'The Walking Dead' Attraction 'Don't Open, Dead Inside.' Foto oleh Michael Boardman/WireImage

Zombie Tuh Sebenarnya Baik Lho

Berdasarkan buku ‘Living with the Living Dead: The Wisdom of the Zombie Apocalypse’, mayat hidup sebetulnya ingin membantu manusia lho. Kok bisa ya?

|
Jun 21 2017, 7:19pagi

'The Walking Dead' Attraction 'Don't Open, Dead Inside.' Foto oleh Michael Boardman/WireImage

Greg Garett adalah salah satu orang terakhir yang kita bayangkan menulis buku tentang zombie. Dia adalah penulis budaya dan agama yang sehari-harinya menapaki gunung dan menghadiri "misa bagus di sebuah gereja lalu mengambil jamuan suci." Nah, buku barunya, Living with the Living Dead: The Wisdom of the Zombie Apocalypse yang diterbitkan Oxford University Press awal bulan ini, berbeda jauh dari buku-buku panduan lainnya soal zombie yang memenuhi pasar selama 20 tahun terakhir. Bahkan, mengamati ledakan tersebut, dan menelaah maknanya bagi budaya Amerika kontemporer adalah bagian dari misi buku ini.

Dalam Living with the Living Dead, Garrett membedah 28 Days Later, The Walking Dead, dan film horor George Romero, Game of Thrones dan Shaun of the Dead seakan-akan mereka adalah fabel dengan pesan moral—yang menurut Garrett, memang begitu. "Menelaah karya-karya C.S. Lewis, misalnya, adalah mengetahui bagaimana cerita fantasi menjabarkan pertanyaan-pertanyaan terkait etika. Living with the Living Dead menelaah mayat-mayat hidup ini." Garrett ngobrol dengan saya lewat telepon dari Paris, di mana dia mengikuti program residensi teologi di American Cathedral.

VICE: Kamu menulis dalam buku soal bagaimana tradisi-tradisi artistik seperti memento mori dan danse macabre hadir untuk memproses realita kematian.
Greg Garrett: Kalau kamu memandang bongkahan-bongkahan kayu dan lukisan-lukisan fresco, yang biasanya terjadi adalah Dewa Kematian menghampiri dengan senjata sabit besar dan merenggut nyawa siapapun, termasuk raja, paus, atau petani di ladang. Jadi saya mikirin soal ini dari segi kebencian terhadap kematian. Kematian hadir dalam seni dan budaya di mana pun manusia menghadapi titik stres, bisa saja dalam bentuk Black Death atau serangan teror 9/11.

Kok bisa ya ada zombie sebanyak itu?

Dari satu sisi, zombie-zombie mewakili tingkatan ancaman seperti itu. Hal-hal yang membuat kita tak bisa tidur pada malam hari—pengungsi, teroris, virus Zika, orang-orang di partai politik seberang. Tapi zombie juga memberi kita semacam agency karena mereka monster yang kemungkinan bisa kita kalahkan: Kita bisa kelahi satu lawan satu dengan tongkat baseball dan bertahan hidup. Saya juga mikirin soal sentimen anti-imigran yang kita lihat di Barat dan bagaimana ini cocok dengan monster zombie. Zombie bisa ada di berbagai platform budaya. Kalau kekhawatiran saya adalah X dan kawan-kawan konservatif saya khawatir soal Y, kita berdua sama-sama khawatir, dan butuh sesuatu yang masih bisa bertahan secara metaforis. Kita bisa punya zombie Republican, zombie Demokrat, zombie sosialis. Semua orang bisa mendapatkan sesuatu.

Dan ada pula ide bahwa kematian yang sebenarnya kurang 'menyedihkan' ketimbang hidup merana, kita banting tulang hingga tak punya lagi kedekatan dengan orang-orang lain.
Dawn of the Dead dan Shaun of the Dead mengingatkan kita bahwa mungkin sekali kita terperangkap dalam hidup yang repetitif di mana tak ada bedanya antara manusia dengan mayat hidup. Dalam Shaun, hal ini ditunjukkan supaya penonton tertawa karena para karakternya tidak menyadari sedang berurusan dengan zombie. Ya bagaimana, semuanya terlihat familiar: remaja berjoged sambil mendengarkan musik dari Walkman, perempuan yang kerja sebagai kasir supermarket, mereka semua mengerjakan hal-hal repetitif. Salah satu pelajaran spiritual yang bisa kita ambil dari para zombie adalah mereka mengingatkan kita untuk menghidupi momen yang ada. Jika kita ingin menjadi lebih baik daripada mayat hidup, ada hal-hal yang perlu kita ubah.

"Zombie-zombie merefleksikan rasa isolasi, karena mereka diasingkan dari dunia di sekitar mereka. Hal ini semacam pengingat atas rasa kesepian akut yang akan kita alami jika kita gagal menjalin hubungan atau komunikasi."

Lantas bagaimana dengan zombie dan unit keluarga? Dalam The Road karya Cormac McCarthy dan tiruan-tiruannya, ujian bagi keluarga adalah bertahan, yang bisa terkesan konserfatif, reaksioner ala " Morning in America ", dan ide bahwa nilai-nilai tradisional keluarga adalah benteng dari kekacauan.
Saya amat tertarik dengan ide komunitas sebagaimana digambarkan dalam ide bahwa kita diciptakan lebih dari sekadar bertahan hidup dari zombie. Keluarga akan membuat kita terus hidup, tapi yang kita temukan dalam The Walking Dead, misalnya, adalah orang-orang bertingkah paling baik ketika mereka menyadari bukan hanya bagaimana orang lain bisa membantu kita bertahan hidup tapi juga berkembang.

