Iklan
The VICE Guide to Right Now

Pemerintah Cina Sengaja Hancurkan Pemakaman Muslim Uighur

Menurut juru bicara etnis Uighur, ini cara pemerintah Tiongkok "memusnahkan" budaya dan sejarah mereka.

oleh Edoardo Liotta; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
11 Oktober 2019, 6:16am

Dua gambar satelit yang diterima dari CNES 2019 pada 30 September 2019, distribusikan Airbus DS dan diproduksi Earthrise, menunjukkan gambar dari pemakaman Aksu di Xinjiang pada 2 Juli 2015 (kiri) tempat dikuburkannya penyair Uighur. Pada 25 April 2018 dan 13 Mei 2019, gambarnya menampilkan “Taman Bahagia”. Cina menghancurkan pemakaman Uighur dan hanya meninggalkan tulang-belulang dan batu nisan rusak. Aktivis menyebutnya sebagai upaya Cina menyingkirkan mereka seutuhnya dari Xinjiang. HANDOUT / AIRBUS DS / CNES 2019 / EARTHRISE / AFP

Pemerintah Cina lagi-lagi mendiskriminasi minoritas Muslim Uighur. Kali ini, mereka menyerang orang yang sudah meninggal.

Hasil riset AFP dan gambar satelit Earthrise Alliance yang dirilis pekan ini menunjukkan lahan pemakaman Uighur di Xinjiang telah dihancurkan, hanya menyisakan batu nisan dan tulang-belulang yang sudah rusak. 45 kuburan Uighur telah digali sejak 2014, dan 30 lainnya terjadi dalam dua tahun terakhir.

Penjelasan resmi menyebutkan kuburannya diratakan untuk pengembangan kota, dan merupakan bagian dari “standardisasi” kuburan tua. Gambar satelit menunjukkan beberapa kuburannya berubah jadi lapangan parkir dan taman bermain.

Pemakaman Uighur di Aksu kini menjadi “taman bahagia” yang tersedia danau buatan, wahana permainan, dan panda palsu. Penyair Uighur Lutpulla Mutellip juga dimakamkan di sana. Pemakamannya dipindahkan ke kawasan industri di tengah gurun pasir.

Di Shayar, tempat wartawan menemukan tulang-belulang tersebar di tiga lokasi, pemerintah setempat membangun kuburan baru di situs lama. Kadier Kasimu, wakil direktur biro urusan budaya Shayar, memberi tahu AFP “kuburan baru sudah terstandardisasi, bersih, dan layak untuk warga.”

Namun bagi suku Uighur, ini hanyalah cara Cina mendiskriminasi mereka.

Kuburan buyut Salih Hudayar juga kena penggusuran. Salih berujar perataan makam adalah “upaya Cina menyingkirkan bukti keberadaan kami seutuhnya.”

Dalam dua tahun terakhir, sekitar 1 juta orang Uighur telah dimasukkan secara paksa ke "kamp pendidikan khusus" di Xinjiang. Investigasi rahasia VICE pada Juni menemukan pemerintah Cina menggunakan alat pengawasan untuk mengintai kelompok minoritas Uighur. Polisi juga menangkapi lelaki Uighur di tengah malam, dan memisahkan anak-anak dari keluarganya.

Pada Selasa, pemerintah AS mengumumkan akan membatasi visa pejabat Cina terkait dengan penahanan dan penyiksaan minoritas Muslim Uighur.

Dalam pernyataan, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Cina “harus segera mengakhiri penindasannya di Xinjiang, membebaskan tahanan, dan menghentikan pemulangan paksa warga etnis Uighur yang tinggal di luar negeri.”

Keputusan ini dikeluarkan setelah AS memasukkan 28 organisasi yang terkait dengan penindasan Xinjiang ke daftar hitam.

Akan tetapi, Geng Shuan selaku juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina membantah adanya perlakuan buruk. Dia mengklaim pada Senin bahwa “Kami tak pernah melakukan ‘pelanggaran hak asasi manusia’ seperti yang dituduh Amerika Serikat.”

Follow Edoardo di Twitter dan Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

Tagged:
News
muslim
cina
Berita
xinjiang
Uighur
Diskriminasi
Minoritas Muslim
Tiongkok
Serangan Minoritas
Muslim Uighur