Iklan
Ricuh Pemilu 2019

Pengakuan Korban Luka Tembak di Petamburan Saat Bentrok Pecah 22 Mei

"Saya sengaja ke Jakarta ikut aksi...karena melihat kecurangan di KPU," kata lelaki 39 tahun asal Jambi itu.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
22 Mei 2019, 11:38am

Peserta aksi saat terlibat bentrokan di Petamburan. Foto oleh Willy Kurniawan/Reuters

Lorong masuk dan bangsal Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, di Gambir, Jakarta Pusat, jauh lebih lengang dibanding pagi tadi. Ratusan orang, yang cedera akibat bentrokan dengan polisi dalam aksi menolak hasil pemilihan umum 2019, sudah pulang atau dijemput keluarga. Tersisa 13 orang yang harus menjalani rawat inap. RSUD Tarakan menampung korban bentrokan 22 Mei terbanyak, mencapai 140 pasien. Dua korban tewas, dari total enam seperti disebut Gubernur DKI, juga dirujuk ke rumah sakit tersebut.

Salah satu yang masih memilih bertahan di RS Tarakan adalah Husein. Dadanya luka akibat terjangan peluru karet. Dia menunggui saudara kandungnya yang juga terkena luka tembak. Noda darah terciprat di baju gamis putih yang Husein kenakan.

Lelaki 39 tahun ini sebetulnya bermukim di Jambi. Namun dia ikut dalam aksi damai di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), pada Selasa (21/5) malam, sebagai simpatisan Front Pembela Islam. Bersama abangnya, dia naik bus berombongan dari Jambi ke Jakarta pada 21 Mei pagi dan tiba malam hari.

"Memang sengaja ke Jakarta ikut aksi, karena melihat kecurangan [pemilu 2019] di KPU. Itu yang mau kami tuntut dan aksikan," ujarnya kepada VICE.

Rombongan Husein beralih dari Komisi Pemilihan Umum, menuju depan Gedung Bawaslu bukan tanpa alasan. "Terbanyak kecurangan di situ."

Setiba di lokasi, Husein segera ikut rombongan lain doa bersama dengan massa pendukung Prabowo ataupun sesama simpatisan FPI. Doa digelar mulai pukul 20.00 WIB, tuntas satu setengah jam sesudahnya. "Lalu kami pulang ke Masjid Al Barokah di Petamburan," ungkap Husein.

Insiden pecah lewat tengah malam. Massa yang bermalam di masjid mendengar suara tembakan di luar. Husein menuding pelakunya adalah aparat yang mencoba merangsek masuk masjid. Kesaksian ini dibantah oleh kepolisian, dengan dalih tak ada aparat yang bertugas tadi malam menggunakan peluru tajam atau masuk ke masjid.

Husein ingat, bersama teman-temannya mereka segera mencoba membalas kelompok berseragam yang menyerbu. Saat dia keluar, jalanan Petamburan sudah penuh gas air mata.

"Kami panik, kami dikepung mau enggak mau melakukan perlawanan, lempar batu, lempar kayu," ujarnya. Di momen ricuh itulah, Husein kena tembak peluru karet. "Saya lagi bantu kawan yang kena gas air mata, saya lagi angkat dia dari jalan lalu kena [tembak]. Kejadiannya sekitar jam 3.30 pagi."

1558589188246-DSC08182
Husein di luar bangsal RS Tarakan. Foto oleh Firman Dicho Rivan/VICE

Seingat Husein, lebih dari 50 rekan sesama simpatisan FPI luka-luka akibat kerusuhan pada 22 Mei dini hari. Korban cedera atau luka tersebar di berbagai RS, mencakup RSAL Mintohardjo, RS Pelni, serta Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo.

Setelah semua kekacauan ini, Husein mengaku tetap akan terlibat aksi menolak hasil pilpres. Menurutnya, dua lembaga yang harusnya jadi wasit sudah memihak pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dia pun tidak mendukung bila paslon unggulannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno, mengajukan gugatan resmi ke Mahkamah Konstitusi.

"Kami enggak percaya MK, karena semua [lembaga] di rezim ini sudah dikuasai semua. Mereka sekongkol semua. Satu-satunya lewat aksi di jalanan," kata Husein. " Biar dunia mengetahui. Kalau aksi gini, internasional juga tahu soal yang terjadi di indonesia."

Akibat bentrok sejak 22 Mei dini hari, yang kemudian menyebar ke Tanah Abang, Petamburan, serta Slipi, setidaknya dua orang tewas dan 200 lainnya luka-luka. Jumlah korban masih simpang siur. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengklaim enam orang bagian massa aksi yang diusir polisi dari dekat Bawaslu tewas tertembak.

Prabowo, patron sebagian elemen yang terlibat bentrok semalam, meminta pendukungnya menghindari kekerasan. "Kami mendukung semua penggunaan hak konstitusional yang berakhlak, yang damai dan tanpa kekerasan," ujarnya dalam jumpa pers di Rumah Kertanegara. "Bila [kekerasan] sampai terjadi lagi, maka kami sangat khawatir rajutan dan anyaman kebangsaan kita bisa rusak dan sangat sulit untuk kita rangkai kembali."

Kubu Prabowo sejak hitung cepat diumumkan, sudah membangun narasi adanya kecurangan sistematis, melibatkan lembaga suveri, KPU, Bawaslu, serta aparat keamanan. Kampanye kecurangan itu juga konsisten disuarakan pendukung paslon 02 lewat media sosial selama sebulan terakhir. Kubu Prabowo resmi menggugat hasil pilpres ke MK, sekaligus menolak tanda tangan dalam rekapitulasi perhitungan suara final yang diumumkan 21 Mei lalu.

Presiden Joko Widodo, yang dinyatakan KPU menang sehingga dapat menjabat untuk periode kedua, menegaskan ogah bersikap lunak pada kelompok yang sengaja mengacau atau memprovokasi aksi damai pendukung oposisi. "Kita tidak membuka ruang bagi perusuh. Kita tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak negara kita, merusak NKRI," kata presiden di hadapan awak media.

Brigen Dedi Prasetyo selaku juru bicara Mabes Polri menyatakan provokator tersebar di beberapa titik. Sejauh ini polisi telah mencokok 69 orang yang menghasut massa agar bersikap agresif. "Polri sudah mengidentifikasi pelaku provokator dari luar Jakarta," ujarnya saat dikonfirmasi VICE.