Jangan Kaget, Perempuan Bisa Hamil Lagi Walaupun Sedang Mengandung

Gimana tuh caranya? Para ginekolog ternyata tidak sedang bercanda.

|
22 Februari 2019, 6:00am

Foto ilustrasi oleh Dina Giangregorio via Stocksy 

Pada 2016, perempuan asal Australia, Kate Hill, melahirkan dua anak perempuan yang sehat berselang 10 hari. Para dokter terheran-heran dengan kejadian ini. Kate dan suaminya Peter memang sudah lama ingin memiliki anak, tapi Kate didiagnosis mengidap Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).

Dokter memvonis Kate tidak akan bisa punya keturunan. Kenyataannya dia malah hamil. Berhubung Kate hamil dua kali dalam waktu seminggu, dia menjadi contoh kasus medis langka yang dikenal sebagai superfetasi.

Meskipun peristiwa kayak gini tidak lazim, superfetasi tidak berbahaya kok. Dr. Sherry A. Ross, ginekolog dan penulis buku She-ology, menjelaskan prosesnya secara blak-blakan: "Perempuan berovulasi, kemudian dia hamil. Embrio mulai terbentuk, dan beberapa hari atau minggu kemudian, perempuan itu berovulasi kembali. Dia hamil lagi, dan membentuk embrio kedua."

Kedengarannya seperti mengandung anak kembar, tetapi Dr. Sherry menegaskan kalau janin yang dikandung sepenuhnya terpisah secara biologis. Telurnya tidak dibuahi pada saat bersamaan. Tahap perkembangan setiap janin juga biasanya berbeda seminggu hingga 10 hari—atau bahkan lebih dari satu minggu—karena dua embrio berasal dari dua proses ovulasi yang berbeda.

Tubuh perempuan biasanya mencegah hal kayak gini terjadi. Makanya superfetasi bagaikan anomali yang sampai sekarang coba dipahami para dokter. Menurut Dr. Sherry, kalangan dokter paling suka fakta-fakta sulit. "Mereka suka mencari jejak bagaimana ini bisa terjadi. Saya rasa itu sebabnya ini menjadi hal misterius bagi kalangan ahli medis."

Dr. Sherry menerangkan ada proses biologis tertentu yang dipicu ketika seorang perempuan hamil. Inilah mengapa fenomenanya (dalam sebagian besar kehamilan) tidak pernah terjadi. Yang pertama, “Jika kamu hamil saat ovulasi, rahim akan ditutup dan tidak bisa berovulasi lagi… Kamu hamil, telurnya sudah dibuahi, dan indung telur berhenti memproduksi folikel.”

Alasan lainnya yaitu perempuan membentuk “sumbat mukus” ketika mereka hamil. Sumbat ini terbentuk di dalam serviks setelah pembuahan, dan "mencegah sperma memasuki rahim yang bisa membuahi telur kedua."

Terlepas dari berbagai penjelasan di atas, kasus langka macam ini pernah beberapa kali terjadi di seluruh dunia. Kate dan Peter Hill menerima perawatan kesuburan, menurut Dr. Sherry bisa menjadi faktor superfetasi dialami si ibu yang sedang mengandung. "[Apabila] kamu menjalani perawatan kesuburan, kamu menentang proses alami dalam tubuh," katanya. Menurut Dr. Sherry, perawatan ini mungkin menyebabkan rahim Kate menjadi terhiperstimulasi. Akan tetapi, bagian paling mengejutkan dari kisah pasutri Hill yaitu mereka hanya sekali berhubungan intim.

Bisakah perempuan dihamili dua laki-laki pada saat bersamaan? "Ya, bisa banget," kata Dr. Sherry. Fenomena yang sangat langka ini disebut heteropaternal superfecundation, dan terjadi ketika dua sel telur bertemu dua sperma dari dua calon orang tua berbeda dan membentuk dua embrio (homeopaternal superfecundation terjadi ketika satu orang tua membuahi dua sel telur berbeda).

Tenang, jangan khawatir dulu. Dr. Sherry menekankan bahwa kasus ini sangat jarang terjadi, dan kalaupun kejadian, kamu tidak akan mengalami komplikasi kehamilan. Sehingga, belum ada yang bisa menjelaskan penyebab kejadian langka ini.

"Ada fenomena medis yang tidak akan pernah bisa dijelaskan," tuturnya, "tidak mengapa, biarlah itu menjadi misteri tubuh manusia."

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly