Budaya

Relasi Mistis dan Sensual Rumit Antara Warok-Gemblak di Ponorogo

Reyog Ponorogo adalah kesenian sejak akhir masa Majapahit. Tapi yang rumit dijelaskan adalah hubungan pemimpin reyog dengan lelaki tampan yang 'dibeli' untuk jadi asisten pribadinya.

oleh Muhammad Ishomuddin
23 April 2019, 12:20pm

Ilustrasi oleh Yasmin Hutasuhut.

Semasa remaja, Wisnu Hadi Prayitno sempat latihan menari sembari ditonton banyak lelaki dewasa di sekitar kediamannya, Kampung Somoroto, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di antara lelaki itu, ada beberapa warok turut menyaksikan tariannya. Gerakan Wisnu amat luwes kala menyajikan lengger, langgam tari tradisional yang kondang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tatapan lebih dari dua warok, seingat Wisnu, seperti tergoda.

"Mungkin karena saya saat itu menari berlenggak-lenggok laiknya perempuan," kata alumnus Institut Seni Indonesia Surakarta ini. "Jadi warok-warok itu mengira saya bisa dijadikan gemblaknya."

Adegan yang nuansanya mirip, walau tak sama persis, muncul di paruh akhir film Kucumbu Tubuh Indahku garapan sutradara Garin Nugroho yang tayang di bioskop pada April 2019. Juno, penari lengger muda yang jadi karakter utama filmnya, membikin kesengsem warok tanpa nama diperankan aktor Whani Dharmawan. Pandangan warok itu tak kunjung berpaling.

Sang Warok buru-buru mengajak Juno pulang ke rumah, lalu di satu malam memproklamirkan remaja itu sebagai gemblaknya pada khalayak. Keputusan tadi berbuntut panjang, karena sang warok harus bertarung hidup mati menggunakan celurit, menjaga haknya atas Juno. Hubungan Juno dan warok itu, jelas lebih dari sekadar guru-murid.

Juno menyuntikkan tenaga pada warok, bagaikan anak muda kasmaran. Di sisi lain, sang warok membantu Juno menyembuhkan trauma tubuh yang dia simpan sejak kecil. Apakah mereka saling mencintai?

Dari berbagai tradisi lawas yang sanggup bertahan hingga masa modern di Pulau Jawa, relasi unik warok-gemblak hanya bisa kita temukan di Ponorogo. Gabungan mistisisme, seni simbolis, serta spektrum seksualitas misterius. Ketika Indonesia semakin konservatif lima tahun belakangan, citra warok dan gemblak mengalami erosi makna. Praktik ini sering disalahpahami, semata-mata dianggap sebagai homoseksualitas terselubung.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari menjawab dulu dua pertanyaan mendasar. Apa itu warok dan apa pula gemblak?

Wisnu, cucu sesepuh warok kenamaan bernama Mbah Kusni asal Desa Seboto Ponorogo, terbilang narasumber paling kompeten untuk menjelaskan seluk beluk tradisi ini buat pembaca sekalian.

Warok adalah sebutan lelaki asli Ponorogo yang punya sifat ksatria, berbudi pekerti luhur, dan memiliki wibawa tinggi di kalangan masyarakat. Warok tidak bisa dipisahkan dengan kesenian reog (untuk akurasi ejaan, di artikel ini selanjutnya akan konsisten ditulis reyog), karena warok otomatis menjadi pemimpin rombongan kesenian asli Ponorogo tersebut. Warok berasal dari kata 'wewarah' dalam Bahasa Jawa, artinya memberi tuntunan hidup. Mereka juga dikenal sakti mandraguna, karena melakoni "Puasa Perempuan", alias berpantang tidur dengan lawan jenis.

Sebagai gantinya, di mata awam, warok dianggap semakin sakti setelah memelihara banyak remaja lelaki, atau disebut gemblak. Kriteria gemblak biasanya remaja laki-laki di rentang usia 11-15 tahun, berparas ganteng. Mereka dirawat, disekolahkan, diberi uang saku, bahkan dibesarkan oleh Warok selama satu sampai dua tahun, atau bisa lebih lama sesuai perjanjian. Gemblak dipinang menggunakan hewan ternak sapi atau barang berharga lainnya. Mahar itu diberikan ke keluarga Gemblak, yang selanjutnya hidup bersama sang Warok mengikuti kelompok pertunjukan Reyog keliling banyak tempat.

Jadi, apakah hubungan ini melibatkan aktivitas seksual? Lalu apa hubungannya dengan reyog?

Wisnu merasa citra homoseksualitas hubungan warok-gemblak agak berlebihan. Sebutan gemblak menurutnya kurang akurat untuk menggambarkan murid angkat seorang warok. Dia merasa istilah 'jathil' alias penari kuda lebih tepat. Kakek Wisnu sendiri mengaku tidak pernah meniduri murid-murid lelakinya yang mayoritas sangat tampan—ataupun meniduri perempuan.

"Kakek saya zaman dulu punya Jathil banyak," kata lelaki kelahiran 1983 ini pada VICE. "Dalam ilmu Kanuragan syaratnya 'puasa perempuan', cukup itu saja."

Wisnu yang mewarisi ilmu serupa, pernah melanggar pantangan kencan bersama perempuan. Tak serius sebetulnya, sekadar menggenggam tangan sang kekasih. Nyatanya, ketika Wisnu bertanding bela diri dengan lawan seperguruan silat sehari setelah kencan, tangannya memar ketika berhasil memukul wajah lawan. "Aneh sekali," ujarnya.

Meski begitu, Wisnu mengakui banyak sekali gemblak yang menjadi pasangan seksual warok. Itu juga tak bisa ditutup-tutupi. "Tapi itu murni dari dorongan nafsu, bukan karena keharusan ritual agar menjadi semakin sakti."


Tonton dokumenter VICE mengenai kelompok yang menghidupkan lagi tradisi asli lengger lanang di Banyumas:


Menurutnya, hubungang lebih dari sekadar guru-murid itu memfasilitasi warok ataupun gemblak yang memiliki identitas seksual selain cisgender. Teman sepantaran Wisnu ada yang diangkat menjadi warok, dan mengaku ditiduri tuannya. Sedikitnya, beberapa gemblak mengakui mereka pernah menemani warok tidur bersama, atau minimal memeluknya.

"[Tapi] tidak ada oral seks. Apalagi hubungan kelamin," kata Sudirman, lelaki 55 tahun mantan gemblak yang pernah diwawancarai Jawa Pos.

Warok pun tetap menikah, hanya saja tak menggauli istri selama punya gemblak. Malah, perempuan yang jadi istri warok biasanya rajin memasak yang enak-enak, merias remaja lelaki itu, serta memanjakan gemblak sang suami supaya kerasan berlatih menari. Bisa dibilang, keluarga warok terlibat dalam urusan pendidikan dan latihan kesenian gemblak.

Seni pertunjukan reyog adalah akronim 'Rasa Eling Yekti Ora Goroh'. Secara harfiah artinya kemampuan mengingat bakti tanpa berdusta. Banyak pakar menyepakati reyog lahir selama kurun 1482-1486 Masehi. Kesenian ini diciptakan oleh petinggi Kerajaan Mapajahit bernama Ki Ageng Kutu, sebagai kritik simbolis atas kemunduran agama Hindu di Tanah Jawa, akibat ekspansi kerajaan Islam yang lebih muda dari pesisir.

Ki Ageng Kutu keluar dari istana Majapahit, menyepi ke pedalaman Ponorogo, mengembangkan laskar dengan menggelar tari dan pergelaran mistis demi mengembalikan kejayaan Hindu. Kesenian dipilih, agar masyarakat bersimpati pada tujuan Ki Ageng Kutu, tanpa harus langsung dianggap makar terhadap Majapahit. Murid-murid Ki Ageng Kutu ini yang kelak disebut Warok. Seiring waktu, tugas utama Warok memimpin pemain topeng singa barong raksasa yang ikonik itu, serta jathil dari kalangan gemblak, yang menari kuda-kudaan.

Efendi Ari Wibowo, guru berusia 28 tahun asli Ponorogo, merasa relasi warok-gemblak sudah sulit ditemui di kehidupan sehari-hari. Tak ada teman sepantaran atau tetangga desa yang jadi gemblak. "Generasi bapakku masih sering cerita, oh 'si itu kaya, dulu pernah jadi gemblak'," ujarnya. "Yang masih bisa dilakukan sekarang paling mencari bekas gemblak dan warok."

1556022627121-DSC06088
Anggota kesenian reyog bersiap sebelum pentas di Jakarta. Foto oleh Muhammad Ishomuddin

Hingga paruh pertama Abad 20, berbagai tradisi Warok-Gemblak—termasuk seksualitas mereka yang rumit—masih lestari. Sangat biasa menyaksikan warok adu kesaktian, bahkan saling bunuh, demi memperebutkan gemblak yang menjadi primadona karena amat tampan dan berbakat menari untuk meramaikan pentas reyog. "Menyayangi bocah laki-laki itu juga dianggap wajar," kata Wisnu. Tentu konflik tak selalu jadi solusi. Praktik meminjamkan gemblak ke sesama warok juga lazim dilakukan.

Hubungan warok-gemblak, termasuk juga gempita seni reyog, berubah drastis usai tragedi pembantaian simpatisan komunis di seluruh Indonesia pada 1965. Banyak grup reyog dibekukan rezim Orde Baru. Alasannya karena reyog sering diundang mengisi acara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Jawa Timur, organisasi yang dianggap sayap kesenian Partai Komunis Indonesia. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dikomandoi Sukarno juga membina banyak grup reyog. Semuanya dihabisi OrBa.

Kultur reyog dan warok juga semakin berubah setelah Markum Singodimedjo menjabat Bupati Ponorogo selama kurun 1994-2004. "Bupati membuat buku kuning semacam pedoman kesenian reyog. Atribut reyog disimbolisasi sesuai ajaran Islam," kata Efendi. Alhasil, tradisi dan nilai lama reyog berubah.

Kekuasaan simbolis Warok yang sangat dihormati masyarakat ikut tergerus. Warok menyusut perannya jadi semata pemimpin kegiatan kesenian tradisi. Peran sebagai gemblak atau jathil pun banyak yang diganti perempuan tulen.

Dampaknya, warok yang dianggap menguasai ilmu kanuragan makin jarang ditemui. Bramantio Ranggapoda, anak muda asal Ponorogo saat dihubungi VICE, merasa tak pernah menemukan reyog sebagaimana diceritakan leluhurnya. "Sejak lahir di tahun 1995 sampai sekarang, saya sudah enggak pernah melihat pertunjukan Reyog yang pemainnya semuanya laki-laki," ujarnya. "Selalu ada perempuan dalam kelompoknya."

Wisnu sendiri tak jadi warok. Dia memilih jalan hidup berbeda sebagai pegiat kesenian. Tapi dia bertekad melestarikan sifat-sifat positif sosok warok, demi merawat amanat kakeknya.

"[Warok adalah] pemimpin yang menjunjung tinggi harga dirinya, selalu menjadi tuan atas dirinya sendiri, dan saling menghormati."