Iklan
kesehatan

Diet Keto Tidak Sehebat Yang Dipromosikan Kawanmu

Ada banyak klaim berlebihan dari orang yang heboh merekomendasikan metode diet keto, padahal bukti medisnya minim.

oleh Michael Easter
31 Oktober 2017, 12:00pm

Ilustrasi oleh Hex/Stocksy

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Diet rendah lemak udah ketinggalan zaman banget. Sekarang, diet yang terkenal ampuh justru banyak mengandung lemak. Namanya diet keto—yang terdiri dari 80 sampai 90 persen lemak dan katanya bisa memperpanjang usia sampai 10 tahun, meningkatkan produktivitas, dan membersihkan tubuh dari sel-sel kanker.

Pada saat artikel ini ditulis, dua dari 10 buku nutrisi teratas Amazon fokus pada diet keto. Pencarian Google soal diet ini telah meningkat sampai dengan 20 kali lipat selama lima tahun belakangan. Kim K, Lebron, Tim McGraw, Gwyneth Paltrow udah beralih ke pola makan ini.

Tapi sebagaimana diet-diet lainnya yang melarang dan menganjurkan makanan tertentu, yang tidak cocok untuk semua orang, diet keto juga begitu. "Ini adalah salah satu diet di mana semua orang ngomongin soal penurunan berat badan, meningkatkan kesehatan, mengurangi risiko kanker, dan klaim-klaim hebat segala macam," ujar Stephan Guyenet, peneliti obesitas dan penulis The Hungry Brain. "Namun itu semua mendahului bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini."

Selain itu: diet keto itu enggak enak. Begini ceritanya: Diet keto bekerja dengan cara mengalihkan cara tubuh kita menyerap energi. Dengan hampir tidak mengonsumsi karbohidrat, memakan sedikit protein dan banyak sekali lemak, kita beralih yang tadinya menyerap energi dari glikogen—jenis gula yang terdapat di lemak dan liver, berasal dari karbohidrat—menjadi keton, molekul yang diproduksi liver atas reaksi dari alpanya glikogen. Dibutuhkan satu hingga tiga hari untuk memasuki kondisi keton ini, yang disebut ketosis. Proses ini mungkin mirip dengan mengganti mesin mobil dari bensin ke diesel. Mobil dan pengalaman menyetirnya bakal sama, tapi bahan bakarnya aja beda.

Para pembela keto memasarkan alternatif bahan bakar ini sebagai keunggulan diet keto. Kedengarannya sih cukup ilmiah ya. Logis pula. Dan hal ini membuat diet keto mudah diterima oleh banyak orang, ujar Krista Scott-Dixon, konsultan nutrisi untuk Precision Nutrition. "Diet keto terkesan nyata," ujarnya. "Tapi saya rasa ketertarikan pada diet ini muncul dari hasrat mendasar manusia untuk menemukan formula magis yang akan menghilangkan segala macam permasalahan kesehatan kita, membuat kita merasa lebih baik, mengubah dan menyehatkan tubuh kita, memberikan energi dan juga kepercayaan diri. Hal ini adalah percobaan untuk mengisi kebutuhan mendasar manusia untuk menjadi lebih baik."

Diet keto ini sudah berusia seratus tahun, namun awalnya dilakukan pada 500 SM, saat manusia pertama kali menemukan bahwa berpuasa dapat mengontrol epilepsi. Pada 1920-an, dua dokter Harvard Medical School yang mempelajari fenomena ini menemukan bahwa perbaikan dalam hal epilepsi muncul dua atau tiga hari setelah puasa dimulai—jumlah waktu yang dibutuhkan tubuh seseorang untuk membakar persediaan glikogen dan mulai beralih pada keton.

Dengan informasi tersebut, dua peneliti di Mayo Clinic pada 1921 berteori bahwa kita bisa mendapatkan manfaat yang sama dengan mengontrol kejang-kejang dalam waktu yang lama, kalau kita mengonsumsi makanan-makanan yang membuat kita berada pada dalam kondisi ketosis. Lagipula, kita enggak bisa berpuasa selamanya. Dokter-dokter memberi resep diet harian yang terdiri dari 90 persen lemak, dengan sedikit protein, dan sangat sedikit karbohidrat atau bahkan tidak sama sekali.

Pendekatan ini sepertinya berhasil—dan diet keto telah menjadi alat yang valid untuk merawat penyakit epilepsi. Sebuah penelitian tahun 1972 menerbitkan jurnal Archives of Disease in Childhood, misalnya, menemukan bahwa seperempat anak-anak epilepsi yang menjalani diet keto mengalami kejang-kejang lebih jarang, dan setengahnya bahkan menjadi terbebas sepenuhnya dari kejang-kejang. Penggunaan klinis diet ini telah tumbuh perlahan, meski banyak dokter menganggapnya perawatan terakhir bagi pasien epilepsi, menurut sebuah penelitian di jurnal Epilepsia.

Ketosis mungkin bermanfaat dalam kondisi ekstrem lainnya, menurut sebuah penelitian yang lebih baru. Hal ini mungkin mencegah keracunan oksigen bagi kalangan penyelam Navy SEAL, meringankan beban tenaga atlet yang mengandalkan ketahanan, atau meningkatkan kualitas terapi kanker. Penting sekali untuk dicatat bahwa riset ini bukan hanya bilang sangat baru tapi juga kontroversial. Sebuah penelitian baru-baru ini di Medical Oncology, misalnya, menemukan diet keto tidak berguna untuk merawat kanker, dan berpotensi memiliki efek samping yang berbahaya.

