Iklan
Tabu dan Seks

Serba-Serbi Pengakuan Malam Pertama: Betulan Amatir Atau Sekadar Pura-Pura?

Pernikahan Raisa & Hamish memicu tagar seksis soal malam pertama. Gimana anak muda Indonesia memandang aktivitas seksual setelah menikah? Tiga orang yang sudah menikah berbagi pengalamannya kepada VICE.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja Dan Katyusha Methanisa
06 September 2017, 10:49am

Foto ilustrasi kasur acak-acakan sesudah malam pertama via akun flickr Numinosity

Minggu, akhir pekan lalu, masyarakat Indonesia memperingati Hari Patah Hati Nasional. Pernikahan penyanyi ternama, Raisa Andriana dan aktor sekaligus pembawa acara, Hamish Daud Wyllie digelar hari itu.

Di Indonesia, Raisa dan suaminya kerap digambarkan sebagai epitomi 'pasangan ideal'. Citra Raisa, yang punya karir cemerlang di bidang musik, cerdas, dan kerap dilekatkan dengan standar norma "perempuan ideal" di mata masyarakat Indonesia. Namun, awak redaksi VICE segera eneg saat hashtag #MalamPertamaRaisa bertengger menjadi trending topic di Twitter Indonesia.

Isinya? Memuakkan banget. Coba cermati baik-baik bagaimana perilaku warganet Indonesia memandang Raisa sebagai perempuan yang konon dikagumi dan didambakan. Hashtag ini serempak menjadi kumpulan fantasi seks massal.

Contohnya seperti akun @irwandisep666 yang mencuit begini:

Cuitannya direspons banyak orang. Respon-respon itu mengingatkan kita betapa obyektifikasi perempuan masih lazim banget di Indonesia. Seakan-akan Raisa merupakan smartphone terbaru yang bisa dibuka dari kotak dan diberi review. Jadi perempuan di negara tak ubahnya barang aja gitu.

Obyektifikasi ini segera berkembang menjadi parade seksisme. Ada warganet yang membuat jajak pendapat di twitter menjadikan performa seksual Raisa sebagai tebak-tebakan. Bayangkan ada sekitar 2.395 orang yang berpartisipasi dalam polling twitter tersebut. Cuitan misoginis sampai datang dari sesama perempuan.

Ragam komentar itu bermuara pada satu hal penting: imaji seksis warganet dari pernikahan Raisa-Hamish kemungkinan muncul karena konsep malam pertama di indonesia masih dipandang sakral. Konstruksi keperawanan dan pernikahan dianggap sebagai satu paket tak terpisahkan.

Keperawanan dianggap sebagai simbol kesucian, standar moral baik-buruknya seorang perempuan. Sementara, jika dibandingkan, konstruksi keperjakaan lelaki dianggap sebagai hal yang lebih longgar di masyarakat. Tidak aneh bila beragam headline di media massa kadang masih memasang judul yang mengaitkan keperawanan perempuan sebagai faktor utama perceraian.

Lantas, bagaimana sebetulnya mitos indahnya malam pertama yang kalian bayangkan? Apakah malam pertama sebagai awal dari momentum komitmen saling menghargai dan mencintai? Atau isi otak orang-orang memang memaknainya sebatas kesempatan seks legal? Berikut obrolan VICE Indonesia bersama para narasumber yang sudah menikah dan merasakan malam pertama.

Ragil Silvia, 25, menikah 1 tahun

VICE Indonesia: jauh sebelum nikah, elo punya bayangan gak malam pertama bakal seperti apa?
Ragil Silvia: Bayangan pertama bakal awkward dan sakit, apalagi bugil pertama kali di depan laki laki, dan yes... benar. Sangat awkward. Karena suasana kamar sepi dan makin canggung, akhirnya coba nyalain tv biar ada noise sedikit. Oh iya, satu lagi, karena awkward, lampu harus mati, gorden ditutup karena maluuuuu banget, dan pakai selimut… gerah coy!

