang mengenakan seragam perwira SS ketika mereka sedang berkumpul di kawasan Kota.

Pilihan baju serdadu Jepang ia rasa aman dan cukup keren. Ia punya alasan lain yang sedikit sentimentil. Dua puluh lima tahun yang lalu, ketika ia masih kanak-kanak, Donny pernah begitu terpukau melihat kakak kandungnya berlakon sebagai perwira Jepang yang kejam dalam pementasan tujuh belasan di kampung mereka di Semarang. Jauh hari sebelum pentas, kakaknya yang saat itu masih duduk di bangku SMA sudah berhasil memikat hati orang-orang kampung yang menonton latihan dengan pengucapan makian bagero—lebih tepatnya bakaero, yang artinya bisa dungu atau tahi—yang sangat meyakinkan.

Latihan-latihannya lalu sangat ditunggu dan untuk setiap bagero yang keluar dari mulutnya, penonton bertepuk tangan meriah. Mungkin karena antusiasme itulah maka pada malam pentas kakaknya melontarkan bagero sekitar lima puluh kali untuk pertunjukan yang hanya tiga puluh menit.

Kakaknya itu sangat melindungi Donny semasa ia kanakkanak. Kakaknya meninggal dunia empat bulan yang lalu. Itulah alasannya memilih seragam serdadu Jepang. Seandainya masih hidup, tentu kakaknya senang bergabung dengan komunitas pelakonan ulang dan bisa menjadi bintang di sana.

DONNY ikut komunitas pelakonan ulang karena Elena. Ia tidak diajak, tapi karena Elena menyebut-nyebut tentang komunitas ini, ia bergabung supaya punya alasan sering bertemu. Jika saja Elena menyebut tentang Komunitas Penggemar Cobek dan Ulekan atau Komunitas Perawat Gambar Umbul atau Sekte Penyembah Velvet Underground, ia bakal bergabung juga tanpa berpikir dua kali.

Ia bertemu Elena tiga bulan sebelumnya pada malam amal komunitas pecinta hutan bakau—para anggotanya, seperti anggota komunitas-komunitas lain, lebih senang menamai kelompok mereka dalam bahasa Inggris: Mangrove Addicts.

Ia sebetulnya tidak terlalu peduli bakau. Tentu, ia suka jika hutan bakau terjaga. Tapi, kalau diminta benar-benar berkeringat untuk perbakauan, ia akan mlipir sebelum melarikan diri.

SEMUA berawal dari setahun lalu. Donny, yang saat itu baru saja bercerai, mengurung diri di apartemennya. Ia murung berkepanjangan karena sulit menemui anak perempuannya yang ikut mantan istrinya. Mantannya itu memusuhinya.

Semua tawaran pekerjaan ia tolak. Jangankan yang nilainya biasa, beberapa yang besar pun ia tolak.

Tiga kawan dekatnya—Herman, Kandar, dan Sinyo—yang awalnya iba akhirnya jengkel melihat Donny terus bertingkah seperti pertapa amatiran selama hampir tiga bulan. Mereka lalu mengajaknya ikut acara berbagai komunitas di Jakarta.

"Untuk apa?" tanya Donny, pada awalnya.
"Seru-seruanlah, Bung," kata Kandar.

Jawaban itu mengesalkan Donny. Tapi, ia akhirnya ikut juga karena tak tahan mendengar rengekan ketiga temannya. Pada acara ketiga, baru Donny mafhum bahwa teman-temannya berburu teman kencan.

Donny tak bisa menahan tawa, tawa pertamanya setelah sekian bulan, ketika
Kandar menyebut nama kelompok mereka: Sarekat Muslihat Musang Emas. "Dulu namanya Sarekat Jasa Khilaf, Bung. Tapi, Sarekat Muslihat Musang Emas lebih nyeni," kata Sinyo.

Menurut ketiga kawannya, perempuan-perempuan yang mereka temui bukan jenis yang gampangan—sekalipun bisa khilaf tentunya—dan justru itu yang membuat perburuan menarik.

Donny yang awalnya mencibir akhirnya tergerak. Bukan karena bakal ada imbalan seks jika perburuan berhasil, melainkan karena ia tahu bahwa perburuan—sukses atau tidak—besar kemungkinan bisa menghiburnya. Bagaimanapun ia tahu bahwa terus-menerus mengasihani diri tak akan membawanya ke mana-mana. Kalau perburuan bisa berlanjut ke ranjang, pikirnya, ia akan bersyukur. Ia membutuhkan seks. Ia tahu bahwa untuk urusan seks ia bisa saja memakai jasa perempuan penghibur.

Masalahnya, ia pernah mencoba sekali dan ia tak suka. Ia tahu juga bahwa memuaskan diri sendiri adalah jalan keluar yang mudah. Tapi, hari-hari itu, kalau ia melakukannya, hatinya malah makin nelangsa setelah hajatnya selesai.

