Iklan
VICE Votes

Prediksi Hitung Cepat Pastikan Bangsa Indonesia Mengulang Skenario Pemilu 2014

Berbagai lembaga survei umumkan Jokowi unggul 9 persen dibanding rivalnya dalam pemilu 2019. Prabowo kembali mengklaim menang (dan sujud syukur) berdasar exit poll, sementara Jokowi mengimbau rakyat menjaga persatuan.

oleh VICE Staff
17 April 2019, 11:56am

Pemilih memberikan suaranya di Bogor pada 17 April 2019. Foto oleh Willy Kurniawan/Reuters

Suasana tegang perlahan menjalar mulai pukul 15.35 WIB di Rumah Kertanegara, Jakarta Selatan, markas tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno. Ratusan mata menatap layar yang menampilkan hitung cepat berbagai lembaga sejak setengah jam sebelumnya. Elit Partai Gerindra, PKS, PAN, serta Demokrat yang mendukung Prabowo, berkumpul di dalam ruangan tersendiri.

"Bohong itu, bohong. Masa tujuh survei hasilnya mirip," terdengar teriakan dari beberapa ibu paruh baya yang berdiri di samping layar televisi raksasa Rumah Kertanegara.

"Ini lembaga survei bayaran ya," terdengar celetukan di bibir panggung. Sebagian pendukung pasangan calon nomor urut 02 melengos melihat grafik tak berubah.

"Kalau selisihnya segini berat," kata suporter di depan layar yang menampilkan data quick count, lalu keluar dari halaman rumah. Dia menolak diwawancara VICE.

Tak semua pesimis. Sebagian pendukung justru sangat percaya diri. "Ini belum final. Kami punya hitungan sendiri. Di Sulawesi dan Bali, Prabowo menang," kata Iwan Yusuf, pendukung yang sudah datang ke Rumah Kertanegara sebelum zuhur.

Kontras suasana terasa di Djakarta Theater, lokasi jumpa pers kubu petahana, serta Rumah Cemara, markas pemenangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Jakarta Pusat. Teriakan "habisin...habisiiin" disuarakan puluhan pendukung. Seorang lelaki yang mengenakan bandana berteriak keras "Pulangin ke Arab!", disambut tawa dan tepuk tangan rekannya. Dia keburu pergi, sebelum VICE bisa bertanya siapa sosok yang dia rasa perlu kembali ke Jazirah Arab.

Beberapa menit menjelang pukul 17.00 WIB, Prabowo tanpa ditemani Sandiaga Uno, muncul ke podium di depan Rumah Kertanegara, menemui ratusan pendukung yang menyemut. "Hasil exit poll di lima ribu TPS menunjukkan kita menang, 55,4 persen. Hasil Quick Count kita juga menang 52,2 persen," ujar mantan Danjen Kopassus itu. Data tersebut, menurutnya datang dari survei tim pemenangan. Selain itu, Prabowo juga menuding ada berbagai kecurangan.

1555501904592-prabowo-konpers
Prabowo saat mengklaim kemenangan di Rumah Kertanegara. Foto oleh Willy Kurniawan/Reuters

"Ada upaya dari lembaga-lembaga survei tertentu yang kita ketahui memang sudah bekerja untuk satu pihak, untuk menggiring opini seolah-olah kita kalah. Saudara-saudara sekalian jangan terpancing, terus awasi TPS, amankan C1, dan jaga di kecamatan."

Selepas pukul 20.00 WIB, Prabowo kembali mengumumkan klaim kemenangan di Rumah Kertanegara. Dia mengaku timnya sudah menghitung dan memastikan paslon 02 meraup 62 persen suara dari data 320 ribu TPS. "Saya yakin ini hasil dari ahli statistik dan [angka 62 persen] tidak akan berubah banyak," kata Prabowo.

Setelah berpidato, Prabowo melakukan sujud syukur ke arah kiblat ditemani beberapa ulama dan petinggi PKS serta Gerindra, mengulang momen 2014. Sandiaga kembali tak terlihat sepanjang dua kali jumpa pers.

Proses hingga hasil pemilihan umum 2019, alhasil, sepenuhnya mengulang skenario lima tahun lalu. Tercipta perpecahan di masyarakat. Isu agama bermain. Joko Widodo diprediksi menang tapi tidak meyakinkan oleh berbagai lembaga survei, sementara Prabowo Subianto mengklaim unggul sembari menuding banyak terjadi kecurangan. Runtutannya sama persis.

Kemungkinan besar, saga gugatan ke Mahkamah Konstitusi seperti terjadi pada 2014 akan terulang juga. Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengingatkan bahwa gugatan terhadap KPU adalah keniscayaan—dengan atau tanpa protes kubu Prabowo andai hasil rekapitulasi final berbeda dari data mereka. "Pasti akan banyak perkara MK," kata Mahfud.

1555501956609-jokowi-konpers
Jokowi menyambut pendukung di Djakarta Theater. Foto oleh Edgar Su/Reuters

Berbagai lembaga survei kredibel, mulai dari Litbang Kompas, Saiful Mujani Research and Consulting, atau Indobarometer, menyajikan angka hitung cepat senada setelah lebih dari 80 persen sampel masuk: Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dengan selisih 9 hingga 10 persen. Hasil exit poll, metode yang sedikit berbeda dari quick count dengan teknik wawancara, menggambarkan hasil tak jauh berbeda.