Ada wejangan dari orang-orang gak yang elo dapat soal malam pertama?
Dikasih cerita-cerita sih dari teman-teman yang sudah pada nikah katanya bakal sakit banget, dan yes terbukti. Wejangannya adalah, having sex di awal enggak semudah dan enggak senikmat macem di film porno. Jadi, suami jangan memaksakan kehendak saat istrinya sakit, itulah yang gue sampaikan dulu ke suami gue. Saat gue sakit dan perih, suami gue melanin play-nya.

Sampai berapa kali dulu biar enggak malu lagi?
Hmmm... maybe 5 sampe 6 kali dulu, dan baru bisa "goal" masuk semua setelah 8 kali trial.

Elo melakukan persiapan apa saja sebelum "malam pertama"?
Jujur aja... enggak persiapan apa-apa. Kayak shaving pubic hair juga enggak. Karena gue pemalu gitu anaknya.. jadi malu banget buat waxing/shaving ke spa.

Malam pertamanya emang pas malem abis nikahan banget Gil? Enggak capek?
Malam pertamanya persis sepulang resepsi, enggak capek sih karena kan kayak masih foreplay gitu first nightnya. Terus masih belajar juga karena gue dan suami gue sama-sama enggak tahu caranya. Kita sampai nonton video porno dulu karena enggak tahu harus masukinnya ke lubang yang mana.

Buat elo, sebenarnya malam pertama itu "sakral" gak sih? Sesakral apa?
Sakral sih. Karena gue memilih menjaga virginity selama ini ya buat siapa lagi, kalau bukan buat suami. Jadi, ya malam pertama memang benar-benar moment yang wah banget. Waktu pacaran, godaannya tinggi banget loh pengen nyoba. Soalnya waktu gue komitmen memilih mempertahankan virginity, dan belom pernah nyoba, jadinya kan punya wild fantasy gitu, kepengen. Lah udah jadi istri mah, kapan-kapan ajaaa have sex-nya hahaha.

Apa tanggapan elo soal konsep "malam pertama di Indonesia"?
Pikiran orang banyak seakan-akan married ya having sex. Padahal mah ya... enggak gitu jugaaa. Kadang, kalau sudah sayang, bukan nafsu lagi jatuhnya. Misal ada yang pengennya ya menyayangi aja, dalam bentuk lain. Karena kalau menurut gue dan suami, sayang dan cinta bukan berarti harus lewat hubungan intim. Cuma setiap orang kan beda-beda juga pilihannya.

Riani*, 35, sudah menikah 7 tahun

VICE Indonesia: Waktu menikah, kamu ngalamin 'malam pertama' ga?
Riani: Enggak, malah ga ada malam pertama karena terlalu tepar gara-gara after party. Jadi ya [kami] memang sudah melakukan hubungan [seksual] sebelum nikah.

Ada bedanya gak sih, berhubungan ketika udah halal dan saat belum?
Enggak ada bedanya sih. Malah mikir seharusnya kalo bisa, orang melakukan [hubungan seksual] bahkan sebelum halal. Karena ini kan dampaknya jangka panjang ya... Setidaknya ada baiknya test drive dulu. Oh, sebetulnya ada juga sih rasa-rasa, ' Yes, sekarang udh nggak dosa!' Kalo dulu sih masih takut-takut. Tapi sebenernya lebih penting untuk test drive.