Sekalipun hati Donny sudah menjadi sedikit lebih ringan setelah penyikapannya berubah, peruntungannya masih belum terang. Jangankan mengajak perempuan sampai ke ranjang, berkenalan dengan perempuan yang ia anggap menarik pada acara sebuah komunitas pun ternyata ia belum sanggup. Itu berlangsung sampai acara ketujuh yang ia ikuti. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi? Lidahnya benar-benar kelu, bahkan kepada perempuan-perempuan yang bersikap ramah kepadanya. Ketiga kawannya gemas.

"Don, mereka itu ngebet sama kamu lho," kata Herman.
"Masa?" tanya Donny.
"Ais, jangan sok naif begitu. Kamu itu yang paling mbois di antara kita. Paling manis pula mulutnya," kata Herman.
"Itu dulu."

Kepercayaan dirinya memang mengempis semenjak perceraiannya. Mantan istrinya benar-benar berhasil melukainya setelah serangkaian pertengkaran buruk sebelum mereka bercerai. Yang paling memukul Donny adalah ketika perempuan itu bilang tak pernah mencintainya karena ia memang tak layak dicintai.

ACARA kedelapan yang ia ikuti adalah pertemuan para penggemar karya Haruki Murakami. Donny mengenal nama Murakami, ia pernah menonton sebuah film yang diangkat dari novel penulis Jepang itu, tapi sebetulnyalah ia belum pernah membaca satu pun karyanya. Siapa nyana, Murakami mengubah peruntungannya.

Donny sedang duduk menunggu ketiga temannya selesai berhandai-handai setelah acara ditutup ketika seorang perempuan yang Donny taksir berusia dua puluhan akhir duduk begitu saja di sampingnya. Perempuan berkulit cerah itu mengeluarkan pil dari tasnya dan meminumnya.

Spontan, Donny bertanya, "Sakit, Mbak?"
"Ndak, ng... ini pil bulanan."
"Sakit bulanan?"
"Bukan. Ini pil biar aman tiap bulan. Tahu sendirilah, Mas. Saya minum teratur pada jam yang sama supaya tidak lupa. Kalau ngandelin pasangan pakai pengaman kok masih was-was."

Perempuan itu masih duduk selama tiga menit sebelum bangkit dan tersenyum. Donny bukan laki-laki dungu. Ia tahu apa yang diminum perempuan itu, setidaknya demikian jika pengakuan perempuan itu bisa dipercaya. Donny sempat memikirkan sekiranya perempuan itu melemparkan isyarat dan ia kurang sigap. Ia tak terlalu menyesali jika benar demikian. Keterbukaan perempuan itu kepadanya, orang asing bagi perempuan itu, menyadarkan dirinya bahwa ia masih punya harapan.

Pada acara-acara berikutnya Donny lebih rileks dan pelan-pelan kefasihan lidahnya kembali. Ia beroleh beberapa kenalan baru perempuan. Donny membenarkan dengan malu-malu perkataan teman-temannya bahwa parasnya memang oke. Perkenalan-perkenalan itu ada yang berlanjut ke ranjang atau pekerjaan atau keduanya atau tidak sama sekali. Donny tak terlalu risau. Ia menikmati yang bisa ia dapat. Ia tak pernah membanggakan kepada teman-temannya jika yang ia kencani kebetulan seorang sosialita atau model yang punya nama—dua kelompok yang selalu ada saja di komunitas mana pun.

Teman-temannya iri, tapi bagi Donny perempuan-perempuan itu teman kencan biasa, kebetulan saja nama mereka dikenal banyak orang. Ia pernah berpacaran dengan model dan bintang film sebelum ia menikah. Mantan istrinya juga salah seorang juara dalam ajang Abang None Jakarta.

Donny mungkin masih akan terus nyaman dengan situasinya jika anggota Sarekat Muslihat Musang Emas tidak mengundurkan diri satu persatu. Herman bertemu pacar serius di komunitas filateli, Kandar mendapat pekerjaan baru di Myanmar, dan Sinyo—satu-satunya anggota yang bukan lajang—nyalinya menciut setelah istrinya mulai curiga.

Donny sempat berpikir untuk menyudahi saja ikut acara komunitas ini dan itu. Sarekat yang anggotanya seorang saja jelas tak asyik. Terlebih, ia mulai terjangkiti perasaan tak enak yang ia dapatkan setelah kencan. Ia merasa menjadi penipu dan ia terganggu. Ia tak mengeluhkan seksnya, tapi ia ingin mempunyai hubungan yang lebih tulus dan serius.

[bersambung]

****

'Muslihat Musang Emas' diterbitkan oleh Penerbit Banana, dan telah beredar secara resmi pada 15 September di berbagai toko buku independen. Copyright © 2017 oleh Yusi Avianto Pareanom. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.

Kumpulan cerpen ini pun bisa didapat melalui pemesanan langsung dengan mengontak narahubung berikut.