Apakah ketakutan kita berhubungan dengan orang lain yang kemudian sebagiannya mewujud dalam kisah-kisah zombie seperti itu?
Secara teori, kita terhubung dengan banyak sekali cara dengan manusia lain. Tapi ketika kita melihat ke sekeliling, orang-orang terlihat lebih terputus dan terisolasi dari sebelumnya. Zombie-zombie merefleksikan hal tersebut karena mereka diasingkan dari dunia di sekitar mereka, sebuah pengingat atas rasa kesepian akut yang bisa kita alami jika kita gagal berupaya menjalin hubungan.

Sebagai teolog, kamu pasti tertarik dengan perbedaan di antara kebangkitan (resurrection) dan penghidupan kembali (reanimation).
Ya, dan perbedaan antara Jon Snow, yang bisa kembali sesuai dengan tujuan hidupnya, dan White Walkers. Keimanan Kristiani memahami kebangkitan Yesus sebagai semacam cosmic reboot. Dalam lingkaran kosmik pembusukan, Yesus menawarkan pemahaman baru soal eksistensi, di mana kematian tak lagi berkuasa atas segalanya. Namun kita enggak perlu jadi orang religius untuk mau hidup di dunia di mana harapan lebih kuat dari kesedihan. Kita melihat ini dalam film-film George Romero di mana kemanusiaan hampir kelar. Tapi di cerita lain, seperti Game of Thrones, kematian adalah cara lain menuju hidup baru.

Bagaimana dengan risiko hidup dalam pola pikir apokalips? Sepertinya kita menuju ke arah sana.

Kita harus menyeimbangkan hal itu dengan kesadaran bahwa apapun ancaman yang kita hadapi, kita sebagai spesies mungkin akan bisa melaluinya, dan planet ini akan bertahan. Ini adalah langkah-langkah yang perlu diambil supaya orang lain bisa bertahan juga. Itulah sebabnya saya pikir kita perlu bersentuhan dengan sisi kritis kita dan melihat kisah-kisah tentang sekelompok orang yang kemungkinan sedang berada di ujung peradaban. Bagaimana saya hidup lebih baik, yang tidak menghancurkan planet separah itu. Dan apa saja langkah-langkah yang langsung bisa saya ambil? Bagaimana saya bisa mengubah praktik-praktik ini? Apa saja hal yang saya butuhkan untuk hidup? Kalau kita berpikir tentang masa kini berkat kisah-kisah "akhir zaman" berarti ini baik. Sementara itu, kita masih ksulitan mencoba melakukannya dengan baik.

Foto dimuat seizin Oxford University Press

Bagaimana caranya supaya kita tak ikut-ikutan menjadi zombie—atau lebih parah, penyintas rezim militer yang telah menjadi monster atas nama keteraturan?
Kisah-kisah ini menawarkan pembacaan yang progresif. Salah satu hal yang membuat apokalips zombie sekuat narasi pasca 9/11, adalah pertanyaan "Apa yang kamu rela lakukan untuk bertahan hidup?" dan "Apa yang kamu rela lakukan untuk melindungi hal-hal yang kamu cintai?" Ternyata jawabannya adalah hal-hal paling buruk. Dan itulah realita kita saat ini, di mana kita memutuskan meluruskan impuls preman untuk melindungi negara kita. Zombie apokalips bertanya, "Apakah ini sepadan? Mungkinkah hal-hal yang kita lakukan untuk bertahan hidup membuat hidup kita tak sepadan lagi, karena kita menemukan bahwa kita bukan lagi manusia dengan etika dan welas asih?" Itulah mengapa serial-serial seperti The Walking Dead amat pervasif, karena mengizinkan kita mempertanyakan, di AS setidaknya, yang tak bisa kita tanyakan di era awal perang teror.

Terakhir, apa sih menurutmu makna dari kisah-kisah zombie untuk pembaca modern?

Kita perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan soal konsumsi budaya seperti akuisisi dan konsummsi. Hal ini sama sekali tak menggambarkan kita sebagai manusia yang lebih baik atau pasangan yang lebih manis. Yang ditawarkan serial ini adalah, menurut Robert Kirkman [pencetus Walking Dead], adalah membayangkan sebuah dunia di mana si mayat bisa ngomong, dan kita bisa belajar untuk hidup dengan sesungguhnya untuk kali pertama. Kita harus mempertanyakan hal-hal yang kita kira penting karena hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini amat burulk. Kalau kita mikirin soal hal yang benar-benar penting dalam hidup, kita kembali ke pemikiran Thoreau dan Walden Pond. Ternyata yang penting amat berbeda dari apa yang didikte budaya kita, dan itulah hal-hal yang seharusnya menjadi tujuan kita hidup. Ini adalah tempat di mana ada irisan antara kepercayaan atau iman dengan para sekular dan zombie.

Living with the Living Dead: The Wisdom of the Zombie Apocalypse oleh Greg Garrett sudah tersedia di toko buku online.

More VICE
VICE Channels