The Year We Woke Up

Kumpulan Ilustrasi Paling Menggambarkan Asia Sepanjang 2019: The Year We Woke Up

Gerakan pro-demokrasi, peduli lingkungan, serta yang mengusung agenda progresif di seantero Asia-Pasifik digerakkan anak muda. Mereka semua muak melihat keadaan memburuk di bawah kendali Gen X.

oleh VICE Asia Staff
18 Desember 2019, 2:15pm

Kolase gambar oleh VICE Asia

Dalam rubrik “The Year We Woke Up”, VICE mengangkat kisah sosok-sosok yang tak takut melakukan perubahan sepanjang 2019. Kami merayakan anak muda, seniman, maupun aktivis yang menyadarkan kita semua agar berani memulai langkah mewujudkan perubahan.


Selama nyaris 365 hari terakhir, ada banyak peristiwa penting yang melanda Asia Pasifik. Tidak sulit untuk menentukan benang merah apakah yang menyatukannya. 2019 adalah tahun penanda anak-anak muda muak dengan kondisi yang mereka hadapi. Mereka tidak diam saja. Mereka memilih melawan.

Salah satu tetengernya adalah unjuk rasa yang digalang anak muda seperti yang bisa kita saksikan terjadi di Hong Kong, Australia, dan Indonesia. Sementara di India dan Jepang, anak muda berusaha merobohkan hambatan budaya terhadap perempuan.

Dukungan terhadap LGBTQ juga berkembang di negara konservatif seperti Filipina. Pun kebijakan progresif terhadap minoritas seksual maupun perempuan di Taiwan serta Korea Selatan perlu diparesiasi. Energi, passion, serta komitmen generasi muda ini terhadap agenda-agenda progresif layak diacungi jempol.

Mengingat ada banyak momen positif sepanjang 2019, redaksi VICE merasa rangkaian peristiwa terbesar tahun ini perlu direpresentasikan melalui format ilustrasi menarik. Kami meminta ilustrator dari berbagai negara untuk menggambarkan situasi penting negara kawasan Asia-Pasifik, dalam sebuah gambar yang semoga dapat berbicara banyak. Berbagai ilustrasi di bawah, semoga, dapat menyuntikkan harapan kita bahwa satu dekade ke depan akan lebih baik berkat kiprah anak-anak muda: kalian semua.

Unjuk Rasa Pro-Demokrasi di Hong Kong

1576215719611-Hong-Kong-protests-you-cant-kill-us-all-badiucao
Ilustrasi oleh Badiucao

Tahun ini, salah satu peristiwa paling mengejutkan adalah unjuk rasa anak muda tanpa henti di Hong Kong yang bikin gentar dunia—serta para petinggi Tiongkok di Beijing. Isu ini awalnya relatif sederhana. Sebuah UU diloloskan parlemen Hong Kong, mengizinkan warga kota otonom itu diekstradisi ke Cina daratan. Tapi anak muda melihat bahwa UU itu mengancam masa depan mereka. Karena semua jenis kejahatan, termasuk berpendapat secara bebas, bisa terancam. Pemerintah Hong Kong, yang dianggap boneka Beijing, mulai melunak ketika demonstrasi terus terjadi setelah 13 pekan. Beleid bermasalah dicabut. Tapi semuanya sudah terlambat.

Anak muda Hong Kong perlahan berani memperjuangkan isu lainnya. Termasuk menelusuri potensi kemerdekaan Hong Kong sepenuhnya dari Beijing. Posisi moral anak muda juga kuat, karena polisi Hong Kong ditengarai melakukan pelanggaran HAM saat menghalau demonstran. Rangkaian aksi ini sukses dikonversi menjadi basis politik riil, setelah partai pro-demokrasi memenangi pemilu distrik November lalu. Memang ada catatan hitam, terkait taktik kekerasan dan perusakan fasilitas umum dari sebagian demonstran. Tapi dukungan masyarakat tetap besar. Kita wajib terus memperhatikan apa yang akan terjadi di Hog Kong hingga tahun depan. - Natashya Gutierrez, Editor-in-Chief VICE Asia Pasifik

Mahasiswa Bergerak Melawan Oligarki di Indonesia

1576215765800-Indonesia
Ilustrasi oleh Bobby Satya Ramadhan

Ada satu istilah tiba-tiba sangat populer bagi anak muda Indoensia sepanjang 2019: Oligarki. Satu kata itu menyatukan ribuan anak muda dengan ideologi dan hobi berbeda-beda. Mulai dari aktivis mahasiswa yang peduli pemberantasan korupsi; anak muda yang ingin kerusakan lingkungan serius dicegah; aktivis perempuan yang menuntut RUU PKS disahkan; hingga anak STM, gamer mobile, dan pecinta K-Pop. Keberadaan oligarki, segelintir elit politik di belakang presiden yang ditopang rent-seeking corporation menyadarkan anak muda bila hidup mereka terancam tak baik-baik saja. Oligarki pula yang memakai pengaruh di parlemen, sehingga sekian RUU bermasalah dibahas di DPR. Dampaknya berupa pelemahan KPK, revisi UU KUHP yang melanggar privasi, sampai upaya komersialisasi berlebihan bidang tambang dan pertanahan.

