Iklan
Covering Climate Now

Nepal Hendak Membersihkan Jasad Pendaki dan Sampah 10 Ribu Kilogram di Puncak Everest

Upaya pembersihan massal ini dilakukan agar Gunung Everest tak lagi dijuluki "tempat sampah tertinggi sedunia."

oleh Mustika Hapsoro
30 April 2019, 6:26am

Ini contoh sampah yang berhasil dikumpulkan di base camp Everest di Nepal, 3 Mei 2011. Foto oleh Laurence Tan/Reuters

Tiada tempat di bumi ini yang bebas sampah manusia. Dengan tinggi 8.848 meter, Gunung Everest, yang dikenal sebagai puncak tertinggi planet ini, bahkan telah mempunyai status baru sebagai tempat sampah paling tinggi di dunia.

Setiap tahun, ratusan orang mendaki Gunung Everest. Akibat ramainya perjalanan naik dan turun Everest selama lebih dari seabad, kini berton-ton sampah menumpuk di kawasan base camp dan rute ke puncak. Sampah itu mencakup kaleng oksigen kosong, makanan, dan kantong berisi kotoran manusia. Bagi pemerintah Nepal, banyaknya sampah itu sudah keterlaluan.

Makanya pemerintah Solukhumbu, kabupaten di kawasan timur Nepal, akan melakukan "salah satu proyek pembersihan gunung Everest paling ambisius." Kampanye Pembersihan Everest bertujuan mengumpulkan dan memindahkan 10 ton sampah dari kawasan puncak gunung tersebut.

Menurut Danduraj Ghimire, direktur jenderal Departemen Turisme, sekitar 5.000 kilogram limbah akan coba dipindahkan dari base kamp Everest, rute awal pendakian. Begitu pula 2.000 kilogram sampah dari Col Selatan, dan 3.000 kilogram dari kamp I dan kamp II.

"Target kami adalah mengangkat sampah sebanyak mungkin dari Everest agar keindahan gunung ini pulih. Everest bukan hanya mahkota dunia, tapi juga kebanggaan nasional kami,” ujar Ghimire kepada The Kathmandu Post.


Tonton dokumenter VICE soal upaya Joby Ogwyn jadi manusia pertama terjun payung di Everest:


Februari 2019, pemerintah Tiongkok menutup total akses menuju Everest yang terletak di Tibet, kecuali hanya untuk mereka yang memiliki surat izin mendaki gunung. Keputusan ini diambil demi mengurangi jumlah sampah luar biasa yang menumpuk di situs Base Camp.

Meskipun rute Tiongkok ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut, akses dari sisi Nepal masih terbuka bagi pendaki biasa. Masalahnya, rute pada sisi Nepal lebih berbahaya dan menewaskan lebih banyak orang.

Juni tahun lalu, Tiongkok juga meluncurkan program pembersihan melibatkan 30 orang, yang berhasil mengumpulkan 8,5 ton sampah. Kini pemerintah Tiongkok bertindak keras untuk mengatasi isu sampah yang menumpuk. Jalur menuju ke Base Camp Tiongkok kabarnya sudah mudah diakses, bahkan pengunjung bisa membawa mobil melalui jalan aspal.

Akses lebih mudah dari Tibet kemungkinan menimbulkan semakin banyak sampah menumpuk sehingga sulit ditangani. Untuk mencegah ini, hanya 300 surat izin pendakian dikeluarkan setiap tahun.

Selain mengangkat sampah dari gunung, Kampanye Pembersihan Everest juga akan fokus pada pencarian jasad pendaki yang meninggal dan terjebak di bawah salju selama bertahun-tahun. Selama satu millenium terakhir, salju dan es yang menutupi puncak Everest mulai mencair karena perubahan iklim, perlahan menampakkan jasad-jasad pendaki yang tewas di masa lalu.

Menurut laporan terbaru Pusat Internasional Pengamatan Gunung Terintegrasi (ICIMOD), andai pemanasan global terus berlanjut, dua pertiga gletser Himalaya kemungkinan akan meleleh pada 2100.

Sekitar 190 orang telah tewas selagi mendaki Gunung Everest, menurut Himayalan Database, yang mencatat semua ekspedisi sejak 1905. Sepertiga dari orang yang meninggal merupakan pendaki Sherpa. Kaum Sherpa adalah suku asli kawasan pegunungan Nepal, yang seringkali bekerja sebagai pemandu membawa bekal dan merencanakan rute pendakian untuk para pendaki asing.

Kampanye Pembersihan Everest akan digelar selama 45 hari, dari 14 April sampai 29 Mei mendatang.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.

Tagged:
News
Berita
Pemanasan Global
Perubahan Iklim
Lingkungan
Sampah
Gunung Everest
Pegunungan Himalaya
Puncak Tertinggi Dunia
Masalah Sampah
Jasad Pendaki