Iklan
Merokok

Vaping Lebih Membahayakan Kesehatan Kalau Konsumen Sebelumnya Bukan Perokok

Hasil penelitian menyimpulkan rokok elektronik dapat memicu gangguan kesehatan tak kalah berbahaya dari rokok. Pilih vaping hanya untuk berhenti atau mengurangi konsumsi tembakau.

oleh Troy Farah
16 Maret 2018, 10:35am

Salah satu rokok elektronik yang laris di pasaran. Foto oleh Suzanne Kreiter/The Boston Globe via Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Saat baru memasuki pasaran, rokok elektrik tampak seperti penyelamat buat para pecandu nikotin. Vaping semacam cara teraman mendapatkan stimulan nikotin tanpa risiko penyakit dan kematian yang diasosiasikan dengan tembakau. Kini, seperti yang telah diprediksi segelintir orang, semakin banyak penelitian menunjukkan bila sistem pengantaran vapor digital tidak seaman yang diduga kalangan awam sebelumnya.

Dua makalah yang baru saja dirilis soal rokok elektrik membahas soal zat-zat kimia karsiogenik dalam proses vaporisasi, termasuk komponen berbahaya pada perisa tambahan dan logam berat seperti cucian timah dari gulungan yang terbakar.

Penelitian ketiga yang terbit di PLOS ONE dan dirilis hari ini oleh satu tim yang terdiri dari para peneliti dari Norris Cotton Cancer Center di Darmouth College menyimpulkan bahwa, secara umum, rokok elektrik lebih berbahaya daripada bermanfaat. Meski rokok elektrik mungkin membantu beberapa perokok berhenti, jenis ini tampaknya cenderung membuat non-perokok jadi perokok. Khususnya, para peneliti memperkirakan bahwa merokok rokok elektrik pada 2014 mengarah pada 2,070 perokok aktif untuk berhenti pada tahun selanjutnya, namun juga 168,000 orang berusia 12 sampai 29 tahun yang belum pernah merokok sebelumnya jadi mulai merokok dan menjadi pengguna harian antara usia 35 sampai 39 tahun.

Para peneliti memperkirakan penggunaan rokok elektrik pada 2014 akan mengarah pada berkurangnya harapan hidup hingga 1,5 juta tahun dari seluruh populasi Amerika Serikat. Sementara faktor yang paling mengganggu adalah, betapa vaping sangat menarik bagi remaja dan anak-anak muda. Mereka menganggapnya tidak seberbahaya rokok.

Tepatnya bagaimana vape bisa membuat anak-anak mulai merokok adalah hal yang rumit. Tentunya, adiksi pada nikotin adalah faktor besar, menurut Samir Soneji, investigator penyidik utama dan profesor di The Darmouth Institute for Health Policy and Clinical Practice. Namun tak semua rokok elektrik mengandung nikotin.

“[Remaja] juga dikenalkan pada perilaku merokok,” ujar Soneji pada Tonic. “Tidak ada api di rokok elektrik, tapi ada cahayanya, dan kamu menempatkan objek yang mirip rokok ini ke mulutmu, kamu menghisapnya, lalu mengembuskannya, jadi ini merupakan perilaku yang mirip,” ujarnya. Dia menambahkan, “Penelitian-penelitian telah menemukan bahwa anak-anak yang main bareng orang-orang yang vaping mengubah perilaku mereka soal merokok…Mereka mulai memiliki persepsi yang lebih rendah soal bahaya-bahaya rokok, perilaku mereka berubah.”

Sebuah analisa baru-baru ini atas 800 penelitian peer-review mendukung kesimpulan bila penggunaan rokok elektrik di kalangan anak muda meningkatkan risiko terbujuk merokok tembakau. Fakta di lapangan menunjukkan lebih mudah bagi para remaja mengakses rokok elektrik ketimbang rokok tradisional.

Sampai 2016, saat Food and Drug Administration memperkenalkan beberapa aturan vaporizer nasional, 10 negara bagian termasuk Washington, DC, tidak memiliki batasan usia apapun—artinya, 16 juta anak bisa membeli rokok elektrik secara legal. Kini kamu harus berusia setidaknya 18 tahun, dan di beberapa negara bagian 21 tahun, untuk membeli rokok elektrik. (Satu laporan dari Weill Cornell Medicine mengingatkan bahwa kalau aturan rokok tradisional diterapkan pada rokok elektrik, takutnya remaja cenderung merokok rokok tradisional, karena diasumsikan para remaja vaping sebagai alternatif rokok “beneran.”)

Namun menurut Soneji dan orang-orang lain yang saya ajak bicara, banyak remaja memesan vaporizers online. Sebagian besar situsweb menanyakan usia pembeli, tapi mudah sekali untuk berbohong. Ada alasan-alasan lain remaja menggunakan rokok elektrik, vaporizers lebih mudah disembunyikan.

