Opini

Karena Buzzer Sibuk Berantem, Bikin TikTok Saat Banjir Jadi Perlawanan Warga Frustrasi

Tidak ada perubahan bakal terjadi. Kajian pakar bertahun-tahun diabaikan, influencer lebih suka menyalahkan politikus memperkeruh linimasa. Karena Jakarta pasti tenggelam, ya sudah di-TikTok-in aja.
26 Februari 2020, 2:10am
Warga Jakarta Korban Banjir Bikin TikTok Lampiaskan Rasa Frustrasi Pada Anies Baswedan
Kolase oleh VICE. Foto warga terdampak banjir di Jabodetabek [kiri] oleh Firman Dicho/VICE; Cuplikan TikTok saat banjir via Twitter

Mark Manson enggak perlu ngajarin orang Indonesia seni bersikap bodo amat saking jagonya orang kita soal keahlian satu ini. Pas hujan kembali turun berhari-hari, orang-orang tahu banjir pasti datang, tapi berharap pemerintah bakal bisa mengatasi banjir kan kayak pungguk merindukan bulan. Toh, saban kali banjir terjadi, yang akan lebih riuh justru saling balas ejekan antara dua kubu politik yang tak pernah berdamai sejak Pilkada Gubernur 2017, dan tampaknya masih menemukan energi tubir sebagai ancang-ancang pilpres 2024.

Lihat saja trending topic Twitter. Isinya kalau ga nyalahin Anies Baswedan, menyindir Ridwan Kamil yang aman dari cercaan, atau ganti menyenggol Ganjar Pranowo. Muter gitu aja terus sampai Jakarta betulan tenggelam pada 2050 karena suporter politikus lebih menyukai debat tanpa substansi, alih-alih mendorong gacoannya serius memikirkan kebijakan merespons perubahan iklim (dan perbaikan tata kota di kawasan megapolitan Jabodetabek). Mau gimana lagi. Solusi yang ditawarkan pakar rumit, harus radikal mengubah kebiasaan hidup kita semua penduduk kota besar, dan mengikuti sains tidak membuatmu terpilih jadi presiden.

Begitu air bah kembali beneran datang pada Selasa (25/2) dini hari di berbagai titik, berselang dua hari saja setelah banjir besar Jabodetabek akhir pekan lalu, sebagian warga korban banjir memutuskan melampiaskan frustrasi dengan cara paling murah meriah: TikTok-an aja deh.

Walau belum dikabarkan separah banjir tahun baru, yang diproyeksi merugikan ekonomi sebesar Rp1,045 triliun serta menewaskan 67 orang, banjir di Jakarta sejak Minggu (23/2) lalu tetap terhitung parah.

Tercatat dua warga Jakarta Timur tewas karena tersengat listrik. Banjir sempat merambah ke titik-titik penting, seperti Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo dan merusak sejumlah alat kesehatan krusial, lalu halaman istana kepresidenan, tol Jakarta-Cikampek, hingga yang paling ironis, kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BTW, ini banjirnya udah kayak pemilk akun Twitter Bilven Sandalista aja, pakai masuk istana segala buat nyindir Jokowi yang Maret 2014 bilang banjir akan lebih mudah diatasi kalau doi jadi presiden.

Makin parahnya banjir, ketambahan sikap defensif Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang menolak menjawab apa antisipasi pemprov mengingat puncak musim hujan masih akan berlangsung sampai bulan depan, sangat masuk akal jadi bikin warga Jakarta memilih bodo amat. Kalau kata kebijaksanaan lama, seorang optimis bakal memprotes masalah, sementara seorang pesimis bakal menertawakannya.

Sikap pasrah, yang berkebalikan dengan protes atlet wakeboard nasional di banjir Samarinda tahun lalu, terekam di arsip media sejak tujuh tahun lalu. Tahun 2013, seorang bule Selandia Baru malah surfing di kawasan Glodok yang lagi kebanjiran. Pas ditanya Detik apa motifnya, dia jawab gini, “Ini banjir Jakarta, setiap 5 tahun. Mau gimana lagi, saya tetap akan di Jakarta," kata bule bernama Daniel itu.

Saat banjir 1-5 Januari kemarin juga kayak gitu. Bukannya meratap, sejumlah warga malah nyari ikan, nangkap ular, berenang, hingga bikin jokes Go-Boat untuk merespons bencana banjir. Habis kalau dipikir emang bisa bikin depresi sih. Bukan cuma kerugian materiil, waktu, dan tenaga yang tersita gegara banjir, misal mau ngitung dampak dari kantor dan sekolah yang libur serta urusan administratif karena dokumen penting hancur oleh air, semua bakal nambah stres.

Emang, becandain banjir enggak akan ngelarin masalah. Tapi bersikap humoris sambil nunggu warga muak dan memutuskan turun ke jalan besar-besaran masih jauh lebih terhormat lho. Dari apa? Ya dari golongan orang yang malah sibuk memutuskan pemimpin idola siapa yang lebih salah soal banjir ini. Terus kalau idola orang lain yang kayaknya lebih salah, rasanya semua masalah udah selesai. Ye kocak....

Iklan