TPU Semper Jakarta Utara terancam tenggelam efek penurunan tanah ibu kota
Peziarah menaburkan bunga di atas makam yang telah terendam air di TPU Semper, Jakarta Utara. Semua foto oleh Hafitz Maulana. 
Indonesia Riot

Kisah Makam yang Tenggelam Akibat Pembangunan Ibu Kota

TPU Semper adalah bukti nyata efek penurunan tanah yang diramal menenggelamkan Jakarta di masa depan. Mereka yang mati di ibu kota pun terus dipusingkan banjir.
24 Juli 2020, 6:31am

Kematian seharusnya jadi fase yang tenang bagi setiap manusia. Tak perlu memikirkan kabar soal pandemi, perilaku korup para pejabat, maupun segala kenestapaan lainnya yang tak berhenti bermunculan. Tapi, terkadang, persoalannya jauh lebih rumit daripada itu. Di Taman Pemakaman Umum (TPU) Semper, Jakarta Utara, kematian nyatanya tak serta merta memberikan ruang yang tenang untuk penghuninya.

Kala hujan turun dengan deras, air menggenangi hampir seluruh permukaan makam, menjadi masalah klasik yang tak kunjung ada penyelesaiannya. Banjir terus hadir sebagai momok, bahkan untuk mereka yang berada dalam kubur sekalipun.

Bagi Suryo pemandangan ironis itu sudah jamak terjadi, dan oleh sebabnya dia terbiasa. Sore itu, Suryo, salah satu perawat makam di TPU Semper, tengah ngaso sejenak dari pekerjaannya. Langit masih mendung, sementara bau tanah sehabis diguyur hujan tercium siapapun. Wajah Suryo dipenuhi dengan peluh keringat yang sesekali dia bersihkan menggunakan handuk kecil yang selalu dia taruh di bahunya.

Hampir 12 tahun lamanya Suryo mengadu nasib di TPU Semper. Sebelum mengais rezeki di makam, Suryo adalah buruh bangunan di Jawa Tengah. Dia merantau ke ibu kota demi penghasilan yang lebih baik. Sesampainya di Jakarta, harapan tersebut tak cepat terwujud, sampai akhirnya dia diajak seorang teman menjadi juru rawat makam.

“Awalnya saya menolak karena ada perasaan takut [bekerja di makam]. Setelah dipikir-pikir lagi, daripada enggak dapet kerjaan, saya terima aja ajakan itu,” katanya kepada VICE.

Sehari-hari, Suryo bertugas di area tengah TPU Semper, yang luasnya hampir dua kali lapangan bola. Sebagai juru rawat, kerjanya tak jauh dari urusan membersihkan makam hingga menggali liang kubur. Jumlah makam yang dia garap antara belasan sampai puluhan.

Awal bekerja, Suryo menganggap TPU Semper tak berbeda dengan TPU pada umumnya. Penilaian Suryo salah: bekerja di TPU Semper butuh tenaga ekstra sebab beradu hadap dengan problem banjir. “Saya pertama kali lihat makam sampai kerendem air itu, ya, di sini,” ungkapnya terkekeh.

Refleksi tumpukan peti kemas di seberang TPU Semper yang terendam genangan air

Semua foto oleh Hafitz Maulana.

Mulanya Suryo kelimpungan sekaligus waswas. Pasalnya makam merupakan tempat yang sakral. Saat genangan air masuk ke dalam makam, otomatis, Suryo bilang, kesakralan makam seketika hilang.

Kendati demikian, Suryo tidak bisa bertindak apa-apa mengingat banjir di Semper—dan Jakarta Utara—terjadi saban waktu, bertepatan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Kalau sudah begitu, Suryo dan juru rawat makam lainnya akan menunggu area pemakaman kering terlebih dahulu, baru setelahnya mulai bekerja seperti biasa.

“Ada berkahnya juga. Kerjaan [mencabut rumput liar di sekitar makam] jadi mudah dikerjakan karena tanahnya habis basah,” tegasnya yakin.

Yang dialami Suryo hanya bagian kecil yang nampak di permukaan. Mengurus pemakaman umum yang sering kena banjir, tidak dapat dipungkiri, adalah pekerjaan yang cukup memusingkan kepala.

Di kawasan TPU Semper, Darsiman bukanlah sembarang orang. Statusnya sebagai kepala petugas kebersihan makam, atau oleh warga sekitar disebut mandor, membuatnya punya tugas yang krusial: memastikan (nasib) makam terjaga dengan baik.