Ekspektasi kamu tentang seks tuh gimana sih sebelum pertama kali berhubungan badan?
Seks itu agak overrated menurutku. Yang membuat itu menjadi overrated adalah adanya harapan-harapan bahwa ini adalah pengalaman yang benar-benar terbaik dan terenak (biasanya gitu kan disebutnya?!). Ditambah embel-embel bahwa ini dilarang karena tidak diperbolehkan agama, dll. Orang-orang jadi tambah penasaran dan berpikir, 'Wah, berarti oke banget ya!'. Dan ternyata pas kejadian, it's either awkward atau malah aneh, karena kalau belum pernah melakukan, ya pasti belum terbiasa dengan cara-caranya. Well, seks itu oke lah, maksudnya ada yang oke banget ada yang membosankan banget. Tapi pengalaman pertama sebenernya kebanyakan awkward, bahkan buat cowok. Jadi, iya, seks pertama kali is overrated. Perlu membiasakan diri dan mengenal diri sendiri dulu, baru bisa menikmati.

Banyak juga yang bilang suami harus memuaskan istri atau sebaliknya. Menurutmu gimana tuh tentang hal itu?
Nah, kalo tentang ini pandangan setiap orang berbeda-beda. Kalo bicara agama pun ada yang bilang istri harus memuaskan suami, ada juga yang bilang harus equal. Kalo yang ideal menurutku ya harus keduanya dong. Kan kalo nikah harus membahagiakan satu sama lain. Yang penting dikomunikasikan aja. Untung banget kita hidup di zaman modern (internet), jadi udah banyak artikel-artikel yang membahas soal kesetaraan, juga artikel-artikel mengenai hubungan seksual. Aku sering baca-baca artikel itu, yang tentunya berpengaruh karena aku jadi tau hak dan kewajiban. Selain itu, aku suka baca pengalaman orang-orang juga di forum sebagai bahan pembanding.

Kan ada tuh, orang yang mempersiapkan diri untuk 'malam pertama', misalnya ikut treatment semacam ratus. Menurut kamu sebagai orang yang udah pernah berhubungan seksual sebelum menikah, penting ga sih sebenernya?
Sejujurnya nggak. Soalnya secara ilmiah juga ga ada bukti bahwa itu bisa membuat organ intim kita jadi lebih baik. Yang paling penting sebenernya jaga kesehatan vagina, tes kesehatan untuk kedua calon seperti hepatitis dan HIV. Toh secara anatomi juga vagina ya gitu-gitu aja, yang penting dijaga sehat agar tidak ada aroma yang ga enak. Masalah rapet atau nggak, ibu-ibu yang udah melahirkan juga pada balik lagi kok. Ya memang anatominya seperti itu kan.

If you could do it differently, would you still have sex before marriage?
Yes, of course, but most importantly I would prefer a deeper sexual education/understanding for my younger self, like how virginity is a myth, etc. Kita kan banyak banget didoktrin agama dan budaya. Gapapa juga kali ya, malah bagus untuk moral. Tapi pengetahuan soal seks dan tubuh sendiri minim banget. Enak itu kan sebenernya seberapa jauh kita tahu apa yang kita mau, sampai akhirnya baru bisa puas. Bukan asal jleb terus langsung enak, lah! Tapi karena mitosnya kayak gitu, akhirnya banyak yang ga tau.

Irwansyah*, 27, menikah 1 tahun

Sebelum menikah adakah bayangan soal malam pertama seperti apa? Apakah sesuai dengan ekspektasi?
Irwanysah: Enggak sesuai ekspektasi. Waktu kecil gue ngebayanginnya bukan malam pertama, yang gue tahu itu bulan madu. Tahunya ya jalan-jalan aja. Seiring bertambahnya umur sih ternyata hal yang gue bayangkan berubah, kebayang ada sex juga. Sebelum nikah, gue memang sexually active, cuma yang namanya merawanin perempuan di malam pertama itu gue cuma mengalaminya sekali, pas gue nikah itu.

Pas habis resepsi nikahan, apa yang dilakukan pas malam pertama?
Tadinya hari itu kita enggak mau seks karena kami sadar masih sama-sama capek. Namun, karena keisengan istri gue yang belum pernah berhubungan seksual, makanya langsung kita coba [seks] malam itu juga. Ternyata endingnya tidak baik, karena ternyata dia ngerasa, 'sakit juga yah'.

