Iklan
Terorisme

Benarkah Kampus Jadi Ladang Subur Radikalisasi?

Badan Intelijen Negara menyebut 39 persen mahasiswa Indonesia terpapar radikalisme. Sebanyak 15 kampus masuk radar pantauan gerakan radikal. Masalahnya, penilaian para pengamat teroris tak mendukung klaim itu.

oleh Adi Renaldi
04 September 2018, 7:51am

Pemudi Nahdlatul Ulama ikut dalam aksi membela negara melawan terorisme, radikalisme, dan narkoba di Jakarta, Januari 2016. Fotografer: Beawiharta/Reuters

Suasana komplek Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (Unri) mencekam Sabtu siang di 2 Juni lalu. Dalam hitungan detik puluhan anggota Brimob dari Polda Riau merangsek masuk ke gedung gelanggang mahasiswa. Bangunan berlantai dua dengan dominasi warna oranye tersebut tengah ramai oleh mahasiswa yang mengisi waktu liburnya dengan nongkrong di kampus. Kendaraan lapis baja barracuda, Gegana, dan Inafis bersiaga di pelataran. Tak lama berselang, pasukan Brimob berseragam hitam tersebut menenteng satu bungkusan plastik besar berwarna merah serta tas punggung hitam. Tiga orang mahasiswa dengan balaclava menutupi wajahnya, yang belakangan diketahui sebagai alumni Unri, diamankan oleh aparat.

Salah satu dari tiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Nur Zamzam alias Zega, 33 tahun. Sudah dua minggu belakangan polisi melakukan pengintaian terhadap dirinya. Alasan utamanya, Zamzam disinyalir merakit bom di lingkungan kampus. Benar saja, dalam penggerebekan tersebut polisi menyita empat buah bom aseton peroksida (TATP) siap ledak; bahan pembuatan bom seperti sulfur, kalium nitrat (pupuk KNO3), amonium sulfat, potasium nitrat; beberapa granat tangan rakitan; dua busur dan delapan anak panah; satu senapan angin; serta sebuah buku jihad berjudul ‘Jalan Rahasia.’ Daya ledak bom berjuluk Mother of Satan rakitan Zamzam disinyalir cukup tinggi, setara dengan serangan bom gereja Surabaya lalu.

Zamzam adalah mahasiswa angkatan 2005 dan lulus pada 2011. Ia bekerja sebagai kontraktor dan sering menginap di markas mahasiswa pecinta alam (mapala), meski rumahnya juga sama-sama berada di Pekanbaru. Alasannya meracik bom di kampus karena dirasa aman dari pengintaian aparat kepolisian. Suatu keyakinan yang terbukti salah.

Syahrul Mubarak rekan satu angkatan Zamzam selama kuliah menyadari perubahan kawannya itu setahun belakangan. Selama kuliah Syahrul dan Zamzam aktif berkegiatan di Mapala kampus. Zamzam yang dikenalnya dulu adalah seorang yang bebas, mudah bergaul, dan periang. Sebelum ditangkap, Syahrul menyadari perubahan drastis pada Zamzam dalam hal agama. Sehari-harinya Zamzam mengisi waktu luangnya dengan memanah di belakang kampus. Syahrul lantas menjulukinya ‘preman mau insaf.’

“Tiba-tiba dia ngomong soal pengin berjihad, membuat bom dan keinginan ke Suriah,” kenang Syahrul sebagaimana ditulis oleh Jakarta Post. “Kami yang sering nongkrong bersama tentu saja menertawakannya. Dia bukan sosok yang taat agama. Dia bahkan tidak salat lima waktu. Kalau ada kawan-kawannya mabuk-mabukan, dia pasti bakalan ikut serta.”

Syahrul tak tahu menahu dari mana perubahan itu berasal. Saat pihak kepolisian melakukan penyelidikan diketahui Zamzam tertarik dengan perjuangan rakyat Palestina melawan Israel serta kemunculan ISIS di Suriah. Dari situ ketertarikannya dengan dunia jihad kekerasan muncul. Ia memutuskan belajar dari internet soal ISIS, penggunaan senjata, teknik membuat bom, serta membangun jaringan dengan para militan lain lewat aplikasi pesan Telegram.

Bahkan, kata Syahrul, beberapa waktu sebelumnya Zamzam membuat grup di aplikasi Whatsapp bernama “Belajar dengan Membaca” dengan deskripsi “Rujuklah dengan Al-Haqq (kebenaran)” dan memasukkan teman-teman kampusnya ke dalam grup secara sepihak. Rekan-rekannya kabur satu per satu dari grup tanpa dikomando.

“Kami sudah memprediksi, tinggal menunggu waktu saja Densus 88 datang dan menangkap Zamzam,” kata Syahrul kepada Riau Online.

Dari keterangan aparat, Zamzam belajar membuat bom dari internet dan juga informasi teman-temannya yang ia kenal lewat Telegram. Ia diketahui berafiliasi dengan jaringan teroris penyerang Mapolda Riau yang melakukan penyerangan Mei lalu. Jejaring itu dipimpin oleh Mursalim alias Pak Ngah. Zamzam telah dijadikan tersangka, sementara dua rekannya hanya diperiksa dengan status sebagai saksi karena tidak memiliki kaitan dengan jaringan teror maupun proses pembuatan bom.

