Greg Lin Jiajie

Potret Kompak Dua Pemuda Tiongkok Menampilkan Keajaiban Fotografis Anak Kembar Identik

Fotografer Greg Lin Jiajie pindah ke Selandia Baru saat masih 16 tahun, sedangkan saudara kembarnya tetap tinggal di Cina. Setelah berpisah sekian tahun lamanya, Greg mengenang masa kecil mereka lewat kamera.

|
Jul 20 2018, 11:28siang

Greg Lin Jiajie

Setiap kali orang melihat anak yang kembar identik, mereka langsung mengira sifatnya akan sama karena wajahnya sangat mirip. Padahal, anak kembar bisa saja memiliki sifat dan tujuan hidup yang berbeda. Orang-orang baru menyadari perbedaannya setelah mengenal lebih dalam.

Saya punya saudara kembar identik. Kami mempunyai pandangan hidup masing-masing. Teman kami berbeda dan kami tidak satu sekolah. Saya pindah ke Selandia Baru pada usia 16 tahun, sedangkan dia tetap tinggal di Cina.

Cara bicara dan gaya hidup kami berbeda. Sekarang orang lebih mudah membedakan kami meski postur tubuh masih mirip.


Foto-foto di sini diambil saat kami berdua masih tinggal di Longyan, Tiongkok. Saya terbersit ide proyek baru sewaktu membuka kembali album foto keluarga dan melihat fotoku bersama saudara kembar. Di bawahnya tertulis ‘⾦⾊童 年’ [atau “masa kecil paling berharga”]. Foto itu mengingatkan saya akan masa kecil kami yang sangat indah. Saat itu, kami sedang berlibur musim panas di rumah kakek nenek di desa.

Dulu, saat kebijakan satu anak masih berlaku, tetangga menyebut kami beruntung karena punya saudara dan tidak perlu merasa kesepian. Padahal hidup kami tidak seenak itu. Saat kami masih kecil, ibu suka memakaikan baju kembar. Kami kesal banget. Orang-orang memandangi kami dengan aneh dan bertanya ini itu.


Tonton dokumenter Broadly mengenai problem jomblo akut di Tiongkok dampak kebijakan satu keluarga satu anak di masa lalu:


Mereka juga suka membandingkan kami berdua, membuat pandangannya sendiri dengan menilai yang lain. Lebih menjengkelkan lagi kalau ada orang yang tahu kami punya saudara kembar, mereka langsung melupakan kami dan bertanya-tanya soal saudara kembar.

Saya berusaha memisahkan diri dari saudara kembar saat saya 13 tahun. Saya ingin punya baju, hobi, musik favorit, dan teman yang berbeda darinya. Bahkan, setelah saya pindah ke Selandia Baru, saya tidak pernah memberi tahu orang lain kalau saya punya saudara kembar. Saya tidak suka dianggap sama dengan adikku, tapi tidak ada yang mau mengerti.

Kami semakin jarang pergi bersama saat kami beranjak dewasa. Alasannya? Saya ingin orang memandangku karena diriku sendiri, bukan karena saudara kembarku.

Sekarang, saya jauh lebih menerima nasibku sebagai anak kembar. Saya tidak lagi takut orang menyamakanku dengan adik. Ini bukan proyek fotografi semata. Proyek ini adalah sarana bagi saya untuk mengenang masa kecil bersama adik kembar. Saya ingin mengulang kembali momen-momen indah kami, dan mempererat hubungan kami.

Saya sangat senang melakukan proyek ini. Saya akhirnya menyadari kalau kami sebenarnya sangat berbeda. Saya jadi lebih mengenalnya. Saya merasa jauh lebih bahagia dan juga bangga kepadanya.


Ucapan terima kasih khusus diberikan pada Lin Jia Hao, Xie Hong Li, & Lin Qiang Bin yang memungkinkan pemotretan ini berlangsung.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.

More VICE
Vice Channels