Iklan
Politisasi Meme

Tragedi Kampanye DILDO: Akun IG Sempat Hilang dan Mencuatnya Friksi Antar Admin

Capres-cawapres fiktif idola itu terseret situasi tak terduga: konflik internal antar admin dan pendukungnya. Muncul juga tudingan soal keterlibatan pemerintah mengobok-obok meme ini agar tren golput tak menguat.

oleh Reno Surya
15 Januari 2019, 10:03am

Ilustrasi konflik internal pendukung capres meme Nurhadi-Aldo oleh Farraz Tandjoeng.

Akun Instagram pasangan calon presiden fiktif, Nurhadi-Aldo yang biasa disingkat DILDO, tiba-tiba menghilang, Senin (14/1) lalu. Cuma beberapa jam sih, tapi sempat membuat penggemarnya terkejut. Rumor berkembang, ada yang menyatakan akun itu di-suspend, sebagian lain menduga semua ini imbas konflik tim admin DILDO, dipicu kontroversi wawancara sosok Nurhadi asli bersama pembawa acara bincang-bincang Rosiana Silalahi di Kompas TV pada 10 Januari lalu.

Edwin, salah seorang admin, namanya mencuat dalam siaran tersebut. Saat diwawancarai Rossi lewat sambungan telepon, dia mengaku ingin paslon fiktif tersebut menjadi simbol bagi kelompok yang tidak berminat memilih dalam Pilpres 17 April mendatang. Pernyataan itu menuai serangan terhadap sosok Edwin di berbagai kanal media sosial DILDO.

Persoalan ini mengejutkan, mengingat DILDO sebetulnya datang membawa terang bagi wacana politik di media sosial negeri ini, lewat slogan-slogan mereka yang dekat dengan rakyat. Tidak butuh waktu lama, nama mereka tiba-tiba menguasai jagat dunia maya.

Paslon jalur prestasi dari Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik tidak hadir dengan janji-janji muluk ala politikus. Sebaliknya, paslon ini hadir sebagai oase di tengah tandusnya arena kontestasi politik kita, mengusung humor satir yang tidak dimiliki kubu Jokowi-Ma'ruf ataupun Prabowo-Sandiaga. Makanya anak muda dari berbagai kota sempat mengikuti tren jadi calon legislatif mendukung DILDO dan partainya PUKI.

Kontroversi berlanjut, ketika akun instagram mereka tiba-tiba lenyap sekira nyaris lima jam. Akun DILDO sehari sebelum hilang menggungah poster memprotes kriminalisasi aktivis lingkungan tambang emas Tumpang Pitu, Banyuwangi, Budi Pego.

1547544831137-WhatsApp-Image-2019-01-15-at-162837

Di saat bersamaan, akun tersebut membagikan unggahan tentang gugatan pembebasan Amaq Har dan Sarafudin yang memperjuangkan tanah adat Jurang Koak lewat fanspage Facebook resmi. Sejak awal Januari, page meme ini di IG maupun Facebook terpantau cukup aktif mengabarkan berbagai info mengenai konflik agraria.

Mereka juga sempat menggungah sebuah instastories di kanal instagram, menyindir upaya-upaya menawari tim DILDO endorsement berbayar.

1547544990212-WhatsApp-Image-2019-01-15-at-162836

Tak berapa lama setelah akun DILDO hilang, Edwin selaku salah satu admin menuding ada upaya sistematis menutup akun mereka dari Instagram. Tudingan itu mengarah ke pemerintah. "Yang pasti akun kami menghilang sesaat setelah kami meminta kepada relawan untuk membagikan beberapa isu sosial dengan cara men-tag kami. Isu-isu sosial yang kami angkat seperti, kemanusiaan, HAM, dan agraria. Sepertinya ada yang ditutup-tutupi dari isu ini, sehingga akun kami dihilangkan," kata Edwin saat diwawancarai Kumparan.com.

Pemerintah membantah terlibat meredam page macam DILDO, apalagi kalau dianggap sampai mendorong instagram men-suspend akun tersebut. Semuel Abrijani Pangerapan, selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, mengklaim pihaknya tak bisa menutup suatu akun media sosial secara sepihak. Andaikata akun Nurhadi-Aldo mengampanyekan agar warga tidak memilih, maka aduan soal konten harus datang dulu Komisi Pemilihan Umum ataupun Badan Pengawas Pemilu.

"Sepanjang mereka tidak menebarkan konten propaganda pemisahan negara, radikalisme, terorisme, atau berita hoax, [Kominfo] tidak akan ikut campur," ujarnya kepada VICE. "Kalau untuk masalah suspend, bisa jadi akun tersebut adalah spam atau bot, atau ada yang melaporkan."

Setelah akun instagram tersebut hidup kembali, admin DILDO berusaha membuat pernyataan menenangkan publik.

Rententan posting dan insiden akun hilang ini semakin memperkuat dugaan terjadi friksi di tubuh internal relawan DILDO. Edwin tak seorang diri merawat fanspage Dildo. Berdasarkan pengakuan Nurhadi asli, ada delapan orang yang secara sukarela menjadi timsesnya di dunia maya.

Pada 11 Januari 2019, Edwin merilis sebuah permintaan maaf terbuka setelah pernyataanya di acara TV yang dipandu oleh Rossiana Silalahi. Dia sempat berniat menutup fanspage Dildo. Namun, anggota timses lain menolaknya lewat pernyataan tertulis.

Perselisihan tak hanya menghinggapi admin DILDO saja. Barisan pemuja pasangan yang menjanjikan mengangkat seluruh petani menjadi PNS itu turut terpecah sesudah talkshow Rossi. Sebagian pendukung tidak cocok jika meme perjuangan yang awalnya dapat mempersatukan semua orang, tiba-tiba dipakai buat mendorong agenda golput.

Sebagian fans DILDO mendebat balik, menganggap golput bukan tindakan kriminal dan membela pandangan Edwin. Dasarnya,

Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu sama sekali tidak melarang penyebaran gagasan soal ajakan menolak pemakaian hak suara. Yang dilarang adalah memberi uang atau janji materi supaya warga tidak menggunakan hak pilihnya.

Sekalipun perseteruan ini nantinya berakhir damai dan penggemar Nurhadi-Aldo kembali guyon, tragedi paling ironis terlanjur menghampiri kampanye DILDO. Page meme yang awalnya mengobarkan semangat 'Tronjal-Tronjol Maha Asyik' agar pilpres lebih rileks, sedang mengalami situasi paling tidak asyik: ketika perdebatan politik sengit terjadi di antara pendukungnya sendiri.