Selain itu, potensi manfaat ini memang menarik, namun rata-rata manusia tidak makan bukan karena ingin mengontrol epilepsi, menyelam ala militer, berlari 200 mil, atau memperbaiki hasil diagnosis kanker. Dan aspek terapi apapun dari diet ini tidak terlalu berasa pada orang-orang "sehat" dan "normal," ujar Trevor Kashey, seorang konsultan nutrisi berbasis di Ohio.

Keto tampaknya bukan diet yang lebih baik untuk menurunkan berat badan dibandingkan diet-diet lainnya, ujar Kashey. Dan itu berkat sains soal penurunan berat badan. "Orang-orang bersemangat soal ide bahwa diet keto membakar lemak dalam tubuh," ujar Kashey. "Iya, keton bisa dibuat dari persediaan lemak, tapi diet keto mengandung banyak sekali lemak. Untuk itu, lemak yang kita makan dikonversikan menjadi keton. Bagaimana kamu memastikan kamu membakar lemak yang lebih banyak daripada yang dikonsumsi? Ya, kamu makan lemak jangan banyak-banyak. Itu terdengar mirip seperti mengurangi asupan kalori."

Penelitian ilmiah menyiratkan bahwa hampir setiap diet penurun berat badan bekerja dengan membuat kita menurunkan asupan kalori. Ketika kamu berhenti mengonsumsi karbohidrat, kalori kita ya menurun, sehingga berat badan mudah turun. Efek yang sama muncul pada orang-orang yang secara alami mengurangi asupan lemak, ujar Guyenet. "Diet ekstrem seperti ini bukan yang terbaik untuk kesehatan jangka panjang, tapi di jangka pendek bisa memberikan banyak manfaat."

Apakah diet keto optimal untuk kesehatan benar-benar tergantung bagaimana kita mendefinisikan istilah ini. Jika "sehat" berarti tekanan darah, dan tingkat gula darah, serta kolesterol yang ideal, diet ini bisa membuatmu sehat. Apakah hal ini bisa membuatmu lebih sehat ketimbang diet-diet lainnya? Kemungkinnya, enggak, menurut Kashey.

Namun hal ini juga memiliki kerugian dalam hal kesehatan, ujar Scott-Dixon. "Terutama pada perempuan, hal ini dapat merusak produksi hormon," ujarnya. "Kamu juga kadang melihat isu imunitas dan kekurangan nutrisi, jadi mungkin kamu mau mengambil risiko sakit, dan menjadi kekurangan nutrisi, yang sebetulnya memalukan kalau kamu tinggal di Amerika." Guyenet setuju, berkata "segelintir kelompok orang yang pernah hidup dalam kondisi ketosis kronis, jadi saya skeptis hal itu ide yang bagus."

Dan terlepas kebugaran biohacker yang kamu percayai, keto tampaknya tidak memberikan performans yang signifikan pula. Sebuah penelitian atlet ketahanan menemukan diet ini menyebabkan penurunan performans, dan penelitian lain menemukan bahwa diet keto merusak performans saat lomba. Sebuah penelitian soal penggowes sepeda gunung menunjukkan harapan. Apapun manfaat yang didapatkan saat berolah raga dalam kondisi ketosis sebetulnya tak sepadan dengan kerugiannya, menurut tulisan ini.

"Kamu tau apa yang terbukti bisa memperbaiki performans latihan?" tanya Kashey. "Karbohidrat."
Masalahnya, penelitian ini tidak dilakukan di setting yang terkontrol. Diet terjadi di kehidupan nyata, dan di dunia nyata diet yang terdiri dari 80 hingga 90 persen lemak tidak mudah untuk dilakukan, dan juga tidak terlalu menggugah selera.

Coba bayangkan hari-hari biasa. Kamu bakal sarapan dnegan telur dan sayur-sayuran tumis dengan mentega; pas makan siang makan alpukat dan daging sapi dengan minyak zaitun, dan sayur-sayuran; dan makan malam pakai ikan berlemak dan brokoli. Ada banyak banget buku masakan keto, tapi jenis makanan yang diizinkan sangat sedikit, dan memakan semuanya yang dianggap lemak bisa menjadi menjijikan.

Kesuksesan yang terjadi saat berdiet tergantung apakah kita konsisten melakukannya, jadi bukan soal dietnya sendiri, menurut sebuah penelitian di Journal of the American Medical Association. Kamu mungkin bisa mengikuti rencana diet keto untuk beberapa saat, sampai kamu harus dinas dan makan bersama para klien, atau rapat bulanan dengan atasan, atau pergi nonton bioskop dan enggak bisa makan popcorn.

"Jumlah gangguan yang bisa ditimbulkan diet keto itu signifikan. Bagi saya, itulah bagian pentingnya," ujar Scott-Dixon. "Hal ini mewajibkanmu untuk mengubah perilaku, mengubah hidupmu, memasak makanan khusus, dan berhenti makan-makan sama teman-teman, dan memikirkan gimana tetap bisa diet saat ke restoran. Dan ini semua seringkali tak sepadan."

Jadi, apakah kita sebaiknya menjauhi diet keto sama sekali? Ya enggak gitu juga. "Saya enggak akan menutup pikiran saya dari diet ini," ujar Guyunet. "Anekdot sering kali menjadi titik permulaan sains. Kalau beberapa orang melaporkan manfaat-manfaat tertentu, kita bisa saja skeptis dan menginvestigasinya. Tapi saya tidak akan mempercayai seluruh klaim ini sampai saya melihat bukti yang kredibel. Dan saya bakal kaget banget kalau ternyata benar."