Sains

Hampir Semua Makhluk Hidup di Bumi Berevolusi Dari Hewan Mirip Cacing Ini

Makhluk mirip cacing yang mulut dan anusnya menembus terowongan dasar laut ini memulai bentuk tubuh yang kemudian berevolusi menjadi manusia dan banyak hewan lainnya.
25 Maret 2020, 9:17am
Gambar konsep Ikaria Wariootia. Gambar: Sohail Wasif/UCR
Gambar konsep Ikaria Wariootia. Gambar: Sohail Wasif/UCR

Sekitar 555 juta tahun silam, hidup makhluk mirip cacing bernama Ikaria wariootia. Hewan ini adalah nenek moyang Kerajaan Hewan, termasuk manusia.

Makhluk yang kini sudah punah merupakan “bilateria” tertua. Tubuh Ikaria wariootia simetris bilateral di sisi kiri dan kanannya, sementara lubang depan dan belakang (mulut dan anus) dihubungkan oleh usus. Fitur-fitur ini menunjukkan Ikaria wariootia sebagai nenek moyang jelas dari sebagian besar hewan di masa sekarang.

Selama ratusan juta tahun, hewan berevolusi menjadi beragam bentuk termasuk manusia, dinosaurus, gajah, hiu, laba-laba, burung, ular dan banyak spesies lainnya. Terlepas dari variasi yang beragam, semua hewan memiliki garis keturunan yang sama. Pada akhirnya, para ilmuwan tertarik menyelidiki silsilah ini sedalam-dalamnya.

Ilmuwan menemukan jejak-jejak binatang purba berbentuk lubang kecil fosil, Helminthoidichnites, yang tertinggal pada batupasir di Nilpena, Australia Selatan. Selama lebih dari satu dekade, mereka mempertimbangkan makhluk seperti apa yang mungkin menggali terowongan ini. Sayangnya, para ilmuwan tidak pernah berhasil menemukan fosil tubuh makhluk tersebut.

Diketuai lulusan doktor Scott Evans dari UC Riverside, tim peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 fosil tubuh hewan purba tersebut menggunakan pemindaian laser 3D. Mereka menerbitkan temuannya dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

“Kami senang berhasil menemukannya!” bunyi email Scott, yang kemudian menambahkan “banyak proses yang dilewati” sebelum akhirnya mereka menggunakan laser pemindai.

“Kami termotivasi menggunakan pemindai setelah memastikan temuan ini beneran fosil dan sekiranya cocok dengan perkiraan kami tentang pembuat Helminthoidichnites,” terang Scott. “Setelah memiliki pemindai 3D, kami baru menyadari apa yang kami temukan dan seberapa besar dampaknya.”

Tim Scott mengungkapkan hewan Ikaria wariootia terbesar dapat tumbuh seukuran dan berbentuk beras. Nama genus baru ini terinspirasi dari istilah “Ikara” yang berarti “tempat pertemuan” dalam bahasa asli Adnyamathanha. Spesiesnya merujuk pada Warioota Creek, yang mengalir di dekat tempat penemuan fosil.

04Nqp8QmIA8FRYAuZCWjzYNT3e3Zddq6ce3Ln9K8l1jF-OlD-GFWezBKFhdoWleG1tsxzhSktGwKH9CNvbHaRB6fwXM7itySaTDUv3rOW4vMB-S11W49FXR1xoStGRumSrzeBgsD

Ikaria wariootia bukan satu-satunya hewan yang hidup dalam zaman Ediacaran, dan tak semua hewan di masa sekarang berupa bilateria. Hewan seperti spons, ubur-ubur dan anemon bentuk tubuhnya berbeda dari bilateria. Akan tetapi, studi tim Scott menjelaskan sebagian besar hewan memiliki bentuk tubuh bilateria dan Ikaria wariootia berpotensi menjadi “bilateria tertua dengan bentuk tetap” yang ditemukan di Australia Selatan.

Selain mendorong kembali garis waktu bilateria awal, spesimen ini dapat memberikan bukti langsung tertua dari aktivitas menggalinya dalam catatan fosil. Ketika mereka menerobos dasar laut, hewan ini memakan alga atau bangkai makhluk laut yang dilewati. Strategi ini mungkin membantu kemunculan predasi.

Fosil tersebut tak hanya menawarkan pandangan sekilas terhadap hewan awal, tetapi juga membantu ilmuwan membatasi teori kemunculan kehidupan di dunia asing. “Jika ingin menemukan planet mana yang dihuni kehidupan kompleks, maka kita harus dengan baik mempelajari lingkungan yang memiliki kehidupan seperti itu di planet sendiri setengah miliar tahun silam,” tuturnya.

Penelitian mereka didanai sebagian oleh NASA Exobiology Program Grant karena relevansinya memahami asal-usul organisme kompleks. “Kami melihat Ikaria menghindari lingkungan yang kurang oksigen,” jelas Scott. “Ini mengindikasikan jumlah oksigen yang cukup besar sangat penting bagi evolusi dan keberhasilan organisme jenis ini. Dengan demikian, kita harus mencari exoplanet dengan kondisi serupa yang memiliki kadar oksigen bagus.”

Identifikasi Ikaria wariootia merupakan tonggak besar dalam rekonstruksi nenek moyang hewan, dan kemungkinan akan ada penemuan-penemuan lain dari bebatuan zaman kuno Ediacaran di Australia Selatan, Cina Selatan, atau Rusia. Scott berharap bisa merekonstruksi “mesin genetika” yang mengarah pada organisme berpengaruh ini.

“Proyek saya sedang menggabungkan karakter-karakter yang bisa ditemukan dari Ikaria dan hewan-hewan lain pada periode tersebut, dengan pemahaman tentang gen yang menghasilkan karakter tersebut pada hewan saat ini,” katanya.

“Pada akhirnya, temuan ini akan memberikan gambaran lebih baik tentang pemrograman genetik yang dapat membentuk hewan-hewan awal tersebut dan semoga memberikan gagasan lebih baik dalam konteks evolusi makhluk kompleks yang lebih luas di Bumi.”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard