Standar Kecantikan

Memotret 500 Perempuan di Berbagai Negara Demi Memperluas Makna 'Standar Kecantikan'

Fotografer Mihaela Noroc dari Romania hanya menenteng ransel keliling dunia selama empat tahun, menciptakan kompilasi foto terbarunya berjudul “The Atlas of Beauty.”

oleh June Chua
19 Januari 2018, 12:20pm

Semua foto dimuat ulang atas izin penerbit The Atlas of Beauty: Women of the World in 500 Portraits karya Mihaela Noroc, copyright © 2017.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Proyek foto ini bermula di Ethiopia, pada 2013. Fotografer Romania Mihaela Noroc sedang mengunjungi negara Afrika tersebut bersama suaminya dan tertegun atas kecantikan perempuan-perempuan di sana.

“Saya sedang memotret perempuan-perempuan di sana, mereka semua sangat berbeda dari satu sama lain dan saya tersadarkan, kenapa saya tidak melihat foto-foto perempuan seperti ini?” ujar Noroc pada bulan December di sebuah acara di Berlin yang berhubungan dengan bukunya, The Atlas of Beauty. Buku foto ini adalah hasil dari petualangan berkeliling dunia selama empat tahun yang dimulai saat fotografer berusia 31 tahun ini menyadari bahwa kita masih kekurangan ragam dalam representasi kecantikan perempuan. Buku ini menampulkan 500 potret perempuan dari seluruh dunia, bersamaan dengan cuplikan kehidupan mereka.

Setelah mengunjungi Ethiopia, Noroc kembali ke kota asalnya Bucharet dengan hasrat membara untuk memotret sebanyak mungkin perempuan dari setiap sudut dunia, jika memungkinkan. Dia menabung dan pergi selama 14 bulan ke 30 negara termasuk Kutub Utara dan Cina dan Rusia.

“Persepsi saya soal kecantikan berubah. Kalau kamu gugel ‘perempuan cantik’ gambar yang keluar gitu-gitu aja,” ujarnya pada lebih dari 50 pengunjung di sebuah galeri kecil di Berlin.

“Biasanya, yang muncul adalah perempuan pirang dengan mata biru dan bibir yang sedikit terbuka. Itu apa ya? Saya melihat perempuan-perempuan hebat ini—dari usia dan etnis berbeda dan menurut saya mereka semua cantik,” ujarnya. “Gambar-gambar mereka tidak cukup banyak. Ini karena laki-laki selalu ingin difoto, tapi tperempuan tidak… mereka bilang mereka perlu makeup, kalau tidak, mereka tidak cantik.”

Noroc memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Dia mencari dana lewat sumbangan massa di Indiegogo dan mengumpulkan dana $50.000 untuk bertualang selama dua tahun dan meproduksi buku berisi foto-foto yang dia ambil. Selain Eropa, dia juga mengunjungi Iran, Tibet, Korea Utara, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Pasifik Selatan dan bagian-bagian Amerika Selatan.

Noroc bilang, biasa menghabiskan berjam-jam berjalan kaki di jalan, lalu tiba-tiba dipenuhi kebutuhan untuk memotret seseorang. Lalu dia akan mendekati orang-orang dan mengajak mereka ngobrol. Terkadang hanya dibutuhkan beberapa menit saja untuk memotret sudut paling alami seseorang, terkadang dia harus menghabiskan berhari-hari bersama mereka untuk menumbuhkan rasa percaya. “Saya mencoba menghumanisasi kamera, jadi mereka nyaman dan saya bisa memotret mereka saat paling santai.”

Produknya adalah satu seri foto-foto nyata yang menampilkan setiap usia dan latar belakang yang ada. Perempuan-perempuan di dalam buku ini menunjukkan kekuatan dan kedamaian. Subjek-subjeknya dipotret saat berdiri, duduk, memasak, memarkir motor, bermain alat musik, dan bekerja. Mereka termasuk petugas kepolisian dan petugas keamanan dari Israel, Palestina, Korea Utara, India, dan Uruguay. Ada pula penjaga toko, pemadam kebakaran, peselancar, ibu, anak, kawan, dan lain-lain.

“Persepsi saya soal kecantikan sangat berbeda di mana-mana,” ujar Noroc. “Di beberapa bagian dunia, kalau seorang perempuan berpakaian tertutup, dia cantik. Tapi di bagian dunia lainnya, seorang perempuan harus berpakaian terbuka. Jadi ada tekanan di mana-mana.”

Bagi Noroc, perempuan tampak cantik di foto-fotonya karena mereka terlihat alami—tanpa makeup atau pakaian khusus. “Saat kamu melihat buku saya, kamu bakal melihat kebebasan,” ujarnya. “Perempuan-perempuan ini tampil dengan cara yang mereka inginkan.”

Di bawah ini, temukan sejumlah foto yang ada di dalam The Atlas of Beauty dilengkapi deskripsi dari Noroc untuk kisah di balik setiap potretnya.


Chichicastenango, Guatemala— “Maria adalah penjual sayur di pasar, di kota kecil tempat dia tinggal. Dia langsung malu-malu saat melihat kamera.”


Pedalaman Hutan Amazon, Ekuador—“Kini semakin banyak suku di Amazon yang mulai mengadopsi pakaian modern untuk berkegiatan sehari-hari. Tapi mereka masih mengenakan pakaian tradisional mereka untuk acara-acara penting. Saya memotret perempuan muda ini saat mengenakan baju pernikahan.”


Paris, Prancis—“Anja adalah warga Belgia keturunan Polandia yang bermimpi berkompetisi di Paralympic Games. Dia lahir tanpa kaki kanan, di Polandia, dan ibunya meninggalkannya di rumah sakit, memohon dokter di sana untuk merawatnya. Pada usia 19 bulan, dia diadopsi keluarga Belgia, dan menjalani masa kecil yang bahagia.”


Berlin, Jerman—"Ibu Anais orang Malia dan bapaknya orang Prancis. Saat dia pergi ke Mali, orang-orang berharap dia kulit putih. Saat dia di Eropa, dia dianggap orang kulit hitam. Tapi Anais bilang dia merasa Afrika dan Eropa sekaligus.”


Milan, Italia—"Caterina mulai menari saat usianya tiga tahun. Ibunya, Barbara, sangat suportif, tapi tahu bahwa kesempatan belajar ballet di kotanya amat terbatas, meski suami dan anak laki-lakinya tidak ikut pindah, dia pindah bersama Caterina ke Milan, di mana anaknya bisa memenuhi mimpinya dan belajar di salah satu sekolah terbaik di dunia.”


Provinsi Sichuan, China—"Di antara perempuan-perempuan anggun yang saya temui, ibu dua anak asal Tibet ini tampak seperti ini di detik dia membukakan pintunya untuks aya; dia habis berbenah rumah sambil mengenakan perhiasan.”

Istambul, Turki—"Saat saya berpergian, saya bertemu banyak perempuan yang bilang mereka enggak merasa cantik. Dipengaruhi media dan cara mereka menggambarkan kecantikan, banyak perempuan merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan tertentu. Tapi Pinar enggak begitu. Dia adalah Turkish Cypriot dan udah lama ingin menjadi aktris teater. Jadi dia pindah dari Cyprus ke Turki, bekerja keras dan menggapai impiannya. Meski dia senang bermain banyak peran di atas panggung, di kehidupan nyata, dia senang menjadi diri sendiri: alami dan bebas.”