Iklan
Kultur

Sejarah Singkat Kancah Seni Grafiti di Singapura, Negara dengan Sejuta Larangan

Bagaimana ceritanya seni grafiti bisa berkembang di negara yang hobi banget melarang warga berkreasi di tembok ruang publik?

oleh KRINGE
23 November 2018, 6:15am

Grafiti di Tanjong Katong, dibikin di tembok gedung yang bakal diruntuhkan foto milik Kringe

Kalau kamu memikirkan vandalisme dan grafiti, pasti kamu enggak akan memikirkan Singapura. Sejak awal tahun 90-an, Singapura dikenal sebagai negara yang sangat bersih berkat berbagai macam larangan dan aturan. Makan permen karet saja bisa didenda di sana, apalagi coret-coret tembok?

Lihatlah lebih dalam ke sejarah grafiti di Singapura dan kamu akan tahu bahwa sejumlah kecil pembuat grafiti di Singapura dulu berpraktik secara bebas. Sebelum ada istilah lukisan dinding dan komersialisasi “seni jalanan,” ada satu masa di mana para pemuda Singapura terinspirasi oleh gerakan grafiti di seluruh dunia.

Mereka melihat sekilas melalui majalah-majalah hip-hop dan skateboarding dan memutuskan untuk ikut serta dalam tren tersebut.

Indonesian Writer TUYULOVEME leaves his mark at 369 Tanjong Katong during a recent visit. He is part of the local crew RSCLS. Image credit: KRINGE

Penulis asal Indonesia TUYULOVEME meninggalkan tag di 369 Tanjong Katong pada perkunjungan terakhirnya. Dia merupakan bagian dari kru lokal RSCLS. Image credit: KRINGE.

Mengenai pengalamannya mengecat, SLACSATU, pelopor seni grafiti asal Singapura masih ingat semua detailnya. "Kami punya cat dan mencobanya di papan dari kedai kopi. Lama-lama, kami ngerasa kami perlu tembok beneran, dan pada saat itu kami mulai turun ke kanal untuk mengecat tembok. Kamu enggak perlu punya latar belakang dalam kesenian untuk mencoba grafiti. Asal coba-coba aja enggak ada masalah, kok."

Seiring berkembangnya seni grafiti di Singapura, komunitas-komunitas baru pun bermunculan. Kru-kru seperti ZNC, OAC, PB dan PSCLS didirikan, dan mereka sadar mereka enggak sendirian.

"Dulu itu cara kita membuat teman dan musuh, ya nge-tag di tembok. Kita mengecat bareng, tapi kadang kita juga mengecat di atas karya orang lain. Itu yang memulai perang teritori grafiti pertama di Singapura," kata SLACSATU.

graffiti crew

Studio Blackbook, toko grafiti lokal dengan tembok sendiri, di mana penulis sering berkumpul untuk mengecat dan nongkrong. Sumber foto dari arsip KRINGE.

Tapi dinamika ini enggak bertahan lama karena pihak penegakan hukum mulai melihat perbuatan mereka, yang menimbulkan tindakan keras melawan grafiti. Setelah masa kekisruhan hukum, dihasilkan sebuah persetujuan yang memperbolehkan penulis grafiti untuk mengecat tembok-tembok yang diizinkan—dengan persetujuan ini, para penulis grafiti memiliki tempat untuk mengecat dan seharusnya enggak mempunyai alasan lagi untuk melanggar hukum.

Aturan itu tentu saja menghambat perkembangan komunitas seni grafiti di sana, tapi mau tak mau para pelaku harus berkompromi. SADAR, penulis asal Toronto yang sudah tinggal di Singapura selama beberapa tahun terakhir mengamati meskipun komunitasnya kecil dan dekat dengan satu sama lain, mengecat ulang tembok-tembok yang sama enggak memotivasi atau menantang. "Mengecat tembok tidak memberi pengalaman yang terkait dengan grafiti."

Jika diperhatikan sekilas, karena berbagai aturan yang ada, seni Grafiti di Singapura jadi terasa agak kurang asik, tapi grafiti di Singapura enggak akan pernah hilang dan akan terus jadi sarana pemberontakan.

graffiti

Anniversary pertama ZNC (ZincNiteCrew), 26th July 1999, Buona Vista Canal. Image credit: SLACSATU.

Akhir-akhir ini, kesempatan untuk mengecat bangunan yang akan dihancurkan untuk sementara telah membangkitkan komunitas grafiti, tapi kesempatan seperti ini jarang. Kendati keadaan sulit ini, para seniman grafiti di Singapura bertekad untuk melestarikan sisa-sisa komunitas grafiti lokal.

Graffiti

Satu dari dua tembok legal di Skatepark Somerset. Karya disini biasanya bertahan selama 1-2 minggu, terkadang hanya beberapa hari. Sumber foto dari arsip: KRINGE.

Untuk sementara, mereka memanfaatkan kelebihan Singapura yang bertetangga dengan banyak negara Asia, lalu memanfaatkan penerbangan budget rendah untuk ikut serta dalam kegiatan komunitas grafiti di negara lain.