Jokowi turut menemui pendukung dan wartawan di Djakarta Theater, setelah berbagai hasil hitung cepat muncul. Dia berusaha tak membuat klaim apapun. "Dari indikasi exit poll dan juga quick count tadi sudah kita lihat semuanya. Tapi kita harus bersabar menunggu penghitungan dari KPU secara resmi," ujar petahana.

Capres yang diusung koalisi besar dipimpin PDIP itu mengajak warga menghentikan perpecahan akibat perbedaan sikap politik. "Marilah kita kembali bersatu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, setelah pileg dan pilpres ini."

1555501101294-Penghitungan-Suara-For-Vice-1-of-5
Proses penghitungan suara di salah satu TPS di Kota Makassar.

Pada 17 April 2019, sebanyak 192 juta pemilih memberikan hak suaranya di lebih dari 800 ribu TPS. Tak sekadar memilih presiden dan wakilnya, warga yang berpartisipasi juga perlu menyoblos caleg ataupun partai. Data untuk pemilihan legislatif lebih lambat masuk ke lembaga survei. Berbagai lembaga pemantau menyebut pemilu Indonesia sebagai salah satu mekanisme demokrasi paling rumit di dunia.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) unggul hingga artikel ini dilansir, dengan perkiraan meraup 22,92 persen suara. Gerindra, yang disokong karisma Prabowo, ada di posisi kedua dengan 12,4 persen. Partai Golkar diperkirakan melampaui ekspektasi pengamat, sekalipun digoyang kasus korupsi dan penangkapan petingginya oleh KPK, menyusul di urutan ketiga dengan perkiraan suara 12,07 persen. PKB disusul PKS melengkapi konfigurasi lima besar sementara suara partai untuk pemilu 2019.

Ketidakpercayaan pada hasil hitung cepat seperti yang disuarakan Prabowo, dirasakan para pendukung dari luar pulau. Ansyarullah, warga Geuceu Kayee Jato di Banda Aceh, cukup kecewa melihat hasil hitung cepat. Dia sudah berharap sekali Prabowo menang. "Apapun hasil dari media-media ataupun televisi itu belum pasti benar, kan," ujarnya.


Tonton obrolan VICE bersama anak muda berbagai kota tentang aspirasi mereka yang tak banyak dibahas dalam pemilu 2019:


Maulana Rifaldy, pendukung Prabowo lainnya dari Makassar, lebih rileks mendengar pengumuman hitung cepat. Adanya klaim menang dari salah satu kubu, menurutnya, hanya bumbu pesta demokrasi. "Saling klaim itu hal biasa, karena mereka kan tim pemenangan. Mana ada sih tim pemenangan yang tidak mengakui timnya menang," ujarnya. "Kalau saya ikuti hasil pasti dari KPU. Pokoknya saya sudah memilih, terserah apapun hasilnya."

Rudi Ramadhani, pendukung Jokowi-Ma'ruf dari Banda Aceh, kecewa melihat terulangnya skenario pemilu 2014. Dia sudah lelah dengan perpecahan masyarakat akibat politik praktis. "Hal-hal provokatif harusnya dihentikan. Ada semacam keinginan untuk pemilu ini chaos. Arahnya lebih ke arah sana. Ini ketakutan saya akan membelah bangsa Indonesia," ujarnya.

Adapun Alysha Paxia Susilo, pemilih di Condet, Jakarta Timur, lega melihat survei memberi indikasi Jokowi bakal memimpin Indonesia lagi untuk periode kedua. Alysha berbeda pilihan dengan kedua orang tuanya yang amat mendukung Prabowo. Tapi, mendengar pidato dari kubu 02, dia yakin terjadi lagi penolakan atas hasil resmi KPU kelak, dari lawan politik Jokowi.

"Bisa jadi nanti ada tuntut menuntut. Apalagi Jokowi kena kasus di Malaysia ballots itu. Ini bakal berlanjut sih sepertinya," kata Alysha. Dia sendiri bersama orang tuanya tidak ingin membawa suasana politik ke urusan keluarga. "Gue sudah bisa menebak [hasil hitung cepat] dan sangat optimistis dari awal. Gue cuma mantau sosmed, karena gue lagi jalan sama orang tua gue biar santai-santai abis pemilu."

Lantas apa respons orang tuanya dengan data hitung cepat? "Bokap gue belum bereaksi apa-apa sih. Dia bilang 'lihat aja nanti quick count belum bisa dipercaya'."

Di tengah ketidakpastian sembari menanti pengumuman KPU hingga Mei mendatang, bangsa ini dipaksa mengingat pernyataan filsuf asal Spanyol, George Santayana. Dalam bukunya, dia pernah menulis pernyataan yang kini kesohor: "Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan dihukum mengulangi kesalahan yang sama."


*Arzia Wargadiredja dan Adi Renaldi melaporkan dari Jakarta, dibantu Ananda Badudu di Bandung, Alfath Asmunda di Banda Aceh, serta Iqbal Lubis di Makassar