Anak muda itu mengumumkan perang dengan cara masing-masing. Membuat meme, berkoordinasi lewat aplikasi pesan di game mobile, dan membentuk gerakan tanpa komando bermodal tagar medsos. Karena parlemen sempat keras kepala, akhirnya pecah demonstrasi seminggu penuh di depan DPR dan kota-kota lain sepanjang akhir September 2019. Jokowi dan DPR menyerah, mengikuti kemauan mahasiswa dengan menunda beberapa RUU yang dianggap bermasalah. Dua mahasiswa di Sulawesi Tenggara tewas ditembak aparat di tengah perlawanan ini, tapi semangat anak muda Indonesia terlanjur berkobar. Generasi yang sering dianggap paling apatis, tak ragu bersikap progresif. Elit politik Indonesia yang menganggap enteng anak muda, dan merasa bisa mengelola negara ini tanpa check and balance, mulai menyadari bila mereka punya lawan sepadan. - Ardyan M. Erlangga, Managing Editor VICE Indonesia

Gerakan Melawan Perubahan Iklim Menguat di Australia

Australia climate protests
Ilustrasi oleh Madison Griffiths

Ada yang berubah di Australia tahun ini. Kemarau panjang yang dialami banyak orang sepanjang 2019 mungkin mengubah persepsi mereka soal isu perubahan iklim. Mungkin juga kesadaran mereka berubah setelah terjadi kebakaran hutan massif di pedalaman Australia yang asapnya diduga bisa memicu kanker. Ada pula kemungkinan orang-orang pesimis melihat pemerintah yang tidak peduli lingkungan dan masa depan negara ini kembali memenangkan pemilu. Yang jelas, ada perubahan. Bukan lagi sekadar di pola pikir, melainkan berwujud dalam aksi nyata.

Gelombang unjuk rasa menuntut adanya perubahan kebijakan soal perubahan iklim, dalam panji 'Extinction Rebellion ', meraup dukungan jutaan orang di kota-kota besar, dari Sydney, Adelaide, Melbourne, sampai Canberra. Dengan atau tanpa Greta Thunberg, ini gerakan pro-lingkungan paling besar pernah terjadi di Australia. Mayoritasnya dimotori anak muda. Apakah kesadaran anak muda ini masih bisa mengimbangi kenaikan temperatur global yang terlanjur melonjak di atas 2 derajat celcius secara global dan diprediksi memicu kiamat kecil? Semoga saja. - Julian Morgans, Senior Editor VICE Asia Pasifik

Parade Pride LGBTQ Terbesar Sukses Digelar di Filipina

1576215923952-Philippines-LGBTQ-Pride
Ilustrasi oleh Gerilya

Filipina adalah salah satu negara paling konservatif di Asia Tenggara. Cerai amat sulit, kontrasepsi juga terlarang, semua atas alasan agama. Maka, tak heran bila negara mayoritas Katolik ini juga tertinggal dibanding negara lain di kawasan soal pengakuan terhadap hak komunitas LGBTQ sebagai warga negara yang setara. Sepanjang 2019, media lokal mencatat berbagai peristiwa diskriminasi dan kekerasan menyasar komunitas transpuan Filipina. Tak ada UU apapun yang melindungi komunitas ini. Polisi sah-sah saja bila tak mau membantu LGBTQ saat mengalami kekerasan. Namun, kondisi suram tersebut perlahan membaik. Malah, gelombang perjuangan mengakui kesetaraan LGBTQ terjadi secara simultan, berkat dukungan masyarakat dan dunia usaha. Maskapai penerbangan Cebu Pacific, misalnya, menjadi perusahaan swasta Filipina pertama yang memberi kesempatan transpuan jadi pramugari. Momen terbaik tentu saja muncul dari kesuksesan penyelenggaraan Parade Pride di Ibu Kota Manila pada Juni lalu. Lebih dari 70 ribu orang turun ke jalan, mendukung LGBTQ. Filipina resmi menjadi tuan rumah perayaan pro-LGBTQ terbesar di Asia Tenggara, yang akan terus dicatat dalam sejarah. - Therese Reyes, Editor VICE Asia Pasifik