Masa kerja Darsiman di TPU Semper sudah menyentuh dua dekade. Durasi yang panjang tersebut membikin dia berpengalaman dalam mengelola operasional di TPU Semper yang kompleks dengan segala masalahnya.

Salah satu masalah yang seringkali muncul—dan mesti dia hadapi—adalah saat genangan air banjir merusak kondisi makam seseorang. Dalam banyak kasus, rusaknya makam itu senantiasa diiringi dengan permintaan dari keluarga ahli waris bersangkutan untuk memindahkan makam ke lokasi yang lebih tinggi. Proses untuk memindahkan makam, kata Darsiman, tak boleh serampangan.

“Kita harus bener hati-hati karena kondisi [makam] akan jauh berbeda dari biasanya,” Darsiman mengingatkan.



Sebelum menginjak perkara teknis, urusan administrasi dalam memindahkan makam mesti dilengkapi dahulu. Langkahnya dimulai dari melapor ke pengurus TPU setempat. Dari TPU, keluarga ahli waris diminta untuk mengurus Izin Pemakaian Tanah Makam (IPTM) baru, yang bisa didapatkan lewat Ketua RT atau RW dan kelurahan. Surat inilah yang nantinya dipakai untuk legalitas pindah makam.

Setelah kelengkapan berkas terpenuhi, keluarga ahli waris dapat memilih lokasi makam yang diinginkan. Dalam TPU, area makam terbagi atas lima blok: AAI, AAII, AI, AII, serta AIII. Beda blok, beda pula ongkos retribusinya. Biaya untuk blok AAI, atau blok yang paling ‘elite,’ misalnya, dipatok sebesar Rp100 ribu. Sementara blok di bawahnya, berturut-turut, punya selisih Rp20.000.

Problem lain adalah memindah jenazah. Ketika makam sudah berusia lebih dari dua tahun, jenazah di dalamnya berganti rupa menjadi tulang-tulang belaka. Darsiman bilang mengumpulkan tulang-tulang tersebut tak pernah mudah.

“Kuncinya ada di kain kafan yang dipakai. Kalau kain kafan biasa, tulang-tulangnya akan berserakan sampai ke mana saja. Kerjanya jadi dua kali. Beda jika jenazah pakai kain jenis tetoron, yang bisa menjaga tulang-tulang tetap pada tempatnya,” jelas lelaki berusia 48 tahun ini kepada VICE.

Setiap mengangkati tulang jenazah, Darsiman, tidak bisa menampik, sempat merinding. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, trauma turut mengiringinya. Pelan tapi pasti, Darsiman dapat mengatasi perasaan tersebut, bermodal keyakinan bahwa apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kebaikan.

Usai makam lama dibongkar dan tulang-tulang diletakkan ke kain kafan yang baru, proses berikutnya yaitu memasukkan ke lokasi yang sudah ditentukan. Pilihan yang ada tak sekadar berwujud berdiri di atas makam sendiri, tapi juga bisa digabung dengan makam lain, selama yang bersangkutan masih punya hubungan darah alias satu keluarga.

Teknik semacam ini kerap disebut sebagai teknik tumpang. Tujuannya, Darsiman menuturkan, adalah ikatan emosional, di samping menghemat penggunaan lahan.

Keputusan untuk memindahkan makam berada di tangan keluarga ahli waris. Pihak TPU sama sekali tidak bisa mengintervensi. Apabila makam bersangkutan terendam banjir dan keluarga ahli waris tidak punya niatan memperbaikinya, maka petugas TPU juga tidak bisa mengambil langkah apa pun.

Pemandangan macam ini terlihat jelas di beberapa titik di TPU Semper, manakala terdapat puluhan sampai ratusan makam dengan nama yang terendam air seolah dibiarkan begitu saja.

Ahli waris bernama Suryati termasuk yang memilih tidak memindahkan makam kerabatnya, walau air telah menutupi permukaan di sekelilingnya. Dia menganggap proses memindahkan makam kelewat ribet, dan tak ingin membuang banyak tenaga mengingat usianya juga sudah tua.

“Biarkan aja di situ karena enggak mengubah apa-apa. Yang penting adalah doanya atau seberapa sering kita mengunjungi makam,” ucapnya tak lama usai dia berziarah.

Di lokasi ini pula air tak pernah surut, termasuk ketika cuaca sedang cerah, dan dimanfaatkan warga sekitar untuk memancing. Ada banyak warga yang memancing di TPU Semper saat saya berada di sana. Suhadi, lelaki 35 tahun asal Cilincing, merupakan salah satunya.

Dalam seminggu, Suhadi bisa tiga kali datang ke Semper guna menjaring ikan. Keputusan Suhadi untuk menyalurkan hobinya di Semper mempertimbangkan faktor kenyamanan lokasi yang, menurutnya, “tidak panas-panas amat.”

“Beda kalau mancing di sungai yang sering panas. Kalau di sini itu adem, anginnya semilir,” ucapnya yang diikuti gelak tawa.

Warga memancing ikan di genangan air TPU Semper

Semua foto oleh Hafitz Maulana.

Suhadi mengaku tidak asal memancing begitu saja. Praktiknya, dia tetap memperhatikan adab saat berada di pemakaman seperti, ambil contoh, tidak menduduki makam atau buang sampah sembarangan. Dia juga berani menegur teman memancingnya jika yang bersangkutan bertindak di luar batas—mengumpat sembarangan, misalnya.

Dia menambahkan sejauh ini tidak ada larangan maupun teguran bagi warga sekitar ihwal memancing di area pemakaman. Setiap warga diperbolehkan datang ke Semper untuk tujuan melepas penat dengan berburu ikan, alih-alih menziarahi makam.

“Mungkin karena emang kondisinya enggak bisa diapa-apain lagi, ya,” celetuk Suhadi.

Awal 2020, hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Akibatnya, banjir terjadi hampir di seluruh wilayah, melumpuhkan kegiatan ekonomi hingga mendorong orang-orang banyak mengungsi. TPU Semper tak luput dari terjangan bencana itu.

Sepenuturan Darsiman, banjir awal 2020 merupakan yang paling parah. Indikatornya, air sampai menerjang ke area pemakaman yang sebelumnya jarang tersentuh genangan. Kondisi ini bikin Darsiman kelimpungan: kerja ekstra untuk mengurangi volume air agar tidak sampai merusak makam.

Faktor hujan deras seperti menjadi penyebab utama mengapa TPU Semper terus dikepung banjir. Namun demikian, di luar hitung-hitungan cuaca, banjir di Semper turut pula disumbang oleh aktivitas pembangunan manusia di sekitar Jakarta Utara.

Darsiman bercerita bahwa daerah di sekeliling Semper, mulanya, adalah rawa-rawa. Ketika zaman bergulir, yang diiringi geliat pembangunan secara masif, wajah rawa tersebut berubah bentuk, berganti dengan deretan pabrik maupun gudang peti kemas yang memakan lahan sangat besar. Dampaknya pun tidak main-main. Pembangunan itu menghasilkan penurunan permukaan tanah (land subsidence) sehingga membuka lebar-lebar peluang terjadinya banjir di kawasan Semper.

“Ditambah lagi, pabrik-pabrik itu membuang air dari hujan ke Semper. Jadinya semua menumpuk di sini,” papar Darsiman. “Pernah kami bikin tanggul pembatas, tapi oleh pabrik disingkirkan juga. Kami kalah.”

Apa yang terjadi di TPU Semper seperti menggambarkan persoalan tata kota Jakarta secara umum. Penelitian Hasanuddin Zainal Abidin, ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memperlihatkan permukaan tanah di Jakarta, selama periode 1982 hingga 2010, memiliki variasi spasial dan temporal.

Di daerah-daerah yang terkena dampak penurunan tanah, garis besarnya, laju penurunan tanah berada di angka sekitar 1-15 cm setiap tahun serta dapat menyentuh 20-28 cm per tahun.

Penurunan muka tanah di Jakarta punya relasi yang kuat dengan proses pembangunan kota yang mendorong tumbuhnya area terbangun, populasi, kegiatan ekonomi maupun industri, hingga ekstraksi air tanah. Dampak dari land subsidence ini sudah jelas: di kawasan utara, sebagai kawasan paling terlihat penurunan tanahnya, banjir jadi teman setia warga sekitar.

Imbas dari banjir ini menyasar semua lapisan, dan TPU Semper hanyalah bagian kecil di dalamnya. Upaya menanggulangi banjir, khususnya yang terjadi di TPU Semper, bukannya tidak ada. Darsiman mengaku sempat muncul rencana pembangunan sumur pompa besar yang difungsikan untuk menyedot genangan banjir di TPU. Genangan tersebut kemudian dialirkan menuju laut utara. Namun, sampai sekarang, rencana tersebut belum terlaksana.

