Iklan
Satwa Langka

Burung Istimewa Muncul Lagi di Bumi Setelah Sempat Punah Ratusan Ribu Tahun Lalu

"Kami tidak bisa menemukan contoh spesies burung pada umumnya, yang mengalami fenomena evolusi serupa," kata peneliti burung di Samudra Hindia itu.

oleh Becky Ferreira
14 Mei 2019, 7:28am

Burung mandar leher putih 'hidup' lagi di alam bebas setelah sempat dinyatakan punah. Foto oleh Charles J Sharp 

Burung mandar berleher putih pernah hidup di Atol Aldabra, Samudra Hindia, sebelum akhirnya punah 136.000 tahun lalu. Menariknya, spesies burung yang tidak dapat terbang tersebut mulai muncul kembali untuk kedua kalinya.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Zoological Journal of the Linnean Society, fenomena langka ini disebut sebagai “iterative evolution” atau evolusi berulang. Fenomenanya terjadi ketika ada garis keturunan yang sama menghasilkan spesies paralel pada periode waktu berbeda. Itu berarti spesies yang cukup identik berpotensi hidup beberapa kali dalam era dan lokasi yang berbeda, bahkan jika spesies di masa lalunya telah punah.

Fosil burung kecil tersebut ditemukan sebelum dan sesudah banjir besar yang melanda Albadra sekitar 136.000 tahun lalu, demikian dikutip dari kesimpulan peneliti Julian Hume, ahli paleontologi burung di Museum Sejarah Alam London, dan David Martill, ahli paleobiologi di University of Portsmouth.

Bencana banjir, disebabkan naiknya permukaan air laut, menenggelamkan nenek moyang burung yang berasal dari Kepulauan Seychelles dan Madagaskar ini. Ajaibnya, spesies induk yang sama tampaknya mulai menempati atol yang sama, setelah muncul kembali ke permukaan ribuan tahun kemudian.

Fosil-fosil itu menandakan rail berevolusi menjadi burung yang tidak dapat terbang lagi. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya spesies predator di Aldabra yang bisa menurunkan kemampuan terbangnya. Sekitar 100.000 tahun lalu, proses evolusi telah menghasilkan burung yang sama yang punah puluhan ribu tahun sebelumnya.

Evolusi berulang juga pernah terjadi pada hewan lain, seperti sapi laut, ammonite (amon), dan penyu. Akan tetapi, para peneliti menyimpulkan evolusi dua spesies rail ini, yang bangkit setelah banjir, belum pernah terjadi sebelumnya di dunia unggas.

“Kami tidak bisa menemukan contoh lain dari burung rail, atau spesies burung pada umumnya, yang mengalami fenomena itu,” kata Martill dalam keterangan tertulis.

"Bukti fosil yang menunjukkan efek perubahan permukaan laut terhadap peristiwa kepunahan dan kemunculan kembali hanya ditemukan di Aldabra, yang memiliki catatan paleontologis tertua dari kepulauan manapun di wilayah Samudra Hindia."

Permukaan laut sekarang naik lagi akibat perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia selama satu abad terakhir. Oleh karena itu, burung rail Aldabra baru ini akan bernasib sama seperti kawan-kawannya yang telah punah. Mudah-mudahan saja kelak evolusi berulang bisa mereka alami untuk ketiga kalinya di atol yang sangat jauh.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:
rail
Madagaskar
Seychelles
penelitian
Sains
Evolusi
Paleontologi
Burung
Zoologi
Mahluk Hidup
Albadra
Burung Purba