Iklan
Kekerasan Seksual

Festival Musik Coachella Punya Masalah Kekerasan Seksual Serius

Penyelenggara membuat inisiatif 'Every One', mencakup pelatihan menghormati perempuan dan penyediaan pendamping di tiap sudut. Banyak festival musik ternama dunia punya problem serupa lho.

oleh Leila Ettachfini
10 Januari 2019, 3:07am

Foto ilustrasi oleh Robert Kohlhuber via Stocksy  

Kendati baru akan dihelat April, festival musik termasyhur Coachella sudah mempersiapkan diri mencegah kekerasan dan pelecehan seksual dalam gelaran tahun ini. Panitia meluncurkan sebuah inisiatif baru bernama Every One. Menurut website resmi Coachella, Every One akan bekerja untuk memastikan “tiap orang, tak peduli apapun identitas dan ekspresi gender, orientasi seksual, ras, agama, umur dan kemampuannya, disambut semestinya di arena Coachella."

Sebagai bagian dari inisiatif Every One, tahun ini Coachella akan mengikutsertakan “Duta Keselamatan Terlatih” di seluruh kawasan penyelenggaran festival. Panitia juga akan menyediakan tenda-tenda yang dijaga oleh para konselor terlatih, kamar kecil untuk semua gender (di samping tolet khusus lelaki dan perempuan) serta panduan yang wajib dipatuhi semua pengunjung festival. Misalnya “Pastikan untuk selalu meminta persetujuan (sebelum berhubungan badan)” dan “Hormati budaya penonton lainnya.”

Situs resmi Coachella juga mewanti-wanti siapapun yang melanggar aturan-aturan tersebut dapat diusir dari lokasi konser kapanpun tanpa menerima pengembalian uang karcis.

Coachella, salah satu festival musik paling ternama di dunia, dalam sejarahnya pernah sangat identik dengan kekerasan seksual. Tahun lalu, Majalah Teen Vogue mewawancarai 54 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual pada penyelenggaran Coachella 2017. Berbagai laporan insiden penggerayangan, perkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya bermunculan sejak festival itu pertama kali digelar pada 1999.

Coachella bukan satu-satunya festival musik yang pernah dirundung masalah kekerasaan seksual. Laporan tentang kejahatan dan kekerasan seksual serta kultur perkosaan (penonton lelaki di Coachella dan Lollapalooza beberapa tahun lalu banyak yang berkeliaran dengan kaos bertuliskan kalimat-kalimat misoginis macam “Eat Sleep Rape” atau “Rape Your Face”) seakan-akan bagian tak terpisahkan dari festival musik, mulai dari Glastonbury hingga Lollapalooza.

Tahun lalu, festival musik Bråvalla di Swedia terpaksa dibatalkan setelah polisi menerima empat aduan kasus perkosaan dan 23 laporan kekerasan seksual pada gelaran 2017.

Sebelum Coachella mengumumkan inisiatif Every Day, festival-festival yang sadar dihantui kekerasan seksual dalam penyelenggarannya sudah mengambil langkah-langkah khusus untuk menangani masalah ini. Tahun lalu, Pitchfork bekerja sama dengan RAINN (Rape, Abuse, and Incest National Network) untuk membasmi kekerasan seksual dalam gelaran tahun mereka.

Bentuk kerjasamanya mencakup penyaluran hasil penjualan tiket untuk RAINN, penyediaan konselor di venue festival dan sebuah resource center. Sementara itu, Bonnaroo tahun lalu juga membuka kelas “pelatihan bystander” dan “consent 101” selama festival berlangsung. Adapun festival-festival lainnya memerangi kekerasan seksual dengan cara yang bervariasi, dari menyiapkan kawasan khusus perempuan hingga membagi-bagikan consent card.

Pasca merebaknya gerakan #MeToo, pengumuman Coachella terkait rencananya mencegah kekerasan seksual disambut dengan pujian dan cibiran. Sebagian netizen mempertanyakan kesungguhan Coachella menjalankan inisiatif Every One lantaran pemilik Coachella Philip Anschutz mendukung Donald Trump yang sesumbar pernah melakukan kekerasan seksual pada banyak perempuan.

Terus terang, menuding langkah Coachella ini sebagai suatu yang problematis hanya akan buang-buang waktu saja. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu sampai April, sebab saat itu kita bisa menguji apakah langkah yang diambil Coachella cukup efektif atau sebaliknya.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly