Tren Ponsel Jadul

Memahami Tren Kembali Pakai Ponsel Jadul di Kalangan Anak Muda

Kenapa orang-orang semakin memilih balik ke ponsel lama dan sederhana?
AN
Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
14 September 2019, 11:43am
ponsel jadul Nokia
Foto ilustrasi Nokia jadul dari Gianni Muratore via Alamy Stock Photo

Awal tahun ini, Supreme mengeluarkan lookbook terbarunya untuk 2019. Barangnya lagi-lagi banyak yang aneh, kayak boneka santet, gelas ukur, dan gelas sampanye. Tapi, dari semua benda gaje itu, yang paling menarik perhatian adalah ponsel jadul Supreme. Menurut deskripsinya, “Ponsel 3G dengan kamera built-in dan bisa dimasukkan dua kartu sim.” Uniknya, HP ini dipasarkan ke generasi muda yang enggak bisa lepas dari smartphone.

Ponsel Supreme mungkin dijadikan bahan bercandaan doang, padahal ponsel jadul banyak dirilis belakangan ini. Ketika Nokia menciptakan kembali ponsel klasik 3310 pada 2017, juru bicara Carphone Warehouse mengklaim jumlah pre-ordernya 10 kali lebih tinggi daripada model lainnya. Setahun kemudian, Sky News melaporkan penjualan global ponsel jadul naik lima persen, sementara penjualan smartphone cuma naik dua persen. Kelihatannya mungkin kecil, tetapi penjualan ponsel jadul mengalami peningkatan pertama sejak bertahun-tahun lamanya. Pasti ada maksud tersembunyi di sini.

Alice sudah tiga bulan berhenti pakai iPhone. Musisi 27 tahun ini sekarang menggunakan Nokia 8110 (“HP pisang”) yang cuma ada fitur kamera dan WhatsApp. Alasan utamanya yaitu karena dia ogah privasi data dan kebiasaannya diatur pihak ketiga. “HP itu bagaikan buku harian yang diunggah ke cloud dan dijual ke pengiklan,” katanya saat dihubungi lewat telepon. “Mereka entitas kapitalis yang cuma peduli akan bisnis, dan bukan minat terbaik kita. Jangan harap mereka bisa berubah jadi orang baik, karena itu yang bisa kita lakukan cuma mengubah cara kita menggunakan teknologi.”

Perempuan asal London itu bilang merasa lebih bebas dan hidup setelah pakai HP jadul Nokia. Hidupnya jauh lebih tenang karena kehidupan pribadi Alice tak lagi dimanfaatkan perusahaan iklan. “Rasanya lebih aman karena gadget ini enggak mengumpulkan dataku,” ujarnya. “Aku buka medsos di tablet yang kutaruh di rumah. HP ini khusus buat hal-hal pribadiku. Aku enggak perlu khawatir ada oknum tak terlihat yang membaca isi SMS-ku. Perasaan diawasinya beda. Mungkin ini puncak dari perasaanku, dan aku membatin, ‘Kenapa aku enggak melakukan sesuatu?’”

Remi, 25, punya alasan yang lebih sederhana tapi terbukti menguntungkan. “Aku beli Nokia 3310 warna baby blue karena suka bentuknya dan senada dengan jaketku. Aku tertarik bawa HP-nya ke konser atau pas liburan,” kata mahasiswi yang tinggal di Manchester. “Tapi aku malah terus menggunakannya setelah pulang dari Glastonbury tahun ini. Saat bepergian, aku baru sadar keseringan buka Instagram dan aplikasi-aplikasi lain. Puasa smartphone ternyata enak juga, makanya aku kepikiran untuk lanjut pakai. Daripada main HP terus, mending juga melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

Apakah Remi bakalan pegang smartphone lagi? “Mungkin, tapi sekarang aku lebih nyaman pakai Nokia,” tuturnya. “Saat punya iPhone—yang sudah aku kasih ke teman yang HP-nya rusak—aku selalu merasa bersalah setiap lupa balas chat atau berulang kali ngecek notifikasi. Otakku kayak penuh. Aku enggak bisa konsentrasi dan menyelesaikan pekerjaanku. Kalau pakai iPhone lagi, kebiasaan lamaku bakalan kumat. Percuma ada fitur membatasi penggunaan kalau sudah punya ini.”