Dari perspektif elo sebagai cowok, adakah bedanya sebelum dan setelah menikah?
Ada sih, misalnya ketika gue melakukan aktivitas seks dengan perempuan yang sudah aktif seksual juga dan yang belum pernah [melakukan hubungan seks]. Kalau sama perempuan yang sudah aktif secara seksual, yang gue alamin sih lebih enjoy dan senang sama senang. Bedanya sama pas gue nikah sama istri gue yang belum pernah berhubungan seks, bagi dia jadi sesuatu yang awalnya 'aneh'. Pas kita ngelakuin itu beda dari bayangan dia, karena istri gue kan pas kita nikah belum pernah berhubungan seks. Sedangkan gue yang sudah ya enak-enak aja.

Apa elo sendiri merasakan ada kesenangan berbeda ketika berhubungan seksual sebelum dan setelah menikah?
Gue biasa saja sih. Bedanya cuma status karena ketika sama istri gue ini, dia adalah pasangan gue yang sah, dan sebelumnya gue enggak pernah sama partner yang perawan. Jadi baru sama istri gue doang gue have sex sama perawan, feeling gue underrated gitu. Karena yang gue rasain, gue harus lebih menghargai istri gue, terutama kalau dia ngerasa sakit. Hal itu berlangsung selama hampir satu minggu, dimana gue berusaha melancarkan. Karena istri gue ngerasa 'oh ternyata sakit ya'. Jadi gue lebih selow aja.

Jadinya enggak ada tekanan gitu?
Enggak ada pressure jadinya. Terkesan sama-sama enggak tahu apa-apa, kayak belajar.

Sebelum nikah, bilang sama calon istri untuk jujur pernah atau tidaknya berhubungan seks sebelum nikah?
Enggak sih, gue enggak bilang. Dia tahunya kita sama-sama belum pernah berhubungan seks aja.

Menurut lo malam pertama itu sakral atau cuma formalitas aja?
Bisa jadi sakral mungkin, bagi orang yang memang belum pernah melakukan hubungan seksual. Kenyataannya karena gue sudah pernah, jadi gue melihat hal itu formalitas saja sih.

Apa pendapat soal masyarakat di Indonesia masih cenderung mengagung-agungkan malam pertama?
Bagi gue sih sah-sah aja kalau menganggap hal tersebut sakral. Kalau dari segi agama Islam yang gue tahu. Apalagi bagi orang yang belum pernah berhubungan seksual jadi ada excitement tersendiri.

Kita tahu bahwa lelaki lebih diuntungkan jika terkait judgement masyarakat soal seksualitas dibandingkan dengan perempuan. Apa lo familiar dengan anggapan, bahwa baik atau enggaknya perempuan bisa diukur dari dia perawan atau enggak?
Pandangan seperti itu gue dapat waktu zaman gue SMA. Makin ke sini tentunya pandangan gue yang begitu jauh berubah. Istilahnya yang namanya seks kan bukan soal cowok maksa cewek harus mau, atau soal cewek kepengen ngewe terus dia dianggap nakal. Kan antara cewek sama cowok juga harus ada consent. Ya enggak bisa lah [keperawanan] dijadiin standar.

Ada anggapan seksis masyarakat yang bilang 'senakal apapun cowok, dia akan cari istri yang 'baik-baik' dalam konteks ini masih 'perawan'. Apa pendapat elo soal pemikiran begitu?
Kalau gue sendiri pandangan yang demikian sudah luntur sih. Kalau gue sih nyari yang secara isi otaknya dan attitude-nya sesuai dengan gue aja. Enggak melihat apakah dia masih perawan atau enggak.

*nama narasumber diubah atas permintaan mereka untuk melindungi privasi.

Tagged:
indonesia
Jakarta
seksisme
Norma
Selebritas
Seksualitas
Pendidikan Seks
Misoginis
Sosiologi
Moralitas
Raisa
Hamish Daud