“Denger-denger anggaran [pembangunan sumur] dipotong karena Covid-19,” kata Darsiman. “Jadinya, mau enggak mau, sekarang kalau banjir parah, ya, [disedot] manual kayak awal tahun lalu.”

Gusti Ayu Ketut Surtiari, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mendalami geografi kependudukan dan ekologi manusia, mengungkapkan penyelesaian masalah banjir akan sangat terkait dengan sistem drainase. Jika sistem drainase sudah baik dan terintegrasi, maka genangan air atau banjir bakal lebih dapat dikendalikan.

“Sekarang masih belum sempurna karena terbukti masih ada daerah yang terkena banjir. Tapi, insfrastruktur sudah mulai banyak dikuatkan, seperti banyak waduk yang dikembalikan kapasitasnya, juga daerah aliran sungai yang sudah mulai ditata kembali. Hanya saja, [upaya-upaya itu] tetap perlu dikuatkan [lagi],” tuturnya saat dihubungi VICE.

Mitigasi banjir di TPU Semper, kiranya, mesti segera dilakukan. Pasalnya, menurut perkiraan, akan ada krisis lahan makam di Jakarta. Saat ini, total, terdapat 84 TPU yang tersebar di seluruh wilayah ibu kota, termasuk Kepulauan Seribu. Dari angka tersebut, 19 di antaranya berstatus penuh, dengan kata lain: tidak boleh dibikin makam baru.

Berdasarkan proyeksi Pemprov DKI, sampai 2022, ada kurang lebih lahan siap pakai seluas 39,76 hektare yang bisa menampung 72.288 petak makam. Sedangkan untuk proyeksi 2022 sampai 2037, pemprov mencanangkan mampu menampung 355.848 petak makam di atas lahan belum siap pakai seluas 195,76 hektare.

Hitung-hitungan di atas bisa jadi tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Berdasarkan data yang ada, setiap harinya, terdapat sekitar 100 jenazah yang dimakamkan. Untuk satu petak makam, kira-kira butuh lahan 5,5 meter persegi.

Dengan begitu, dalam satu tahun perlu sekitar 20 hektare agar pemakaman dapat beroperasi maksimal. Bila disandingkan dengan ketersediaan lahan sebesar 30-an hektare, tak sampai 2022 Jakarta sudah lebih dulu diterpa krisis makam.

Salah satu faktor yang menyebabkan potensi terjadinya krisis makam di Jakarta, selain sebab pembangunan, ialah kebanyakan warga hanya berminat menguburkan kerabatnya di TPU yang lokasinya strategis—dekat pusat kota—macam Pondok Kelapa, Menteng Pulo, hingga Utan Kayu. Padahal, deretan TPU tersebut sudah sesak. Keluarga ahli waris seringkali tak bersedia mencari TPU di pinggiran kota dengan alasan jaraknya terlalu jauh.

Sejumlah alat berat memindahkan pasir di tepi area TPU Semper

Semua foto oleh Hafitz Maulana

Korelasi antara ketersediaan lahan pemakaman yang makin menipis ini mendorong munculnya praktik-praktik culas, seperti adanya bisnis makam fiktif yang terbongkar di era kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama. Kala itu, makam-makam fiktif tersebar di banyak TPU Jakarta. Karakternya kurang lebih demikian: tanpa isi, berada di spot favorit, serta transaksinya dilakukan dengan modal ‘harga teman.’

Darsiman mengaku kebutuhan lahan di TPU Semper menjadi urgensi tersendiri sebab beberapa tempat seolah sudah tak dapat diselamatkan lagi karena terendam air secara permanen. Di waktu bersamaan, jumlah jenazah yang harus dia urus rata-rata mencapai 30 hingga 50 setiap harinya.

“Ini sudah kejadian di beberapa blok. Banyak yang terpaksa ditumpang atau berdempetan karena lahannya makin sedikit,” ungkap Darsiman.

Bila tidak ada langkah penyelesaiannya, Darsiman khawatir makam-makam bakal menumpuk di lokasi yang tersedia. Atau kemungkinan paling buruk: warga Jakarta Utara tak bisa mengakses makam di Semper, yang notabene tergolong TPU terbesar.

Urusan pemakaman di Semper begitu kompleks dan membuktikan perkara mati di Jakarta terus menyita pikiran, bahkan tak lama sesudah kubur yang masih bertabur bunga ditinggalkan peziarah.


Faisal Irfani adalah jurnalis lepas di Jakarta. Follow dia di Instagram

Semua foto oleh Hafitz Maulana, karya-karyanya juga bisa dilihat di laman ini.