Dalam lima tahun terakhir, semakin banyak orang yang menyadari betapa pentingnya menjaga privasi data dan “kesehatan digital”. Pada 2017, skandal Cambridge Analytica mewujudkan apa yang selama ini kita takutkan. Data “like” kita di Facebook terbukti bisa membantu Trump menang dalam pemilu AS, dengan dibubuhi Brexit. Kita tahu bahwa hingga akhir Agustus, kontraktor Apple bisa mendengarkan rekaman Siri kita (dan juga karyawan Apple), pegawai Microsoft bisa mendengarkan percakapan Skype, Snapchat menyalahgunakan akses data untuk memata-matai pengguna, dan PornHub memantau fantasi seksual pengguna. Kita sadar kalau kekhawatiran diawasi pihak luar sebenarnya beralasan. Sebagaimana dilaporkan Motherboard tahun lalu, aplikasi tertentu dapat mengakses mikrofon kita.

Sejak dirilisnya dokumenter Netflix The Great Hack, orang-orang mulai mengurangi penggunaan ponsel. “Di lingkaran sosialku, ada pembicaraan yang mengarah ke ‘kesehatan digital’ dan cara meninggalkan pengaturan yang tak kita inginkan,” kata Alice. “Situasinya sangat aneh. Setiap orang mulai meninjau kembali data apa saja yang telah mereka berikan tanpa sadar. Data ditambang kayak minyak, tapi jumlahnya tak terbatas. Makanya kita harus mengubah jumlah yang ingin kita kasih ke dunia siber, karena itu pasti akan terus tumbuh. Kita harus gerak mundur supaya bisa maju.”

Liam, 19, adalah mahasiswa London yang setuju dengan sentimen ini. Dia sudah tiga tahun punya ponsel jadul dan smartphone, tapi baru beberapa bulan ini lebih intens pakai ponsel jadulnya karena alasan privasi. “Fakta bahwa hasil Googling kita dari gadget lain bisa memunculkan iklan [ke Instagram] di ponsel sangat menakutkan,” dia memberitahuku. “Aku memang enggak melakukan kejahatan, tapi aku mementingkan persetujuan. Seram rasanya diawasi bagaikan roda penggerak kapitalisme, dan kita enggak bisa melakukan apa-apa.”

Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan iPhone, tapi penggunaan aplikasi kita bisa memengaruhi kesehatan mental. Kita juga sudah sering membahas ini selama bertahun-tahun. Mulai dari Instagram yang bikin kita enggak percaya diri dan gampang cemas sampai keseringan ngecek medsos yang mengurangi waktu kita senang-senang, kita memiliki hubungan erat dengan platform yang mengklaim bisa membuat kita semakin terhubung. Tapi mungkin beberapa dari kita sudah mencapai titik jenuhnya, dan baru menyadari sebenarnya ada pilihan lain. “Aku kira aku enggak bisa hidup tanpa iPhone,” ujar Remi. “Tapi ternyata aku salah. Aku masih hidup sekarang, dan enggak perlu lagi merasa harus ngecek HP sebentar-sebentar.”

Kita enggak bisa memastikan apakah ponsel jadul akan benar-benar bangkit, terlebih lagi sekarang sedang zamannya main TikTok dan belanja online. Walaupun ada yang sudah balik ke ponsel jadul, masih banyak yang tak sabar menunggu diluncurkannya Google Pixel baru. Karena smartphone memang terbukti bagus. Kalau enggak bagus, untuk apa kita menggunakannya, kan? Dengan smartphone, hasil foto kita jernih, bisa ngirim meme, dan beli makan lewat ojol.

Tapi seperti yang Alice bilang, kita bisa lebih bijak saat menggunakan smartphone. Kita bisa mengunduh aplikasi yang membatasi penggunaannya, atau memasang add-ons yang menghilangkan metrik. “Kita perlu mengubah cara berinteraksi, bukan berhenti sama sekali,” terangnya. “Kita bisa menemukan jalan tengah, tanpa membiarkan data kita ditambang secara konstan.”


Follow penulis artikel ini di akun @daisythejones

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.