“Sulit bagi anak-anak untuk merokok di siang hari. Kami menyebutnya ‘perokok oportunistik,’” ujar Mark Rubinstein, profesor yang mempelajari obat-obatan remaja di University of California. “Sebagian besar di antaranya jelas tidak bisa merokok di sekolah dan sulit merokok di rumah karena orangtuamu bisa menciumnya. Jadi, secara teori karena produk-produk ini lebih mudah untuk disembunyikan, remaja bisa menggunakannya lebih sering dibandingkan rokok.” Bahkan di lingkungan sekolah.


Meski secara umum dipasarkan sebagai pilihan yang lebih “aman,” penelitian terbaru dari American Academy of Pediatrics, dipimpin Rubinstein, menyimpulkan rokok elektrik tidak aman. Timnya menganalisa urin 83 remaja yang menggunakan antara hanya rokok elektrik (67 orang) atau rokok elektrik dan rokok tradisional (16 orang), dan membandingkan sampel-sampelnya dengan urin 20 remaja non-perokok. Mereka memastikan bahwa peserta tidak terpapar asap rokok atau bukan perokok pasif dan juga dari lingkungan yang terkontrol.

Mereka menemukan data bila urin konsumen yang terbiasa vaping mengandung tingkatan “kandungan organik beracun” lebih tinggi dibanding perokok, termasuk di antaranya acrylamide, acrylonitrile, dan propylene oxide. Beberapa zat itu masuk kategori karsinogenik dalam dosis rendah. Rata-rata tingkat komponen organik beracun adalah tiga kali lebih tinggi di kalangan pengguna rokok elektronik dibandingkan non-perokok. Di kalangan remaja yang menggunakan keduanya, tingkatan komponen organik beracun tersebut tiga kali lebih tinggi dibandingkan remaja yang hanya menghisap vaporizer.

Di kalangan remaja yang sejak awal cuma menggunakan rokok elektrik, penggunaan e-juice rasa buah-buahan diasosiasikan dengan tingkat akrilonitril lebih tinggi di otak. Sebagian remaja yang hanya vaping menggunakan e-juice tanpa nikotin, kandungan urin mereka terbukti mengalami peningkatan tiga komponen dibandingkan non-perokok. Ini adalah penelitian pertama yang menganalisa keberadaan zat kimia berpotensi menyebabkan kanker di tubuh remaja-remaja yang terbiasa vaping tanpa pernah merokok tembakau sebelumnya.

“Kami tidak benar-benar mengetahui kandungan produk-produk ini yang dibuat di luar negeri,” kata Rubinstein saat diwawancarai Tonic. “Di kandungannya tertulis mengandung enam miligram nikotin, tapi apa benar? Tidak ada peraturan BPOM yang memeriksa hal tersebut. Mungkinkah ada zat-zat beracun lainnya, seperti sebagian mainan yang dibuat di luar negeri? Tidak ada yang tahu.” Zat-zat kimia tersebut tidak tertera pada daftar komponen e-juice; mereka dianggap “flavorings.”

Tahun lalu, BPOM Amerika Serikat mengumumkan rencana menunda regulasi penjualan rokok elektrik selama empat tahun. Lembaga ini juga berencana membatasi jumlah nikotin pada rokok tradisional. Penting dicatat, sebagian perusahaan tembakau seperti pemilik Marlboro, Altria Group, dan pemilik Newport, Reynolds American memproduksi rokok tradisional sekaligus rokok elektrik. Sementara sebagian perusahaan memandang hal tersebut sebagai kesempatan bagi perusahaan-perusahaan tembakau mengembangkan bisnis rokok elektrik mereka.

Mari kembali ke kandungan zat-zat kimia di alat vaping. Soneji menggunakan benzaldehyde sebagai contohnya. Zat ini alaminya ditemukan pada apel, aprikot, dan ceri, dan merupakan perisa berbau almond pada banyak makanan, seperti ceri Jolly Ranchers—dan rokok elektrik rasa ceri. FDA berkata zat ini “tergolong aman,” sebuah perbedaan yang berarti perisa makanan dianggap non-racun oleh para ahli. Meski begitu, sebagian riset menunjukkan kesimpulan kalau memanaskan benzaldehyde dapat membentuk benzene, zat kimia yang dikenal bisa menyebabkan leukimia dan kanker lainnya. Jadi, jangan pernah anggap vaping lebih keren dan lebih aman begitu saja dibanding rokok.

Follow Troy Farah di Twitter.

Tagged:
vaping
tren
E-Cigs
Tonic
Nikotin
penelitian
kesehatan
Jurnal Ilmiah
Kedokteran
Kecanduan
Remaja
tembakau
Rokok Elektronik