Atlet-Atlet Perempuan India Jadi Simbol Inspirasi

1576215819389-India-female-athletes
Kolase foto oleh Prianka Jain

Di India, sayangnya, perempuan masih jadi warga negara kelas dua. Diskriminasi dan pelecehan terhadap perempuan masih marak terjadi. Tapi, sepanjang 2019, perempuan justru menjadi ikon. Mereka menginspirasi banyak orang, bahwa perempuan setara sepenuhnya. Shafali Verma, seorang atlet kriket, berhasil memecahkan rekor internasional. Sprinter Hima Das, meraup lima emas dalam kurun tiga pekan. PV Sindhu juga berhasil menjadi juara badminton di level bergengsi pertama dari India (sekaligus menjadi olahrawagan profesional dengan bayaran termahal sepanjang sejarah bangsa kami). Negeri Sungai Gangga memang punya banyak pekerjaan rumah soal kesetaran gender. Tapi sosok-sosok perempuan inspiratif ini, yang sekaligus mengangkat nasionalisme banyak orang, semoga bisa pelan-pelan mengubah pandangan kerdil masyarakat. - Dhvani Solani, Associate Editor VICE Asia Pasifik

Perempuan Kini Bisa Aborsi di Korsel

1576215984694-Korea-Our-Body-Our-Choice
Ilustrasi oleh Yeoin

Pada 11 April tahun ini, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan menelurkan produk hukum bersejarah: mengakhiri pidana diskriminatif terhadap pelaku aborsi yang bertahan selama 66 tahun. Lebih dari setengah abad, perempuan di Korsel dilarang melakukan aborsi—tindakan atas nama kesehatan pun senantiasa dipersulit. Perubahan itu akhirnya datang, berkat kampanye massif yang digerakkan anak-anak muda, terutama pelajar SMP serta SMA. Mereka tak mau lagi tunduk pada hukum bikinan masyarakat patriarkis. Aktivis pelajar ini, dibantu 23 organisasi pro-perempuan, rajin menggelar demonstrasi, jumpa pers, sampai pameran foto dan seni. Pesan-pesan pro-aborsi mereka gaungkan pula lewat Twitter dan YouTube. Ketika momen penting itu tiba, setelah Mahkamah Konstitusi mengabulkan tuntutan mereka, ratusan perempuan menangis di gedung pengadilan, berpelukan, dan merayakan satu langkah kecil melawan balik patriarki. - Junhyup Kwon, Editor VICE Korea

Taiwan Akhirnya Izinkan Pernikahan Sejenis

1576216010723-Taiwan-Same-Sex-Marriage
Ilustrasi oleh Sadewa Kristianto

Tahun ini, cinta mengalahkan segalanya di Taiwan. Negara kecil itu menjadi bangsa pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sejenis pada 17 Mei lalu. Setelah pengumuman itu disiarkan, kita melihat pawai penuh kebahagiaan di jalanan Taipei dan kota-kota lain. Ada pasangan yang memamerkan surat nikah mereka. "Kita semua berhasil mengambil langkah maju untuk mencapai kesetaraan yang sebenarnya dan membuat Taiwan menjadi negara yang lebih baik untuk semua," kata Tsai Ing-wen, Presiden Taiwan, dalam jumpa persnya. Ini momen kemenangan untuk komunitas LGBTQ Asia. - Junhyup Kwon, Editor VICE Korea

Thailand Legalkan Mariyuana Medis

1576216176637-Thailand-Legalize-medical-marijuana
Ilustrasi oleh Dimas Adiprasetyo

Keputusan bersejarah itu memang sudah diumumkan pada 26 Desember 2018. Namun, baru di tahun ini, kebijakan pemerintah Thailand benar-benar dirasakan masyarakat umum. Negeri Gajah Putih resmi menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengizinkan penelitian dan pemakaian mariyuana medis. Tak cuma itu, Thailand bahkan sudah bersiap mengkaji kemungkinan mengizinkan konsumsi ganja untuk tujuan rekreasi. Padahal, dua tahun lalu, status mereka masih salah satu negara dengan hukum pidana paling keras untuk pemakaian ganja. Berkat kemajuan di Thailand, negara Asia lainnya mulai menilik kemungkinan legalisasi serupa. Manfaat ganja diakui lebih besar daripada mudharatnya. Diskusi soal legalisasi, akhirnya, terdengar pula dari Malaysia, Laos dan Filipina. Angin perubahan soal mariyuana mulai bertiup ke Asia Tenggara. - Natashya Gutierrez, Editor-in-Chief VICE Asia Pasific