Meski penangkapan Zamzam dilakukan di tengah lingkungan kampus, namun agaknya terlalu dini jika mengatakan bahwa kampus telah menjadi lahan radikalisasi.

Sesaat setelah penemuan bom di kampus Unri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis hasil survei bahwa 39 persen mahasiswa di 15 provinsi terindikasi tertarik dengan paham radikal. Lebih lanjut, BNPT juga mengatakan bahwa tujuh universitas seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya.

Berdasarkan temuan tersebut, kalangan akademisi dan civitas kampus sepakat untuk bekerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan BNPT untuk mengambil langkah yang diperlukan. Salah satu langkah BNPT adalah membuat seminar kontra-radikalisasi termasuk mengawasi masa orientasi mahasiswa baru (Ospek).

Para pengamat dan ahli buru-buru mempertanyakan metodologi penelitian dari BNPT itu, namun lembaga penanggulangan terorisme yang berdiri pada 2010 tersebut menolak membeberkannya dengan alasan ada data yang tidak bisa dirilis ke publik.

Menanggapi temuan BNPT pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan bahwa dalam penelitiannya, justru mahasiswa tidak memiliki minat pada ideologi radikal yang mengarah pada kekerasan atau terorisme. Menurutnya jika ada benih radikalisme di kampus, itu hanyalah satu dari cara pandang kritis mahasiswa dalam menyikapi dinamika politik. Ia mencontohkan bahwa ketika Hizbut Tahrir Indonesia populer di kalangan mahasiswa, itu bukan berarti akan mengarah pada terorisme.

“Saya tidak melihat mahasiswa suka terorisme,” kata Al Chaidar. “Misalnya banyak mahasiswa yang dulu ikut mendukung ide khilafah gaya HTI, tapi mereka tetap anti terorisme. Radikalisme di kalangan mahasiswa itu hanya sekadar fanatisme.”

Al Chaidar mengaku sulit untuk mengukur radikalisasi terutama di lingkungan kampus yang notabene memiliki pemikiran terbuka. Dalam pengamatan Al Chaidar sepanjang kurun 2002-2018 hanya ada sedikit mahasiswa aktif yang terbukti bergabung dalam kelompok teror di antaranya adalah mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar yang bergabung dengan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan almarhum Santoso.

Zamzam disinyalir terpapar radikalisme di luar kampus. Ketika dirinya banyak menghabiskan waktu di markas mapala, rekan-rekannya justru tidak menunjukkan ketertarikan terhadap pandangan ekstremnya.

Pembingkaian media saat terjadi aksi teror selalu mengaitkan pelakunya dengan almamater mereka. Dari penelusuran Tirto.id, sejak 2009 setidaknya ada 17 pelaku terorisme yang dikaitkan dengan riwayat pendidikannya. Sosok Bahrun Naim yang kerap dikabarkan tewas di Suriah oleh media dikaitkan dengan latar belakang kampusnya di fakultas Ilmu Komputer Universitas Sebelas Maret, Solo, di mana ia digambarkan sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi namun tak terlalu menyentuh masalah agama.

Sementara Bahrumsyah, pemimpin faksi pasukan ISIS asal Indonesia Katibah Nusantara di Suriah yang dikonfirmasi tewas Maret 2017, dikaitkan dengan kegiatannya di lembaga dakwah kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat. Bahkan riwayat pendidikan kampus salah satu otak pelaku bom gereja Surabaya Dita Oepriarto di Institut Teknologi Sepuluh November dikorek oleh media. Padahal relevansi riwayat pendidikan dengan rangkaian aksi teror para pelaku tersebut sebenarnya nihil. Faktanya, para pelaku teror justru tidak menjamah ideologi ekstrem semasa bangku kuliah.


Simak dokumenter VICE yang mengangkat cerita sekolah-sekolah yang menderadikalisasi anak-anak terpidana teroris

Sosiolog dan pengamat radikalisme Universitas Gadjah Mada Najib Azca mengatakan bahwa saat ini belum ada penelitian mendalam untuk mengukur radikalisme di kampus. Namun ia mengatakan bahwa indikasi radikalisme yang mengarah pada terorisme amatlah kecil.

“Mungkin kalau yang dalam kategori radikalisme diskursif, berpikir radikal, memberi dukungan secara langsung atau tidak langsung terhadap perilaku kekerasan, mungkin ada lah. Termasuk mungkin ada juga gejala-gejala intoleransi,” kata Najib. “Namun yang mengarah ke terorisme sangat kecil kemungkinannya.”

Mahasiswa Fisip Universitas Brawijaya angkatan 2013 Erryan Hadisto mengatakan bahwa meski kampusnya masuk dalam ‘daftar radikalisme’ BNPT, namun sepanjang lima tahun masa studinya ia tak pernah menemukan benih-benih intoleransi di kampus. Malahan suasananya kondusif untuk bertukar pikiran.

“Dosen dan teman-teman saya sangat terbuka pikirannya,” kata Erryan yang menulis skripsi tentang film Jagal. “Mungkin saya yang kurang peka atau bagaimana, tapi belum pernah ada intoleransi atau radikalisme kekerasan di kampus saya.”