The VICE Guide to Right Now

Predator Seksual Gilang 'Fetish Jarik' Ditangkap Polisi, Sempat Kabur ke Kalimantan

Dia ditangkap tanpa perlawanan dan segera diterbangkan kembali ke Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sejauh ini, 15 orang mengaku korban Gilang bungkus melapor ke posko Unair.
07 Agustus 2020, 7:37am
Predator Seksual Gilang 'Fetish Jarik' Ditangkap Polisi, Sempat Kabur ke Kalimantan
Selfie Gilang sebelum kasusnya meledak [kiri], screenshot dari akun instagram @gilangeizan; foto bungkus jarik dari unggahan akun Twitter @m_fikris.

Gilang Aprilian, terduga predator seksual yang memiliki fetish terhadap manusia dibungkus kain jarik, pada Kamis (6/8) sore, akhirnya ditangkap polisi. Pemuda yang kerap dijuluki ‘Gilang Bungkus’ oleh netizen itu sempat kabur selama lebih dari sepekan dari Surabaya ke Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kepolisian Surabaya menyatakan berhasil menangkap Gilang setelah berkoordinasi dengan Polres Kapuas. Kabid Humas Polda Jatim Komisaris Besar Polisi Trunoyudo Wisnu Andika, saat dikonfirmasi wartawan, menyatakan Gilang tertangkap di sebuah rumah yang beralamatkan Jl Cilik Riwut, Selat Dalam, Kapuas.

Berdasarkan foto yang didapat Detik.com, Gilang ditangkap tanpa perlawanan saat dijemput aparat di ruang tamu rumah tersebut. Dia ditemani seorang perempuan paruh baya berkerudung merah yang belum jelas hubungannya. Gilang sendiri adalah warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Benar sudah ditangkap. Koordinasi antara Polda Jatim, Polrestabes Surabaya dan Polda Kalteng, Polres Kapuas,” kata Kombes Truno seperti dikutip Kumparan.com pada Jumat (7/8) siang.

Oleh kepolisian, Gilang sempat dibawa ke RSUD Kapuas untuk menjalani rapid test dengan hasil non-reaktif. Karenanya, dia segera diterbangkan ke Surabaya untuk pemeriksaan lebih lanjut, mengingat dugaan pelecehan seksual yang dia lakukan berlangsung di Kota Pahlawan.

Dalam jumpa pers sebelumnya, Kombes Truno menyatakan sudah ada 15 orang mengaku korban manipulasi dan pelecehan yang dilakukan Gilang dengan modus penelitian. Para korban itu adalah yang mengadu ke posko khusus bentukan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, yang mengakui Gilang adalah mahasiswa mereka di jurusan Sastra Indonesia.

”Kami sudah melakukan kolaborasi dengan Unair,” kata Truno, “Namun [data korban] masih sumir karena belum mencantumkan identitasnya secara jelas dan pasti.”

Rektorat Unair awal pekan ini sudah memecat Gilang dari status mahasiswa, yang seharusnya kini masuk semester 10. Merujuk laporan Tempo.co, Rektor Mohammad Nasih sebelum meneken keputusan drop out sudah berkomunikasi dengan keluarga Gilang yang berdomisili di Banjarmasin.

Keluarga mengaku menerima sanksi apapun yang dijatuhkan kampus. Unair berusaha menghubungi Gilang beberapa kali untuk klarifikasi, namun tak pernah direspons selama dia kabur ke Kalimantan.

“Kasus ini kami nilai sudah sangat merugikan nama baik dan citra Unair,” kata Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo, menjelaskan keputusan DO terhadap Gilang, kepada wartawan. “Karena orang tua sudah bisa dihubungi, maka pak rektor memutuskan yang bersangkutan di-DO atau dikeluarkan.”

Kasus Gilang menjadi sorotan publik, berkat kesaksian penyintas dari akun Twitter @m_fikris. Dia menjabarkan detail tindakan Gilang yang awalnya meminta dibantu melakukan “penelitian”, namun ujung-ujungnya memaksanya memenuhi hasrat seksual. Postingan penyintas itu mendapat likes hingga lebih dari 300 ribu dan menjadi trending topic lebih dari dua hari.

Dari bukti-bukti perbincangan yang diunggah, pelaku meminta korban menutup mata dan mulutnya menggunakan lakban sebelum dibungkus. Korban yang sempat ragu dimanipulasi oleh pelaku dengan ancaman pelaku akan bunuh diri.

Relasi kuasa turut andil dalam aksi tipu-tipu ini, mengingat Gilang sejak awal menekankan dirinya lebih tua secara angkatan kuliah, sedangkan mayoritas korban adalah mahasiswa baru.

Akun Instagram @gilangeizan setelah pengakuan itu viral pada 29 Juli segera dihapus dan dia menghilang tak jelas rimbanya, sebelum akhirnya dia tertangkap polisi kemarin.

Fetish kain jarik sendiri pernah mengemuka di Indonesia pada 2017. Bedanya, pada kasus tiga tahun lalu, pelaku membalutkan kain jarik ke tubuh sendiri. Balutan inilah yang memuaskan hasrat seksual pelaku. Sedangkan pada kasus Gilang, dirinya hanya membutuhkan foto dan video orang dibalut kain saja, lebih praktis sekaligus lebih menyeramkan.